Cerita Telur Burung dan Pak Tani baik hati

Cerita Pak Tani Sederhana dan baik hati - Di suatu desa di lereng bukit yang tampak tertutup salju, Terlihat dari jauh ada sebuah gubuk bambu sederhana yang tampak di beberapa bagian dinding anyaman bambu sudah bolong-bolong termakan usia. Disanalah ada sosok petani tua yang hidup sebatag kara.

Pak tani yang tampak masih bugar berjalan mendekati pintu rumahnya dan ingin menghirup segarnya udara di pagi hari, namun dia terkejut melihat di depan ruman ada sebutir telur yang masih utuh tergeletak diantara gundukan batu di tanah yang bersalju.

cerita pak tani baik hati dan si burung

Dipungutnya telur burung itu dan diletakkan di dalam rumah, Pak tani Takut terjadi apa-apa dengan telur itu karena banyak binatang pemakan telur yang berkeliaran di dekat rumah. Pak tani berfikir bahwa si burung yang merupakan induk telur tidak sengaja menjatuhkannya ketika terbang atau apapun itu sebabnya.

Ditaruhnya si telur ke dalam sebuah kardus bersih dengan diberi bantalan kain seadanya serta didekatkan dengan perapian agar hangat. Pak tani ingin telur tersebut menetas dan suatau hari melepaskan si burung kecil ke alam bebas agar bertemu induknya.

Hari demi hari pak tani menanti telur tersebut untuk segera pecah berganti dengan burung kecil yang lucu. Pergi pagi untuk bercocok tanam dan pulang siang untuk istirahat dirumah dan sesekali juga melihat keadaan si telur burung apakah masih aman atau sudah menetas. setelah menengok keadaan telur kecil tersebut pak tani bergegas lagi menuju ke ladangnnya sampai hari menjelang malam.

Dilihatnya telur tersebut yang sudah saatnya cangkang terpecah oleh paruh burung kecil di dalamnya. Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu terjadi, seekor burung kecil keluar dari cangkang telur dan berhasil lahir ke dunia dengan selamat tanpa bantuan sang induk, hanya pak tanilah yang selama ini merawatnya dengan sangat baik dan sabar.

Hari demi hari Si burung kecil berubah menjadi seekor burung yang canting dan sudah lincah terbang kesana kemari. Saking jinaknya, setiap pak tani pergi berkebun si burung selalu mengikutinya.

Pada suatu hari, Pak tani berfikir bahwa kasihan kalau burung tersebut tetap bersamanya dan tidak bersama ibunya kembali, akhirnya dilepaskannya si burung cantik tersebut dengan disertai rasa berat hati dan tetesan air mata pak tani. Si burung terbang tinggi meninggalkan pak tani sendirian juga dengan sangat sedih.

Pada suatu ketika pak tani Jatuh sakit, uangnya habis untuk membeli makanan, tumbuhan yang ditanamnya juga sudah ludes terjual sebelum masa panen tiba. Namun tiba-tiba si burung yang dulunya pernah diselamatkan dan dipelihara oleh pak tani muncul tanpa sepengetahuan petani tersebut. Ketika pak tani tertidur si burung memberinya pil untuk kesehatan pak tani. Ketika terbangun petani tersebut heran, siapakah yang memberinya obat ini ?

Suatu hari lagi, Si burung meletakkan sekantong benih tanaman yang dibawa oleh paruhnya yang sudah tumbuh kuat, disebarkanlah benih benih tersebut di ladan pak tani dan aneh bin ajaib, keesokan harinya benih yang tersebar sudha tumbuh menjadi pohon besar lengkap dengan berbagai macam hasil buah-buahan, ada tumbuhan mangga, aple, pepaya, dan lain sebagainya yang siap untuk dijual dan dikonsumsi oleh pak tani.

Badan petani itu sudah segar kembali dan siap memanen sert amelanjutkan pekerjaan rutinnya setiap hari tanpa adda keluh kesah dan penuh rasa sabar walau hidup sendirian. Itulah hasil dari kebaikan hati serta iklas kepada sesama yang akhirnya akan mendapat ganjaran di kemudian hari tanpa disangka-sangka.

Kisah Rajawali yang cerdik dan Pintar

ini cerita tentang rajawali yang cerdas dan cerdik. pada suatu hari yang panas menyengat, ada seekor rajawali besar yang sangat haus dan ingin minum untuk melepas dahaga di hari yang panas. Ada Sungai namun sangat jauh dan tentunya sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk sekedar minum. rajawali yang terkenal cerdik itupun tidak melihat kolam air di mana pun. dia terbang berputar-putar sesekali meoleh ke belakang untuk mencari sumber air. Akhirnya ia melihat sebuah gentong yang biasa diletakkan di depan rumah untuk menampung air. Rajawali terbang turun ke gentong itu. Di sana rajawali yang sudah kehausan itupun melihat ada sedikit air di dasar gentong. Si Rajawali lalu memasukkan kepalanya ke dalam gentong akan tetapi ia tidak dapat menggapai air itu. Ia kemudian memanjat ke atas gentong namun lagi-lagi paruhnya tidak sedikitpun menyentuh air tersebut.

kisah rajawali yang cerdik dan pandai

Karena terkenal cerdik, rajawali itupun memutar otaknya untuk mencari jalan keluar agar segera mendapatkan air. Rajawali itupun kemudian terbang tinggi dan turun menuju ke gentong dengan kecepatan penuh untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi gentong itu amat kuat. lagi-lagi Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar, lalu terbang kearah gentong dengan kecepatan tinggi pula, kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya dengan menggebrak gentong tersebut, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi yang terjadi, gentong itu terlalu kokoh untuk ukuran rajawali. 

Karena ingin mendapatkan air secepatnya, Rajawali itu duduk termenung di sarangnya dan berfikir bagaimana cara memecahkan dan mengambil air dari gentong tersebut dengan mudah. Ia berpikir terus menerus dan memikirkan segala cara, Ia tidak mau mati karena kehausan, dia pantang menyerah. Rajawali kemudian melihat banyak batu-batu kecil di tanah dan tiba-tiba Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam gentong. Ia memasukkan batu secara terus menerus ke dalam gentong sampai penuh dengan batu. Apa yang terjadi ? ternyata Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang cerdik dan pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Ternyata benar kata Pepatah bahwa “ Jika ada kemauan pasti ada jalan keluar untuk segala kesulitan. “ Rajawali cerdik itupun telah membuktikannya.

Kisah Pengembara berebut Bayangan Keledai

Dongeng Kisah pengembara berebut bayangan keledai Suatu hari ada Seorang pengembara dari negeri antah brantah, dimana dia menyewa seekor keledai untuk membawanya ke tempat yang jauh untuk memulai perjalanannya. tidak lupa si Pemilik keledai itu ternyata juga ikut pergi beserta pengembara itu, berjalan di sampingnya bertugas menuntun sang Keledai dan menunjukkan jalan.

