Kisah Rajawali yang cerdik dan Pintar

ini cerita tentang rajawali yang cerdas dan cerdik. pada suatu hari yang panas menyengat, ada seekor rajawali besar yang sangat haus dan ingin minum untuk melepas dahaga di hari yang panas. Ada Sungai namun sangat jauh dan tentunya sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk sekedar minum. rajawali yang terkenal cerdik itupun tidak melihat kolam air di mana pun. dia terbang berputar-putar sesekali meoleh ke belakang untuk mencari sumber air. Akhirnya ia melihat sebuah gentong yang biasa diletakkan di depan rumah untuk menampung air. Rajawali terbang turun ke gentong itu. Di sana rajawali yang sudah kehausan itupun melihat ada sedikit air di dasar gentong. Si Rajawali lalu memasukkan kepalanya ke dalam gentong akan tetapi ia tidak dapat menggapai air itu. Ia kemudian memanjat ke atas gentong namun lagi-lagi paruhnya tidak sedikitpun menyentuh air tersebut.

kisah rajawali yang cerdik dan pandai

Karena terkenal cerdik, rajawali itupun memutar otaknya untuk mencari jalan keluar agar segera mendapatkan air. Rajawali itupun kemudian terbang tinggi dan turun menuju ke gentong dengan kecepatan penuh untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi gentong itu amat kuat. lagi-lagi Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar, lalu terbang kearah gentong dengan kecepatan tinggi pula, kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya dengan menggebrak gentong tersebut, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi yang terjadi, gentong itu terlalu kokoh untuk ukuran rajawali. 

Karena ingin mendapatkan air secepatnya, Rajawali itu duduk termenung di sarangnya dan berfikir bagaimana cara memecahkan dan mengambil air dari gentong tersebut dengan mudah. Ia berpikir terus menerus dan memikirkan segala cara, Ia tidak mau mati karena kehausan, dia pantang menyerah. Rajawali kemudian melihat banyak batu-batu kecil di tanah dan tiba-tiba Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam gentong. Ia memasukkan batu secara terus menerus ke dalam gentong sampai penuh dengan batu. Apa yang terjadi ? ternyata Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang cerdik dan pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Ternyata benar kata Pepatah bahwa “ Jika ada kemauan pasti ada jalan keluar untuk segala kesulitan. “ Rajawali cerdik itupun telah membuktikannya.

Kisah Ular Kobra yang Baik hati

Di hamparan pematang sawah yang mulai lebat oleh pucuk rimbun tanaman padi, ada seekor ular Kobra warna hitam yang bertubuh panjang. Sang kobra berjalan menyusuri sela-sela pematang sawah. Tubuhnya meliuk-liuk dan kepalanya tegak sepsrti siap untuk mematuk musuhnya. Teman-temannya memanggil namanya Si Branas.

Si kobra Branas terkenal mempunyai racun yang dapat melumpuhkan dan ganas. Siapapun yang terkena bisa kobra pastilah merasakan sakit. Karena itulah si Branas menyesal mempunyai racun karena selalu membuat teman dan lawannya celaka. Pernah ada seekor kambing yang lumpuh karena patukan si kobra karena tidak sengaja. "Maafkan kesalahanku ya kambing, aku benar-benar tidak sengaja." kata si Branas menyesali perbuatannya.

Kisah ular kobra

Si kambing menjawab,"tidak perlu menyesal kawan, aku tidak apa-apa dan tidak marak kok." Kambing yang baik hati itu menghibur sahabatnya si kobra. Ternyata, kambing sembuh dari lukanya dalam beberapa hari kemudian. Si Branas ikut gembira, namun si kobra itu tetap ingin menghilangkan racunnya.

Kemudian hari, Kobra menemui si jangkrik dan menyampaikan keinginannya untuk menghilangkan racun dari tubuhnya. Namun si jangkrik menghibur si kobra agar racunnya tidak dihilangkan dengan alasan suatu hari nanti racun itu akan berguna. Dengan kecewa branas meninggalkan jangkrik karena temannya tersebut tidak menyetujui keinginannya.