Jalanan yang mereka tuju adalah jalan yang tandus di mana tidak ada sebatang pohon pun yang tumbuh dan bisa hidup segar disana, di sepanjang jalan yang kering kerontang. Karena matahari bersinar sangat terik, sang pengembara dan pemilik keledai itu akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak dan beristirahat, dan karena tidak ada tempat untuk berteduh dapat ditemukan di tempat itu, pengembara itu lalu duduk di bawah bayang-bayang sang Keledai.

Kisah Pengembara berebut Bayangan Keledai

karena panasnya suhu udara maka membuat si pemilik keledai ingin segera berteduh untuk menghilangkan rasa hausnya sekaligus beristirahat, sehingga pemilik keledai tersebut juga berharap untuk bisa beristirahat di bawah naungan bayangan sang Keledai, ia mulai bertengkar dengan pengembara dan mengatakan bahwa pengembara itu hanya menyewa keledainya, dan tidak termasuk bayangan dari sang Keledai.

Dan Tidak lama kemudian, waktu pun berlalu singkat, mereka berdua saling berkelahi tanpa menyadari bahwa sang Keledai berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

pesan dari cerita diatas adalah bertengkar memperebutkan sesuatu yang tidak nyata(semu), kita kadang kehilangan harta yang paling utama dan juga pertemanan.

Kisah Burung dara dan Burung kasuari

Kisah Burung dara dan Burung kasuari. Pada zaman Dahulu seekeor burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. si burung memiliki sayap yang lebar, lebat dan kuat hingga si burung bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi sekalipun. akan tetapi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya. 

kisah kasuari dan burung dara

Karena kesombongannya itulah dia tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka juga menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari. Tiba-tiba burung dara elok mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena dara elok hanyalah burung kecil, tapi dara elok meyakinkan mereka bahwa dia mampu.

Mereka semua lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”

“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”

Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.


Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap dara elok akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam dara elok menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya. Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”. Burng-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara dara elok hanya tersenyum menanggapinya.

Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap dara elok. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. dara elok pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap dara elok yang patah. Kini giliran dara elok yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.

dan Sekarang mereka sudah bersiap-siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, dara elok dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap dara elok telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.

Kisah Semut dan Paduka Raja

Pada saat dahulu kala jauh nun disana, di zaman kekaisaran kuno, hiduplah seorang Paduka Raja yang sangat terkenal keadilannya. Paduka Raja tersebut sangat mencintai rakyatnya. Bahkan Paduka Raja tersebut dalam mencinta keluarganya tidak melebihi cintanya pada rakyatnya. Sehingga kalau ada anggota keluarganya yang bersalah tetaplah di hukum sebagaimana orang lain. Yang lebih istimewa lagi, Paduka Raja ini juga penyayang Dunia Binatang.

Karena cintanya pada Dunia Binatang, suatu hari Paduka Raja yang adil itu pergi berjalan-jalan menemui seekor Semut Imut. Si Semut Imut merasa senang dan bangga mendapat kunjungan dari Paduka Raja.

semut

“Bagaimana kabarmu, Semut Imut?” tanya sang Paduka Raja.“Hamba baik-baik saja Baginda,” jawab Semut Imut gembira.“Dari mana saja engkau pergi?”

“Hamba sejak pagi pergi ke beberapa tempat tetapi belum juga mendapatkan makanan, Baginda.”

“Jadi sejak pagi engkau belum makan?”

“Benar, baginda.”

Paduka Raja yang adil itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata, “wahai, Semut Imut. Beberapa banyak makanan yang engkau perlukan dalam setahun?”

“Hanya sepotong roti saja baginda,” jawab Semut Imut.“Kalau begitu maukah engkau kuberi sepotong roti untuk hidupmu setahun?”“Hamba sangat senang, Baginda.”

“Kalau begitu, ayo engengkau kubawa pulang ke istana,” ujar Paduka Raja, lalu membawa Semut Imut itu ke istananya. Semut Imut sangat gembira karena mendapatkan anugerah makanan dari sang Paduka Raja. Ia tidak susah-susah lagi mencari makanan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian sang Paduka Raja akan lebih manis dan enak.

“Sekarang engengkau masuklah ke dalam tabung yang telah kuisi sepotong roti ini!” perintah sang Paduka Raja. “Terimakasih, Baginda. Hamba akan masuk.”

“Setahun yang akan datang tabung ini baru akan kubuka,” ujar sang Paduka Raja lagi.“Hamba sangat senang, Baginda.”

Tabung berisi roti dan Semut Imut itu pun segera ditutup rapat oleh sang Paduka Raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk ke dalamnya. Tabung tersebut kemudian disimpan di ruang khusus di dalam istana.

Hari-hari berikutnya sang Paduka Raja tetap memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya setelah genap setahun, teringatlah sang Paduka Raja akan janjinya pada Semut Imut.

Perlahan-lahan Paduka Raja membuka tutup tabung berisi Semut Imut itu. Ketika tutup terbuka, si Semut Imut baru saja menikmati roti permberian Paduka Raja setahun lalu.

“Bagaimana kabarmu, Semut Imut?” tanya sang Paduka Raja ketika matanya melihat Semut Imut di dalam tabung.“Keadaan hamba baik-baik saja, Baginda.”Tidak pernah sakit selama setahun di dalam tabung?”

“Tidak baginda. Keadaan hamba tetap sehat selama setahun.”

Kemudian sang Paduka Raja termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik Semut Imut di dalam tabung.“Mengapa roti pemberianku yang hanya sepotong masih engkau sisakan separuh?” tanya sang Paduka Raja.


“Betul, Baginda.”“Katanya dalam setahun engkau hanya memerlukan sepotong roti. Mengapa tak engkau habiskan?”

“Begini, Baginda. Roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan


Baginda lupa membuka tutup tabung ini. Kalau Baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali.”

Sang Paduka Raja sangat terkejut mendengar penjelasaan si Semut Imut yang tahu hidup hemat. Sang Paduka Raja tersenyum kecil di dekat Semut Imut.

“engkau Semut Imut yang hebat. engkau dapat menghemat kebutuhanmu. Hal ini akan kusiarkan ke seluruh negeri agar rakyatku dapat mencotohmu. Kalau Semut Imut saja dapat menghemat kebutuhannya, mengapa manusia justru gemar hidup boros?”

“Sebaiknya Baginda jangan terlalu memuji hamba,” jawab si Semut Imut.Semut Imut itu akhirnya mendapat hadiah lagi dari Paduka Raja. Sebagai tanda terima kasih karena telah mengajarinya hidup hemat dan sederhana

The story of Songbird and crocodiles

( English version ). The story of Songbird and crocodiles. On one day in a forest, there lived a crocodileand Songbird friendly they are familiar. Today they are fun chatting. Songbird is perched on the nose of a crocodile. But moments later, Vera felt sleepy. He yawns andopened his mouth wide. Oh, Songbird which perched on the nose Crocodiles slip fit into the mouth of a crocodile. Unfortunately, the Crocodile did not know. He confusedlooking for Songbird which is now no longer on his nose.

"Strange! To where Songbird? "gumam Vera. "He definitely took me being facetious,"Crocodile look back, to tail. However the bird isn't there. Vera then look for Songbirdin the bushes. It incorporates the snout into the bushes by the river. But the Songbirdis still not found. "Where is he?" gumam Crocodile returned.