Kemudian si kobra menemui sang buaya dan menyampaikan keluhannya peraia seperti yang dia keluhkan kepada si jangrik. Namun jawaban si buaya tidak memuaskan si kobra juga. Lalu muncullah srigala yang buruk sifatnya. Srigala tahu kalau branas ingin menghilangkan racun dari tubuhnya. Lalu dengan akal liciknya si srigala membohongi kobra agar bertemu dengan macan hitam di goa seberang sungai.

Bergegaslah si kobra menyusuri sungai dan sampailah dia di depan goa yang dimaksud. Si branas mengutarakan maksudnya kepasa si macan hitam tersebut. Ternyata apa jawab ai macan ? " hai kobra, kebetulan aku lagi kelaparan, untuk menghilangkan racunmu maka aku akan memakanmu, bagaimana ?". 

Mendengar macan ingin memangsanya, si kobra lari dan bersembunyi di balik semak belukar. Macan hitm mencari kesana kemari dan akhirnya... Si kobra mematuk kaki macan tanpa sempat ada perlawanan dari si macan. 

Akhirnya macan jahat itu lumpuh dan minta maaf kepada si kobra. Teman-teman kobra juga bersyukur si kobra tidak jadi menghilangkan racunnya karena akan berguna suatu saat nanti.

Kisah Burung dara dan Burung kasuari

Kisah Burung dara dan Burung kasuari. Pada zaman Dahulu seekeor burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. si burung memiliki sayap yang lebar, lebat dan kuat hingga si burung bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi sekalipun. akan tetapi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya. 

kisah kasuari dan burung dara

Karena kesombongannya itulah dia tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka juga menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari. Tiba-tiba burung dara elok mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena dara elok hanyalah burung kecil, tapi dara elok meyakinkan mereka bahwa dia mampu.

Mereka semua lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”

“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”

Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.


Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap dara elok akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam dara elok menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya. Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”. Burng-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara dara elok hanya tersenyum menanggapinya.

Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap dara elok. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. dara elok pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap dara elok yang patah. Kini giliran dara elok yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.

dan Sekarang mereka sudah bersiap-siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, dara elok dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap dara elok telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.

Kisah Bunglon dan Putri cantik

Kisah Bunglon dan Putri cantik. Pada zaman antah brantah dahulu kala, di sebuah desa pinggiran hutan yang lebat sekali. tinggallah seorang nenek janda dengan anak gadisnya yang cantik jelita. walaupun berwajah rupawan, gadis itu amat rendah diri. Ia malu karena warna kulitnya sering berubah-ubah. Kalau duduk di atas rumput, kulitnya menjadi hijau. Kalau makan sawo, kulitnya berwarna coklat. Terkena sinar matahari pagi, kulitnya akan menjadi kuning. Gadis itu paling merasa sedih jika ia berada di tempat gelap. Kulitnya seketika menjadi hitam kelam. Karena warna kulitnya sering berubah-ubah itulah ia dijuluki putri cantik Warna-Warni.

si putri cantik Warna-Warni bersahabat baik dengan seekor Bunglon. Dimana ada putri cantik Warna-Warni, di sebelahnya selalu ada sahabat karibnya itu. Mereka bersahabat karena memiliki nasib yang sama. Kulit mereka sering berubah-ubah dengan sendirinya.Suatu hari, saat bulan purnama bersinar di langit, betapa cantiknya putri cantik Warna-Warni. Kulitnya putih bersih, berkilau ditimpa cahaya rembulan yang indah.

putri cantik

“Kamu cantik sekali dalam cahaya rembulan, putri cantik Warna-Warni. Kamu tak ubahnya seperti seorang putri cantik kerajaan,” puji Bunglon sahabatnya.

putri cantik Warna-Warni tersipu mendengar pujian itu.“Namun aku akan segera menjadi putri cantik jelek kalau rembulan tak menyinari tubuhku,” kata putri cantik Warna-Warni sedih. Wajahnya nampak mendung.

“Jangan begitu putri cantik Warna-Warni. Kau tetap putri cantik yang baik hati meski kulitmu berubah menjadi merah, kuning, hijau ataupun biru. Hatimu yang mulia tak akan berubah hanya karena perubahan warna tersebut.”

Mendengar kalimat bunglon sahabatnya, putri cantik Warna-Warni amat terharu.Tanpa mereka sadari, lewatlah seorang pangeran yang pulang kemalaman sehabis berburu. Ia amat terpesona dan takjub melihat kemolekan paras putri cantik Warna-Warni. Belum pernah dia melihat seorang putri cantik secantik itu.

“Wahai putri cantik cantik, kau tak pantas tinggal di pinggir hutan yang sepi dan gelap ini. Tinggallah di istanaku. Kau akan kuangkat jadi permaisuriku. Tunggulah tiga hari lagi, pengawalku akan menjemputmu dengan kereta yang ditarik empat ekor kuda putih.”

Hati putri cantik Warna-Warni berbunga-bunga mendengar perkataan sang pangeran. Sebentar lagi ia akan menjadi permaisuri. Tak lagi hidup miskin, dan tak perlu tinggal di pinggir hutan lagi. Namun si bunglon sangat sedih, karena merasa akan ditinggal sendiri.


Kegembiraan putri cantik Warna-Warni sampai terbawa ke mimpinya. Ia bermimpi pesta pernikahannya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Ada berbagai macam hiburan. Berbagai macam makanan dan minuman dihidangkan. Namun sang pangeran tampak kecewa setelah tahu warna kulit permaisurinya berubah-ubah terus. Kadang terlihat cantik, kadang terlihat jelek.

Mimpi itu membuat putri cantik Warna-Warni gelisah. Keesokan harinya, kembali bermimpi. Seorang pertapa sakti muncul di hadapannya. Pertapa itu berkata,“Mudah sekali menyembuhkan perubahan warna kulitmu itu putri cantik Warna-Warni. Makanlah daging Bunglon sahabatmu itu. Maka kulitmu akan normal kembali.”

putri cantik Warna-Warni menceritakan mimpinya itu kepada Bunglon sahabatnya. Si Bunglon malah tersenyum mendengarnya, dan berkata,“Mimpiku juga sama dengan mimpimu, putri cantik Warna-Warni. Seorang pertapa sakti memintaku untuk bersedia memberikan tubuhku buat kesembuhanmu. Aku bersedia membantumu, putri cantik! Asal hidupmu bahagia bersama Pangeran itu,” ujar Bunglon tulus.

putri cantik Warna-Warni termenung.“Ayo, putri cantik Warna-Warni. Nanti malam, bakarlah tubuhku untuk hidangan makan malammu,” lagi-lagi Bunglon itu menawarkan diri.

Sang putri cantik Warna-Warni terharu.“Tidak, Bunglon sahabatku. Aku tidak mau meraih kebahagiaan dengan mengorbankan dirimu. Kau adalah sahabatku yang terbaik. Besok kalau pengawal pangeran itu datang, biarlah kutolak ajakannya. Aku tidak mau menjadi permaisuri. Biarlah aku menjadi putri cantik Warna-Warni seperti ini saja. Asal kau tetap disampingku, Bunglon sahabatku.”Dua sahabat itu akhirnya berangkulan bahagia. Dan si putri cantik tak akan tergoyahkan dengan ajakan sang Pangeran itu.

Kisah Semut dan Paduka Raja

Pada saat dahulu kala jauh nun disana, di zaman kekaisaran kuno, hiduplah seorang Paduka Raja yang sangat terkenal keadilannya. Paduka Raja tersebut sangat mencintai rakyatnya. Bahkan Paduka Raja tersebut dalam mencinta keluarganya tidak melebihi cintanya pada rakyatnya. Sehingga kalau ada anggota keluarganya yang bersalah tetaplah di hukum sebagaimana orang lain. Yang lebih istimewa lagi, Paduka Raja ini juga penyayang Dunia Binatang.