Vera finally close my eyes to sleep. But suddenly the melodious humming soundcoming out from inside her. "Oh!" she cried wonder. His eyes are wide open. "For anew life, this time I can sing. Wow, I'm going to invite my dear friend Singer Bird tosing along. Will definitely be very fun! "

The crocodile then engrossed listening to out of himself. After a while he felt tired. He then opened his mouth, and yawn wide. When will close his eyes, his eyes saw acreature perched on his nose. The creature looks very angry. She's the Songbird."You're evil!" said the bird's scolding tone of press to the crocodiles. "Why don't youtell them if you want to open your mouth? I fall into your mouth, know? Once you're a bitch! "

"Yes!" answered Songbird. The tail shakes. "You're right know, you can'tsing at all! Your voice is very jarring! Uneasy listening! "

The crocodile was very sad to hear the word. His tears dripping. "I think the Senatorwas my voice," he says poignantly. "You know, I'd love to be able to sing. And last I figured I could already sing. It turns out? Oh, how I sound bad, unfortunately! "

Songbird feel sad. He immediately looked for ways to entertain his friend it. "Friend, how about you make water bubbles and I'm humming? We do together. Voice that sounds very tasty for sure heard. "

Vera agreed. He and entering the muzzle into the water and create bubbles. Songbirdsings. The sound of the EP is very fitting with the sound of air bubbles that are createdof crocodile. Crocodile love to all. And since then the two of them always do that every day.

And, in order for Songbird again into his mouth, a crocodile always tell first beforeopening his mouth. Wow, look at the picture above, in the real world they too familiar!

Dongeng si Katak dan Si monyet

Ada dongeng si katak dan si monyet. Di suatu pagi yang cerah. Bocil duduk di dahan sambil mengantuk. tak disadari ternyata perutnya berbunyi keroncongan dan terasa lapar. Ia membayangkan betapa enaknya bila makan buah-buahan. akan Tetapi dia kemudian tersentak mengingat kata-kata temannya. Ia dikatakan sebagai si Serakah, tukang tidur, si Rakus, si Tukang Makan, dan sebagainya. Bahkan ia terngiang kata-kata pak tani yang memarahinya. “Awas ya kamu, kalau mencuri lagi! Kubunuh, Kau! Kalau kau ingin makan buah-buahan tanamlah sendiri! Bekerja dan berusahalah dengan baik!” kata bapak petani dengan geram. Bulu kuduknya berdiri ketika ia teringat pernah dipukuli ketika mencuri pisang dan mangga di kebun pak tani. 

dan disaat itu Bocil kemudian berpikir bagaimana caranya mendapatkan makanan agar tidak dimarahi orang. “Ah, lebih baik saya mencari sahabat karibku! Mudah-mudahan ia dapat membantuku,” kata soni dalam hati. Ia kemudian turun dari pohon dan berjalan mencari katak sahabat karibnya. Setibanya di pematang sawah, sambil bernyanyi ia memanggil sahabat karibnya tersebut. 


“Pungggg… ketipung … pppung! Heee… heee… he…! Katak sahabatku, mengapa engkau sudah lama tak muncul? Ini sahabatmu datang! Saya rindu sekali padamu! Muncullah … muncullah!” Mendengar nyanyian tersebut katak muncul sambil bernyayi “Teot… teot! Teot… tek..blung! Ini aku si Katak datang!” Aku juga rindu padamu. Bagaimana aku muncul, bila kau sendiri tak muncul?” Kedua binatang tersebut kemudian berbincang-bincang untuk melepaskan kerinduannya. Pada kesempatan itu juga si Monyet menyampaikan maksudnya. 

“wahai Katak sahabatku, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menanam buah-buahan,” ajak si monyet. “Wahhh, saya setuju sekali. Tetapi buah apa ya yang paling enak dan paling mudah ditanam?” jawab Katak. “akan Lebih baik kita menanam pisang saja! Bibitnya mudah didapat dan cara menanamnyapun mudah, bagaimana?” kata monyet sambil bertanya. “Baiklah, saya akan mencari bibitnya. Biasanya banyak batang pohon pisang yang hanyut di sungai. Mari kita ke tepi sungai!” jawab katak sambil mengajak monyet. Mereka kemudian ke tepi sungai sambil berbincang-bincang dengan akrabnya. Sesampainya di tepi sungai ia bermain-main sambil menunggu bila ada batang pisang yang hanyut. Benar juga! Tak lama kemudian ada sebatang pohon pisang yang hanyut. 

“Nah, itu dia!” Teriak katak sambil menunjuk batang pisang yang hanyut. “Mari kita seret ke tepi!” ajak Bocil. “Mari!” jawab katak. Mereka terjun ke sungai dan menyeret batang pisang ke tepi sungai. Sesampainya di tepi, mereka angkat batang pisang itu ke daratan. Mereka kemudian menunggu kalau ada batang pisang yang hanyut lagi tetapi tak kunjung datang. “Menunggu itu membosankan,” kata monyet menggerutu. “Ya, kalau begitu besok kita ke sini lagi! Kita tunggu bila ada batang pisang yang hanyut lagi! Yang ini untukku,” kata katak sambil memegang batang pisang. “Ah, jangan curang! Ini milik kita berdua. Dari pada menunggu sampai besok sebaiknya kita bagi saja batang pohon pisang ini sekarang,” kata monyet. 

“Baiklah, kita potong saja batang pohon pisang ini menjadi dua. Kamu bagian bawah sedang saya yang bagian atas” kata katak. “Ah, jangan curang! Yang dapat berbuah kan bagian atas! Saya sangat memerlukan buah itu dari pada kamu. Nanti yang bagian bawah juga dapat berbuah,” kata monyet membujuk katak. “Baiklah, kita kan bersahabat. Seorang sahabat haruslah saling mengerti dan saling menolong. Kita tidak boleh bertengkar hanya karena perkara kecil. Bawalah yang bagian atas! Saya cukup yang bagian bawah saja,” kata katak penuh perhatian. Mereka akhirnya membawa bagian masing-masing ke hutan. Bocil membawa batang pisang bagian atas dan katak bagian bawah untuk ditanam. 


Setiap sebulan sekali monyet mengunjungi katak. Mereka saling menanyakan tanamannya. “Bagaimana tanaman pisangmu?” tanya Bocil. “Ha… ha…, lihat saja itu! Subur bukan?! Tanamanku sangat subur. Daunnya begitu lebat.” Jawab katak sambil menunjukkan tanamannya. “Bagaimana dengan tanamanmu?” tanya katak lebih lanjut. “Wah…, tanamanku juga demikian!” jawab Bocil membohongi temannya. Ia bohong karena tanamannya sudah mati. Batang bagian atas tak mungkin hidup bila ditanam. Bulan berikutnya Bocil datang lagi. Ia bertanya kepada katak tentang tanamannya. “Bagaimana tanamanmu?” tanya Bocil. 

“Wah, tanaman pisangku sangat subur, dan sekarang sudah berbuah. Bagaimana pula tanamanmu?” jawab katak sambil menanyakan tanaman si Bocil. “Demikian juga tanamanku, sudah berbuah. Bahkan buahnya besar-besar,” jawab Bocil berbohong. Mereka kemudian berbincang-bincang sambil bergurau. Setelah selesai, Bocil kembali ke hutan. Pada kunjungan berikutnya ternyata buah pisangnya sudah masak tetapi katak tidak dapat memetiknya karena tidak dapat memanjat pohon pisang tersebut. Katakpun meminta bantuan kepada Bocil yang sedang berkunjung. “Bocil, tolong petikkan pisangku yang sudah masak itu!” pinta katak kepada Bocil. 

“Wahwahhhh..., dengan senang hati, mari kita ke sana!” jawab Bocil sambil mengajak katak. Bocil pun segera memanjat pohon pisang dan sesampainya di atas ia segera memetik dan mencoba memakannya. “Wahhhhh, ranum benar pisangmu!” teriak soni dari atas pohon pisang. “Hai Bocil, jangan kau makan sendiri saja. Cepat petikkan sesisir dulu untukku” teriak katak sambil memohon. “Ya, nanti dulu! Aku belum selesai memakannya. ” sahut soni. Satu, demi satu dimakannya pisang tersebut oleh soni, setiap katak meminta ada saja jawaban si Bocil. Katak tak pernah diberi. Bahkan si Katak hanya dilempari kulitnya oleh Bocil. 

“Kamu itu lebih baik makan kulitnya saja, katak! Ini bagianmu, terimalah! kata Bocil. Katakpun berang dilecehkan oleh Bocil. Ia pun berkata dalam hati untuk memberikan pelajaran kepada soni yang serakah tersebut. “Baiklah, oke oke, habiskan saja pisangku. Aku sudah tak berminat lagi. Aku sudah kenyang makan nyamuk. Makanan utamaku kan nyamuk, bukan pisang seperti makananmu.” kata katak dengan kesal. “Ha… ha… ha…, katak-katak…, salahmu sendiri kamu tak dapat memanjat. Kamu hanya dapat meloncat-loncat saja. Coba perhatikan saya! Saya dapat berjalan, meloncat dan memanjat. Makanankupun lebih banyak jenisnya daripada kamu. Kamu lebih baik makan nyamuk saja. Pisang ini sebenarnya untukku bukan untukmu,” kata Bocil dengan congkak. 

“Dasar Bocil serakah kamu ya! Sudahlah, janganlah banyak bicara! Cepat habiskan saja pisangku! Sebentar lagi batangnya akan saya tebang,” kata katak dengan marah. Selesai berbicara katakpun mulai menebang batang pohon pisangnya. Bocil segera mempercepat makannya. Tak terasa ia mulai kenyang dan mengantuk. Batang pohon pisang mulai bergoyang dan akan roboh tetapi soni tak dapat menahan kantuknya. Lebih-lebih goyangannya batang pohon pisang dianggapnya sebagai ayunan yang membuat ia tertidur. Akhirnya ia jatuh. Perutnya terkena ujung pohon kayu kering yang runcing dan badannya tertimpa batang pohon pisang. Matilah sang monyet serakah tadi.

Kisah sang Kera si Raja Hutan

Kisah si kera sang raja Hutan. Di suatu hari yang cerah, di  hutan rimbun itu sedang diselimuti adanya berita duka. sebab apa ?, sebab sang pemimpin hutan yaitu Sang Raja hutan sang “Singa” ditembak oleh pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. tidak berapa lama seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru dan kuat tentunya. 
Pada pemilihan Pertama yang dicalonkan adalah si Macan Tutul, akan tetapi macan tutul menolak. “Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang,” ujarnya. “Kalau begitu Badak saja, kau kan sangat kuat,” kata binatang lain. “ohhh tidak , penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali.” “oooo,,,mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..”, ujar binatang-binatang lain. “Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat,” sahut gajah.

kisah kera

Para binatangpun menjadi bingung, mereka belum juga menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, “Manusia sajalah saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa”. “Tidak mungkin,” jawab tupai. “Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja,” ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat si Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya sih hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat dan enak.

Para Penghuni hutan menjadi kesal, terutama si serigala. Serigala jadi berpikir, “bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak”. Serigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. “Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezar, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu,” ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama serigala.

Di tengah-tengah rimbun hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. “Tolong…tolong,” teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

“Hehehe ! tidak pernah kubayangkan, seorang raja hutan bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh manusia, Raja seperti si kera mana bisa melindungi rakyatnya,” ujar serigala dan binatang lainnya. dan tidak lama kemudian setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.

Cerita lalat dan si laba-laba

Cerita lalat dan si laba-laba . pada Suatu hari yang cerah, angin bertiup sepoi sepoi dan berhenti seketika dengan hembusannya. Tampak Di puncak balik bukit, dibalik batu besar, angin tertidur panjang. Sementara itu pula, para binatang mulai merindukan angin. Merekapun mengirimkan laba- laba untuk mencari angin. Tidak lama, laba-laba menemukan angin dan membangunkannya.


Anginpun tidak suka tidurnya diganggu olah laba-laba. Anginpun mengusir laba-laba dan kembali tidur.Karena laba-laba berjalan dengan perlahan, butuh waktu yang lama baginya turun dari bukit. Dalam perjalanannya, dia bertemu lalat yang juga dikirim untuk mencari angin.

si Laba-laba berbohong kepada lalat dengan mengatakan bahwa ia telah menemukan angin dan berhasil membujuknya. Padahal, sebenarnya angin mengusir laba-laba.


Mendengar berita bagus itu, lalat pulang lebih dulu dan berencana mengakui bahwa ia yang terlebih dulu bertemu angin, bukannya laba-laba. Ia berharap akan mendapatan pujian dari para binatang.

Rencana itupun berjalan lancar. Ia tiba di bawah sebelum laba-laba. Dengan berbohong, lalat menceritakan perjalanan beratnya untuk menemukan angin.

Para binatang merayakan keberhasilan lalat dan memuji lalat setinggi langit. Sementara, saat laba-laba pulang, ia diusir oleh para binatang karena tidak berhasil menemukan angin.

Sejak saat itulah mengapa laba-laba dan lalat menjadi musuh. Laba-laba sengaja membuat jebakan untuk membunuh dan memakan lalat. Sementara itu, angin sudah bangun dari tidur dan mulai bertiup kembali.

Cendrawasih yang sombong

Cendrawasih yang sombong. Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah seekor burung cendrawasih. Dia merasa dirinya hewan tercantik di hutan tersebut. " di hutan ini akulah burung tercantik dan mempunyai bulu terindah.". hal itu menyebabkan dirinya menjadi sombong.


Setiap kali bertemu temannya si cendrawasih selalu mencemoohnya. karena sombong dia selalu dijauhi teman-temannya. "burung sombong...." kata temannya. Suatu hari bertemulah burung gagak dengan cendrawasih. " cendrawasih, indah sekali bulumu," sapa gagak. Tidak takutkah kamu pada pemburu ?", bila melihat pemburu segeralah menjauh", kata gagak.