Karena cintanya pada Dunia Binatang, suatu hari Paduka Raja yang adil itu pergi berjalan-jalan menemui seekor Semut Imut. Si Semut Imut merasa senang dan bangga mendapat kunjungan dari Paduka Raja.

semut

“Bagaimana kabarmu, Semut Imut?” tanya sang Paduka Raja.“Hamba baik-baik saja Baginda,” jawab Semut Imut gembira.“Dari mana saja engkau pergi?”

“Hamba sejak pagi pergi ke beberapa tempat tetapi belum juga mendapatkan makanan, Baginda.”

“Jadi sejak pagi engkau belum makan?”

“Benar, baginda.”

Paduka Raja yang adil itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata, “wahai, Semut Imut. Beberapa banyak makanan yang engkau perlukan dalam setahun?”

“Hanya sepotong roti saja baginda,” jawab Semut Imut.“Kalau begitu maukah engkau kuberi sepotong roti untuk hidupmu setahun?”“Hamba sangat senang, Baginda.”

“Kalau begitu, ayo engengkau kubawa pulang ke istana,” ujar Paduka Raja, lalu membawa Semut Imut itu ke istananya. Semut Imut sangat gembira karena mendapatkan anugerah makanan dari sang Paduka Raja. Ia tidak susah-susah lagi mencari makanan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian sang Paduka Raja akan lebih manis dan enak.

“Sekarang engengkau masuklah ke dalam tabung yang telah kuisi sepotong roti ini!” perintah sang Paduka Raja. “Terimakasih, Baginda. Hamba akan masuk.”

“Setahun yang akan datang tabung ini baru akan kubuka,” ujar sang Paduka Raja lagi.“Hamba sangat senang, Baginda.”

Tabung berisi roti dan Semut Imut itu pun segera ditutup rapat oleh sang Paduka Raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk ke dalamnya. Tabung tersebut kemudian disimpan di ruang khusus di dalam istana.

Hari-hari berikutnya sang Paduka Raja tetap memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya setelah genap setahun, teringatlah sang Paduka Raja akan janjinya pada Semut Imut.

Perlahan-lahan Paduka Raja membuka tutup tabung berisi Semut Imut itu. Ketika tutup terbuka, si Semut Imut baru saja menikmati roti permberian Paduka Raja setahun lalu.

“Bagaimana kabarmu, Semut Imut?” tanya sang Paduka Raja ketika matanya melihat Semut Imut di dalam tabung.“Keadaan hamba baik-baik saja, Baginda.”Tidak pernah sakit selama setahun di dalam tabung?”

“Tidak baginda. Keadaan hamba tetap sehat selama setahun.”

Kemudian sang Paduka Raja termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik Semut Imut di dalam tabung.“Mengapa roti pemberianku yang hanya sepotong masih engkau sisakan separuh?” tanya sang Paduka Raja.


“Betul, Baginda.”“Katanya dalam setahun engkau hanya memerlukan sepotong roti. Mengapa tak engkau habiskan?”

“Begini, Baginda. Roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan


Baginda lupa membuka tutup tabung ini. Kalau Baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali.”

Sang Paduka Raja sangat terkejut mendengar penjelasaan si Semut Imut yang tahu hidup hemat. Sang Paduka Raja tersenyum kecil di dekat Semut Imut.

“engkau Semut Imut yang hebat. engkau dapat menghemat kebutuhanmu. Hal ini akan kusiarkan ke seluruh negeri agar rakyatku dapat mencotohmu. Kalau Semut Imut saja dapat menghemat kebutuhannya, mengapa manusia justru gemar hidup boros?”