Takut ?', aku tidak pernah merasa takut sedikitpun, kalian iri melihat buluku yang indah," celetuk cendrawasih dengan sombongnya. Gagak jengkel melihat tingkah dan kesombongan cendrawasih. Ditinggalkannya cendrawasih sendirian. " jangan sombong cendrawasih, kamu nanti bisa celaka." kata gagak.

Setelah gagak pergi, cendrawasih menuju hutan yang lebat. dia berputar-putar seakan menunjukkan bulunya yang indah dan lincah. ekornya berkibar dengan indahnya. Cendrawasih tidak menyadari kalau dia sedang diintai oleh pemburu. Sang pemburu tertarik dengan keindahan bulu cendrawasih. maka, dibuatlah jebakan untuk menjebak cendrawasih. berkatalah pemburu itu kepada cendrawasih " kemarilah wahai burung yang indah, aku mengagumi bulumu yang indah sekali."kata pemburu. Cendrawasih sangat bangga dipuji oleh pemburu, sehingga dia mendekati sang pemburu. dan.... akhirnya cendrawasih masuk kedalam perangkap sang pemburu.

hahaha...kena kamu burung bodoh, aku menipumu dengan kata manis."kata sang pemburu. cendrawasih menyesali kesombongannya. namun, tiba-tiba sekelompok gagak menyerang sang pemburu dan berhasil menyelamatkan cendrawasih dari perangkap pemburu itu. Kini sadarlah bahwa kesombongannya tidaklah berguna. cendrawasih menyesal dan meinta maaf kepada burung yang lainnya.

cerita ular dan Penebang kayu

Cerita ular dan penebang kayu. Hujan salju begitu lebat. Begit juga di desa Pak Penebang Kayu. Salju turun dengan berlapis-lapis dan lebatnya. Semua atap rumah, lumbung pangan, kandang-kandang berselimut salju. Pagar, ladang, tanaman, dan pepohonan.Cucuran air dari atap membeku dan keliat dingin. Air di dalam tong juga membeku. Selokan membeku. Bahkan sungai membeku keras seperti es batu. Udara teramat dingin menggigit tubuh.


Bapak Penebang Kayu seorang yang sangat rajin. Walau dinginnya menggigit ia tetap pergi ke hutan memotong pohon untuk kayu bakar. Dia mengenakan mantel yang tebal. Topi bulu menutupi kedua daun telinganya. Sepatu bulu yang tebal membungkus kedua kakinya. Ia memanggul kapak dan melangkah keluar pintu. Kaki-kakinya berat melangkah menembus salju setinggi lutut. Uap mengepul-ngepul menghembus keluar dari cuping hidungnya.

Setelah sekian lama bekerja di hutan, bapak Penebang Kayu melangkah pulang. Di tepi hutan ia melihat di kejauhan sesuatu yang panjang berwarna hitam melintang membujur di tengah jalan setapak. Ia merasa penasaran dengan benda itu, lalu mendekatinya dengan penuh rasa ingin tahu. Ternyata si benda hitam dan panjang itu adalah seekor ular yang kaku membeku kelihatan tak bergerak. Pak Penebang Kayu seorang yang baik hati, ia lalu memungut ular itu dan memasukkannya dalam kantung yang ia bawa.


Setibanya di rumah, dia duduk di kursi dekat perapian. Dia mengeluarkan kantungnya dan meletakkan ular beku itu di dekat api yang hangat. Anak-anaknya berkerubung mengelilinginya. Perlahan ular itu menggoyangkan sisi ekornya, lalu menggerakkan badannya menggeliat perlahan. Anak-anak pun bergembira melihat ular itu bisa bergerak kembali. Anak laki-laki kecil yang paling berani mengulurkan tangannya dan membelai tubuh ular itu.

Tetapi apa yang terjadi? Ular itu menyeringai, membuka mulutnya menunjukkan dua taring tajamnya yang mengerikan. Ia mendesis, meliuk liukkan kepalanya hendak memagut tangan si kecil. Pak Penebang Kayu yang waspada melompat dari duduknya, meraih kapak dan memukul kepala ular itu hingga pingsan.

Bapak Penebang Kayu membawa ular itu ke halaman. Dia melemparkan ular itu jauh ke seberang jalan. Udara masih dingin membeku dan salju masih tetap turun. "Ah!" kata Pak Penebang kayu dengan sedih, "dasar binatang yang tak tahu berterimakasih!"

Kisah si Rusa bertanduk panjang

Kisah si rusa bertanduk panjang. Ada Seekor rusa jenis jantan berdiri tegap di pinggir sungai. Air di sungai itu begitu jernihnya dan mengalir dengan lambat ke hilir sungai.si rusa minum air itu dengan perlahan. Begitu segarnya untuk dirinya yang sangat kehausan.


Air itu sangat bening sekali sehingga dia bisa melihat bayangan dirinya di permukaan sungai itu. Perlahan ditatapnya bayangan dirinya, mulai dari tanduknya hingga ujung kakinya.

"Ohhhh alangkah indahnya tandukku ini. Begitu besar dan kuat sekali. Membuatku terlihat gagah tampan dan berwibawa," seru si rusa jantan dengan bangganya. Ia menelengkan kepalanya, memamerkan tanduknya yang indah pada bayangannya di atas air. 


"Akan Tapi betapa kurusnya kaki-kakiku ini ya," keluhnya. Ia menatap kakinya yang tampak lemah dan kurus. "Tak sebanding dengan kegagahan tandukku ini!"
Tidak disangka, ketika ia sedang sibuk memandangi bayangannya, seekor singa mengintai di balik pepohonan yang rimbun.

Dengan cepat singa itu melompat keluar dari rimbunan semak, berlari cepat ke arah si rusa jantan.

Rusa itu terkejut bukan kepalang gugupnya, tapi dengan segera ia berlari melarikan diri dari kejaran singa yang ganas. Ia berlari sangat kencang jauh meninggalkan sang singa, menerobos pepohonan di tepi sungai. Ketika ia menyangka sudah bisa melepaskan diri dari kejaran, tiba tiba tanduknya yang besar tersangkut pada ranting-ranting pohon. Ia meronta sekuat tenaga, tapi semakin keras ia berusaha semakin kuat ia terjerat. Singa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, lalu dengan mudah ia menerkam rusa jantan itu.

"Ohhh Betapa bodohnya aku ini memandang rendah kakiku ini, padahal kakiku bisa menyelamatku. Sedangkan aku malah bangga pada tandukku yang malah membuatku akan celaka!" kata rusa itu dengan penuh sesal.

kisah cerita semut dan kepompong

Ada Seekor semut yang sedang bergegas kesana kemari mencari makanan kesukaannya di bawah terik sinar makanan. Si dia menemukan sebuah kepompong, benda bulat yang tergantung di dahan sebuah pohon. Si Kepompong itu menggoyang-goyangkan ekornya, sehingga akhirnya si semut itu tahu, kepompong itu seekor makhluk yang hidup.


"Kasihan sekali kamu ya, Binatang yang menyedihkan!" kata semut itu mencela kepompong. "Nasibmu buruk sekali! Aku bisa berlari kesana kemari, bahkan memanjat naik ke puncak pohon tertinggi. Sedangkan kamu terkurung diam di dalam bungkus itu dan hanya bisa menggoyangkan ekormu saja!"


Kepompong itu mendengar semua perkataan si semut , tapi ia diam saja tidak menghiraukan.

Di hari kemudian, semut itu kembali ke tempat kepompong itu berada. Tapi kepompong itu sekarang hanyalah berupa sebuah bungkus yang kosong. Ia penasaran, apa yang terjadi dengan kepompong itu? Tiba-tiba sepasang sayap kupu-kupu yang indah muncul di hadapannya, begitu indahnya sehingga semut itu merasa malu pada penampilannya sendiri.

"Lihatlah diriku sekarang wahai semut," kata si kupu-kupu. "Aku yang dulu patut kau kasihani. Sekarang engkau sombongkanlah dirimu yang punya kemampuan naik ke puncak yang tinggi."

Kupu-kupu itu lalu terbang ke arah yang lebih tinggi dari puncak pohon, meluncur di udara musim panas yang hangat. dan menghilang dari pandangan semut itu untuk selamanya.

cerita sang Elang dan kura-kura

Ada Seekor kura-kura yang sedang berjemur di sebuah batu yang datar di samping sebuah kolam besar. Ia memperhatikan ada seekor elang gagah terbang tinggi di angkasa naik ke atas awan-awan, tinggi sekali. Sekarang tampak si elang hanya seperti titik kecil di angkasa. Setelah berapa lama kemudian, burung itu melayang turun dan selanjutnya bertengger di bebatuan dekat dengan si kura-kura.

"Halooo," kata si elang dengan ramahnya, "bagaimana kabarmu hai kura?" ,"Ohhh hai, aku pasti baik-baik saja jika bisa terbang tinggi," kura-kura itu menjawab dengan menghembuskan nafas berat dan sedikit kecut. "Aku bosan merayap terus di tanah. Aku ingin terbang tinggi di angkasa seperti dirimu wahai elang!"


Burung elang yang bijak itupun berusaha untuk menasihati si kura-kura, tetapi kura-kura itu hanya menatap sayap-sayap elang yang tertutup bulu lalu berkata si kura itu, "Ajarkan aku untuk terbang dan aku akan memberimu harta karun yang terpendam di dalam kolam ini." kemudian Elang lalu mencengkeram kura-kura itu dengan cakarnya yang kuat dan membawa kura terbang tinggi, dan semakin tinggi jauh ke angkasa. Mereka terbang beberapa kilometer jauhnya, menembus awan di langit dan terbang rendah di atas pucuk pohon.
"Sekarang," seru si elang lebih keras dari deru angin, "kamu sudah tahu caranya kan kura!" Kemudian ia melonggarkan cengkeramannya dan melepaskan kura-kura itu untuk "terbang" di udara. Kura kura itu jatuh bebas meluncur di angkasa, berputar-putar tidak tentu arah. Akhirnya ia jatuh hancur berkeping-keping di bebatuan di samping kolamnya.
"si Kura-kura tua yang malang," kata sang elang itu sambil terbang melayang pergi. "Dia pasti sekarang masih hidup jika dia menikmati hidupnya tinggal di kolam yang indah itu."

Dongeng Merpati dan si Semut

Pada suatu hari yang cerah, ada seekor semut yang sedang berjalan-jalan mencari makan di pinggiran sungai. Š…eperti biasanya dia berjalan dengan riang dan karena ia kurang hati-hati tiba-tiba ia terjatuh ke dalam sungai itu...byurrrrrr......


Arus sungai telah menghanyutkannya jauh, semut itu timbul tenggelam dan kelelahan serta berusaha untuk menepi tapi tidak berhasil juga. Seekor burung merpati yang kebetulan bertengger di ranting pohon yang melintang di atas sungai melihat semut yang hampir tenggelam dan merasa iba. Si Burung merpati inipun memetik daun dan menjatuhkannya didekat semut. Semut merayap naik ke atas daun dan akhirnya berhasil menyelamatkan dirinya dengan bantuan daun tersebut, mendarat di tepi sungai.

Tidak lama waktu berlalu, si semut melihat seorang pemburu burung sedang mengendap-endap pelan berusaha mendekati si burung merpati yang telah menolongnya tadi. si Semut menyadari akan bahaya yang membayangi merpati yang baik tersebut, segera berlari mendekati pemburu, dan menggigit kaki sang pemburu. Pemburu itu kesakitan dan terkejut, mengibaskan ranting yang tadinya akan digunakan untuk menangkap burung. Burung Merpati menyadari keberadaan pemburu yang sibuk mengibas-ngibaskan ranting kesakitan. Akhirnya sang burung pun terbang menyelamatkan dirinya.

Kisah lembu dan si anak Katak

Ditengah padang rumput yang ranum hijau ada sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. di antara katak katakitu ada 1 anak katak yang bernama sora, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. sora  sangat sombong. sora merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.


Sebenarnya kakak sora sering menasehati agar sora tidak sombong pada teman-temannya. tetapi nasehat kakaknya tidak pernah dihiraukan. hal ini menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya hingga kentus tidak punya teman bermain lagi

Pada suatu pagi, sora berlatih melompat di padang rumput. ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain disitu. sesekali anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali memakan rumput yang segar. secara tidak sengaja lidah sapi anak lembu itu terkena tubuh sora.


"huhhhh, beraninya makhluk ini mengusikku", kata sora dengan marah sambil menjauhi anak lembu. sebenarnya anak lembu tidak berniat mengganggunya. kebetulan pergerakannnya sama dengan soras sehingga menyebabkan sora menjadi cemas dan melompat segera untuk menyelamatkan diri.Sambil terengah-engah kentus sampai di tepi kolam. melihat sora yang kecapaian, teman-temannya heran. "Hai sora, mengapa kamu terengah-engah dan mukamu pucat sekali?", tanta temannya. "Tidak apa-apa, aku hanya cemas. Lihatlah padang rumput itu. aku tidak tau makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. makhluk itu hendak menelan aku", kata kentus.

Kakaknya yang baru tiba disitu menjelaskan. "Makhluk itu anak lembu. Sepengetahuan kakak anak lembu tidak jahat. mereka biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap hari", kata kakaknya. "Tidak jahat? kenapa kakak bisa bilang seperti itu? saya hampir ditelannya tadi", kata sora. "Ah tidah mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya makan rumput", jelas kakaknya.

"saya tidak percaya kak, tadi aku dikejarnya dan hampir ditendangnya", kata sora. "wahai teman-teman, aku sebenarnya bisa melawannya dengan menggembungkan diriku", kata sora sombong. "lawan saja sora! kamu pasti menang", teriak teman-temannya. "sudahlah sora, kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatanmu itu berbahaya, hentikan!", kata kakak sora berualng kali. Tetapi kentus tidak perduli nasehat kakaknya.sora terus menggembungkan diri karena dorongan teman-temannya. Padahal sebenarnya teman-temannya ingin memberi pelajaran pada sora yang selalu sombong.