“Sebaiknya Baginda jangan terlalu memuji hamba,” jawab si Semut Imut.Semut Imut itu akhirnya mendapat hadiah lagi dari Paduka Raja. Sebagai tanda terima kasih karena telah mengajarinya hidup hemat dan sederhana

Kisah sang Kera si Raja Hutan

Kisah si kera sang raja Hutan. Di suatu hari yang cerah, di  hutan rimbun itu sedang diselimuti adanya berita duka. sebab apa ?, sebab sang pemimpin hutan yaitu Sang Raja hutan sang “Singa” ditembak oleh pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. tidak berapa lama seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru dan kuat tentunya. 
Pada pemilihan Pertama yang dicalonkan adalah si Macan Tutul, akan tetapi macan tutul menolak. “Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang,” ujarnya. “Kalau begitu Badak saja, kau kan sangat kuat,” kata binatang lain. “ohhh tidak , penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali.” “oooo,,,mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..”, ujar binatang-binatang lain. “Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat,” sahut gajah.

kisah kera

Para binatangpun menjadi bingung, mereka belum juga menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, “Manusia sajalah saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa”. “Tidak mungkin,” jawab tupai. “Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja,” ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat si Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya sih hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat dan enak.

Para Penghuni hutan menjadi kesal, terutama si serigala. Serigala jadi berpikir, “bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak”. Serigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. “Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezar, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu,” ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama serigala.

Di tengah-tengah rimbun hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. “Tolong…tolong,” teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

“Hehehe ! tidak pernah kubayangkan, seorang raja hutan bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang oleh manusia, Raja seperti si kera mana bisa melindungi rakyatnya,” ujar serigala dan binatang lainnya. dan tidak lama kemudian setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.

Kisah si Burung dan Serigala hutan

Kisah si Burung dan Serigala hutan. Di sebuah hutan yang tanahnya subur dan lebat, hiduplah sekelompok burung yang imut-imut dan manis. Mereka hidup dengan rukun dan damai serta saling menolong satu sama lainnya.Namun suatu hari ketentraman mereka terusik oleh sekelompok serigala hutan yang kelaparan. Kelompok serigala tersebut buas dan ganas tidak pandang bulu siapa yang ingin dimangsa.


Di hutan seperti tidak ada lagi rasa tenteram dan damai seperti dahulu. Setiap hari kawanan serigala selalu mengintai dan memangsa mereka. Korbanpun berjatuhan dan jumlah burung-burung cantik itu semakin berkurang hari demi hari.

Pada akhirnya kelompuk burung itupun mengadakan rapat bersama dan membahas bagaimana caranya mengusir sang serigala. " mari kita tantang mereka si serigala itu untuk berlomba melawan kita, yang kalah harus meninggalkan hutan ini dengan segera"kata kawanan burung. "Bagaimana kalau lomba terbang, pasti serigala akan kalah", kata burung yang satunya. " Mana mungkin serigala mau, kan serigala tidak mempunyai sayap ?", kata burung satunya lagi berpendapat.


"Bagaimana kalau diadakan lomba lari saja", kata sebagian yang lain berpendapat. Ternyata pendapat mereka semua tidak disetujui. Akhirnya ada satu burung yang berpendapat, " bagaimana kalau lomba menyembunyikan kepala ?", akhirnya pendapat itu disetujui. Akhirnya mereka berkumpul disuatu tempat yang telah disepakati sebelumnya. Kelompok burung mendapat giliran pertama dan burungpun bersiap melakukan aksinya. Burung itupun menyembunyikan kepalanya ke dalam sayap. Kelompok serigala ternyata kebingungan dan hanya bisa melongo keheranan.


Giliran serigala yang harus tampil, namun serigala itu kebingungan bagaimana menyembunyikan kepala mereka. Serigala mencoba menutupi dengan tangan namun masih terlihat juga. Akhirnya serigala mempunyai rencana untuk mencari seorang penebang kayu. Serigala berniat menyuruh si penebang kayu untuk memotong kepala mereka agar bisa disembunyikan, begitu fikir si serigala berputus asa karena gagal dengan cara mereka.

Akhirnya serigala memerintahkan penebang kayu untuk memotong kepalanya dan akhirnya apa yang terjadi ?, serigala itupun mati. Kawanan serigala yang lain lari terbirit-birit keluar dari hutan kawasan si burung. Lega hati para burung, mereka tidak perlu cemas lagi dengan ancaman yang setiap hari meneror mereka.