Setelah itu sora tiba-tiba jatuh lemas. Perutnya sakit dan perlahan-lahan dikempiskan kembali. kakak dan teman-temannya menolong sora yang lemas kesakitan. Akhirnya sora malu dengan sikapnya yang sombong yang merugikan dirinya sendiri.

Kisah Pedagang kaya Raya

jaman dulu hidup seorang saudagar yang kaya raya , hidupnya bergelimpangan harta melimpah tanpa pernah merasa susah. Segala yang dia inginkan pasti dapat dimilikinya dengan mudah tanpa perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Namun, saudagar itu tidak pernah merasa bahagia, dia selalu bermuram durja dan merasa hambar dalam menjalani hidupnya.

“apa yang engkau risaukan, hidupku ini sudah cukup sempurna untuk ukuran seorang manusia, tetapi mengapa aku tak pernah merasa bahagia.” Gerutunya dalam hati.

Dia kembali memutar otaknya seraya melihat daftar kekayaan yang sudah dimilikinya. “Aku tahu kenapa, karena aku baru punya satu rumah mewah dan tak punya kendaraan pribadi untuk memudahkanku dalam bekerja?” pikirnya.

Di Keesokan harinya, dia memerintah salah seorang tangan kanannya untuk membelikan rumah mewah di kota lain dan membelikan mobil termahal di negaranya.

Tidak sampai satu minggu, kedua keinginannya pun terpenuhi, saudagar itu kini mempunyai satu rumah mewah di kota lain dan mobil termahal di negaranya. Satu dua minggu, kebahagiaan melanda hatinya yang telah lama risau.

Namun minggu selanjutnya, hati saudagar kembali risau. Dia merasa semua itu terkesan biasa dan tak memberinya kebahagian lebih. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk menenangkan diri dengan berlibur ke Negara lain.

Dua bulan berlalu dia kembali pulang dengan wajah penuh kesedihan karena dia tak menemukan kebahagiaan di Negara yang dia kunjungi.
Saudagar itu pun merasa kekayaannyalah yang telah membuatnya bosan dan bahagia. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadi orang biasa dengan meninggalkan keluarganya dan tinggal seorang diri di kota terpencil. Tetapi kesulitan yang dialaminya menambah rasa sedih dan risau di hatinya. Bahkan kondisi ini membuatnya tak mengenal arti kebahagiaan, dia pun kembali menemui keluarganya. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu seorang pedagang asongan di pinggir jalan yang bisa tersenyum riang. Dia mendekati pedagang itu dan mengajaknya bertukar pendapat.

“Maaf sebelumnya, apakah laba saudara dari berdagang seperti ini cukup besar?” Tanya saudagar keheranan. Pedagang asongan hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sikap pedagang itu benar-benar membuat saudagar semakin heran.
“kenapa saudara hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya?” tanyanya lagi.
Kali ini pedagang asongan mulai angkat bicara. “perlu saudara ketahui, berdagang seperti saya untung yang paling besar bukanlah materi tapi tantangan naik turun kendaraan, berlarian, kepanasan bahkan kehujanan dalam menjajakan dagangan saya” jawabnya santai.

Mendengar jawaban seperti itu, dia kembali mengerutkan dahinya, rasa heran akan kebahagiaan yang selalu terpancar dalam diri pedagang asongan itu semakin mengebu-gebu.
Dia kembali mengajukan pertanyaan. “tapi mengapa saudara bisa tertawa riang seperti hidup penuh dengan kebahagiaan padahal saudara tak berlimpah harta dan hanya seorang pedagang asongan, selama ini saya selalu mencari dimana letak kebahagiaan itu padahal saya sorang saudagar kaya tak pernah kesusahan namun tetap saja saya tak pernah merasa bahagia dengan apa yang saya miliki” ceritanya.


“saudara perlu tahu, letak kebahagiaan sesungguhnya bukan pada materi saja, harta yang berlimpah atau terbatas tak selamanya membuat kita bahagia. Tak hanya itu, semua yang kita miliki tak akan pernah berarti apapun serta membuat kita bahagia karena letak kebahagiaan yang hakiki ada pada diri kita pribadi”
“maksud saudara apa? Saya tak mengerti”
“letak kebahagiaan yang hakiki terletak pada diri kita sendiri melalui satu rasa yakni rasa syukur. Tanpa rasa syukur semua yang kita miliki tak akan pernah membuat kita bahagia karena kita tak akan pernah puas dengan apa yang sudah kita miliki”
“terima kasih banyak. Saudara telah memecahkan kerisauan hati saya selama ini dalam mencari letak kebahagiaan”

Hikmahnya
Kita tak akan pernah merasa bahagia tanpa ada rasa syukur. Karena dengan rasa itu seperti apapun kondisi yang sedang kita jalani tak akan pernah membuat kita bersedih dan merasa risau. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita menanamkan rasa syukur dalam diri kita dalam segala situasi dan kondisi.
cerita disarikan dari :cerpenmu.com

Kisah Buaya sang perompak

Dikisahkan,ada Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan sang buayanya. bahkan nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati karena ada buaya ganasnyya. Begitupun penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut sebuah cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

dan pada Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.

Sementara itu di sebuah tempat gelap di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.

“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?” tanya Aminah dalam hati. Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema. “Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.” Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.

“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut. “Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.

“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu. “Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu. “Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya Aminah.

“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.

Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.

“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu. “Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah. “Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah “Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu. “Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran. “Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.

Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung. “Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak. Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan. “Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.

Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu. “Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju. Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.

Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.

Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. “Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati. Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.

Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.

“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,” Aminah berucap syukur. Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan. “Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.

“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah. Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.

Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang

Cerita si beruang dan si Kucing

Cerita si beruang dan si Kucing. di zaman dahulu kala si moyang kucing dan si beruang adalah dua sahabat karib yang selalu berbagi dan bahagia, kemana-mana mereka selalu bersama sampai akhirnya pada suatu ketika beruang mengutarakan maksudnya untuk belajar memanjat kepada kucing-kucingpun menyanggupi permintaan beruang dan mencari pohon yang sangat tinggi untuk beruang. hai wang..(panggilan beruang ) ini lo pohon yang cocok untuk kamu belajar memanjat "kata kucing". sembarang aja cing, yang penting aku bisa memanjat "kata beruang".

lalu si kucingpun memberi contoh kepada beruang cara memanjat pohon tersebut, yang penting kuku-kukumu kuat mencengkeram batang pohon ini kau akan bisa memanjat pohon ini wang "kata kucing".cukup teorinya cing sekarang kamu turun biar aku yang memanjat' kata beruang". kucingpun segera turun.beruangpun segera memanjat pohon dan ternyata dengan gampangnya ia dapat mencapai puncak pohon tersebut. tetapi sesampai diatas ia bingung untuk turun dan berkata "cing gimana cara turunnya "kata beruang".

belum sempat berkata apa-apa tiba-tiba terlihat sosok serigala yang siap memangsa kucing dari balik rimbunan semak belukar, kucingpun segera berlari meninggalkan beruang yang kebingungan.merasa dikerjai kucing beruang pun marah dan berkata " awas kamu cing, ngak ku maafkan, kamu akan kukoyak-koyak dan kotoranmu pun bahkan akan kumakan cing. dan beruang pun turun dengan menjatuh kan dirinya sambil tetap memeluk pohon.

oleh sebab itu sampai dengan sekarang bila kucing buang kotoran di tanah akan membuat lubang dan menutupnya kembali, agar tak dimakan beruang.sedangkan beruang bisa memanjat pohon tetapi ketika turun ia akan memerosotkan badannya kebawah

Cerita si ikan dan bangau

cerita si ikan dan bangau , ada danau yang sangat luas,disitu tinggallah sekelompok burung bangau putih yang setiap hari memangsa ikan-ikan yang ada di danau itu. Mulanya di danau tersebut banyak sekali ikan. Namun, setelah sekelompok burung bangau mendatangi dan menetap di sekitar danau, perlahan namun pasti habislah ikan-ikan yang selalu ada di dalam danau. akan Tetapi ada seekor ikan yang selalu bersembunyi dibalik bebatuan yang ada di danau tersebut, sehingga ia terhindar dari ancaman burung bangau.

Karena di danau itu mulai sepi dari ikan-ikan, ada sekelompok burung bangau tersebut ingin pergi mencari tempat lain. Diutuslah sekelompok kecil burung bangau untuk mencari tempat baru yang masih lumayan banyak ikannya.

Setelah terbang cukup lama sekali, merekapun berhasil menemukan danau lain yang ternyata masih banyak ikan yang menghuni di tempat itu. Mereka pun kemudian terbang kembali untuk memberitahukan hal tersebut kepada teman-temannya yang lain. Pada Akhirnya mereka semua bersepakat untuk meninggalkan danau tersebut. Berbondong-bondong mereka terbang melewati banyak pulau, sungai, dan hutan-hutan. Akhirnya, sampailah mereka di danau yang sangat indah dan masih banyak ikan dan binatang lain yang bisa dijadikan santapan mereka.

Namun seketika, tanpa mereka sadari di danau yang lama masih tertinggal seekor burung bangau tua yang enggan meninggalkan danau . Setelah sekelompok burung bangau itu pergi, seekor ikan yang semula selalu bersembunyi mulai berani muncul dan berenang kesana kemari meskipun hatinya sedih kerena tidak ada teman seekor ikan pun. Ia masih berharap sebentar lagi dirinya akan segera bertelur dan setelah menetas kelak danau ini akan dipenuhi ikan-ikan lagi. Ikan tersebut terus asyik berenang kian kemari, tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika melihat di pinggir danau masih ada seekor burung bangau yang tertinggal. Dari kejauhan ikan pun memberanikan diri untuk menyapanya. “Hai burung bangau! Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kelompokmu sudah pergi jauh meninggalkan danau ini? Apakah kamu masih ingin memangsaku? Sehingga danau ini menjadi mati dan tak berpenghuni?” Tanya ikan. Burung bangaupun menjawab dengan ramah, “Hei ikan! Jangan takut denganku, aku akan tinggal di danau ini sampai akhir hayatku karena aku sudah tua. Aku tidak akan memangsamu, aku ingin memangsa yang lain yang ada disekitar danau ini, “ujar bangau.

Tanpa ia sadari, ikan tersebut meneteskan air matanya. Ia sangat berterima kasih pada burung bangau tua tersebut dan ikan pun berkata, “Burung bangau yang baik, sebentar lagi aku akan bertelur dan anak-anakku akan menetas. Aku ingin danau ini dipenuhi ikan lagi. Sehingga suatu saat nanti menjadi sebuah danau yang bisa dinikmati keindahannya oleh siapapun yang berkunjung kesini,”ujar ikan. Bangau yang mendengar perkataan ikan pun terharu dan mengerti akan sebuah kebaikan. Akhirnya, ikan pun menghilang, bersembunyi disela-sela batu. Ternyata ikan itu sedang bertelur. Sempat danau itu sepi bak tak berpenghuni, dan bangau tua itu pun sempat khawatir dengan keberadaan si ikan.

Hari demi hari dilalui bangau dalam kesendirian. Sampai pada suatu saat, menetaslah semua anak ikan. Sang Bangau belum juga menyadari aada perubahan apa di dalam danau, karena ikan-ikan itu masih sangat kecil. Sebulan telah berlalu, mulailah anak-anak ikan bisa dilihat dengan mata, karena mereka sudah mulai sadar bahwa ikan yang selama ini tidak menampakkan diri ternyata sedang bertelur dan mengasuh anak-anaknya sampai mereka bisa mencari makan sendiri. Kini induk ikan merasa senang karena di dalam danau itu mulai banyak penghuninya. Dan ia teringat pula tentang keberadaan bangau tersebut. Masih adakah? Atau sudah mati?


Ternyata, di suatu pagi yang cerah, ia masih dipertemukan dengan sang bangau tua itu, lalu induk ikan pun menyapanya. Dengan perasaan haru ia melihat keadaan sang bangau yang terlihat makin tua. Hampir setiap hari bangau itu berdiri di atas batu di tepi danau, memandang jauh kedepan seolah hidup ini sangat melelahkan.

Akhirnya, saat berbincang dengan induk ikan, ia pun berkata, “Sahabatku ikan, aku sudah lelah manghadapi hidup ini. Jika suatu saat datang ajalku di atas batu ini, semoga pengunjung disini berminat membuat patung bangau di atas batu ini dan menguburku di tepi danau ini mengerti bahwa dahulu kala danau ini pernah dihuni oleh sekelompok burung bangau.”


Ternyata apa yang dikatakan burung bangau pun menjadi kenyataan, 7 hari setelah bangau tua dan induk ikan berbincang, burung bangau tua itu menerima ajalnya tepat di atas batu. Badannya terbujur kaku, dan induk ikan yang setiap hari menemani burung bangau itu pun terkejut melihat jasad sang bangau tua itu tergolek diatas batu. Menangislah induk ikan tersebut, dikumpilkalah anak-anaknya dan ia pun berucap pada mereka, “Anak-anakku, kau melihat apa yang ada di atas batu? Itu adalah jasad seekor burung bangau yang sangat baik hati. Ia tidak memangsaku, tetapi ia memberi kesempatan aku dan kalian untuk bisa hidup dan berkembang biak. Karena itu pengunjung yang datang bisa menikmati keindahan danau ini.”

Setelah hari beranjak siang, mulailah pengunjung mendatangi danau itu dan mereka masih sempat menyaksikan jasad burung bangau di atas batu dan mereka bersepakat untuk menguburkan burung bangau itu di tepi danau. Ternyata di antara pengunjung ada seorang seniman yang berniat membangun patung bangau di atas batu tersebut.

Setelah beberapa waktu, patung itu selesailah sudah. Legalah hati induk ikan karena apa yang diinginkan sahabatnya terwujud sudah. Akhirnya, danau itu banyak dikunjungi oleh para wisatawan dan dikenal dengan julukan “Danau yang Berikan Jinak”. Karena ikan yang ada di danau itu akrab dengan para pengunjung dan pengunjung pun tidak ada yang bermaksud menangkap atau memancingnya. Mereka membiarkan ikan-ikan itu hidup bebas dan berkembang biak.