Dongeng Negeri kerajaan raksasa

Dongeng Negeri kerajaan raksasa. Di zaman dahulu ketika umur bumi sangat masih muda,terjadi peperangan dan kekacauan di mana-mana. Para kerajaan saling berperang untuk memperebutkan wilayah dan melebarkan kekuasaan.


Jaman dunia di dominasi dua kerajaan besar yang sama-sama kuat.Kerajaan Eutopia yang di pimpin oleh raja sang alexander yang bijak,dan kerajaan Theodore yang di pimpin oleh raja sang zuma yang kejam dan berlaku tiran. Kedua kerajaan besar itu bertarung bertahun-tahun,menyerang dan bertahan,berusaha menjatuhkan satu sama lain untuk mempertahankan kekuasaan masing-masing.

Tidak terasa sudah hampir 40 tahun lamanya dua kerajaan itu berperang.Dan usia raja alexander dan raja zuma pun semakin tua.Dan ahirnya pada suatu hari di mulailah sebuah awal dari perubahan zaman,yang akan mengahiri perang tapi juga menjadi awal sebuah bencana baru yang mengerikan.

Pada suatu ketika raja zuma sedang termenung di singgasananya,datanglah seorang penyihir tua menemuinya.Penyihir itu bercerita tentang adanya para prajurit yang sangat kuat,berani,kejam,dan tak terkalahkan.

Merekapun di kurung dalam sebuah tempat di langit yang tersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan,sang pencipta menghukum mereka dengan menurunkan para prajurit bersayap untuk memenjarakan mereka dan menjauhkan mereka dari bumi, tempat para manusia. Raja zuma sangat tertarik mendengar kisah sang penyihir,dia menemukan harapan untuk memenangkan peperangan yang sudah berlangsung sekian tahun."Lanjutkanlah cerita mu..".Kata raja zuma.kemudian Si penyihir pun kembali bercerita,bahwa ada sebuah cara untuk mendatangkan mereka. Dengan membuat sebuah jembatan yang menjulang dari bumi kelangit.

"Bagaimana ya caranya membuat jembatan penghubung yang menjulang ke langit?Itu hal yang mustahil..".Tanya raja zuma."Mungkinkah jika hanya mengandalkan manusia,memang tak mungkinpaduka.Tapi dengan sedikit sihir yang hamba miliki,keajaiban dapatterjadi..".Jawab si penyihir.pada Ahirnya..Sang raja zuma pun berniat mendatangkan prajurit yang dikutuk itu,dia berniat menggunakan mereka untuk menumbangkan kerajaan eutopia. Dan dia mengangkat si penyihir sebagai penasehatnya. kemudian Pada hari yang di ramalkan dalam buku si penyihir,di mulailah upacara pembebasan itu. Ketika mendung bergelanyut hitam di kolong langit,ketika guntur dan kilat menyambar menciutkan nyali,jangan kau tanya dari mana suara itu berasal.

disitu adalah suara para prajurit terkutuk yang sedang menempa pedang dan kapak-kapak mereka.Menunggu waktu di mana mereka akan di bebaskan. Lalu..Si penyihir melempar tiga biji kacang yang sudah di mantrai di sebuah tanah lapang.Lalu dia siram dengan sebuah ramuan aneh yang dia bawa di sebuah botol kecil. Dan keajaiban pun terjadi...keTiga biji kacang itu tumbuh menjadi pohon kacang raksasa,yangmenjulang tinggi menembus mrnjulang hingga ke awan. Raja zuma dan para prajuritnya berkumpul juga di tanah lapangitu,mereka menunggu apa yang akan turun dari atas sana. Tapi semua sungguh di luar dugaan,ternyata yang datang adalah para raksasa yang liar dan tak terkendali. Jumlah mereka sangat banyak,mencapai ratusan. Mereka memakan segala hal yang mereka temui,ternak bahkan manusia.

Tidak butuh waktu lama, kerajaan theodore yang besar dan megah menjadi porak poranda,hancur menyisakan puing-puing. Raja zuma mulai menyadari kesalahanya,sifat angkuh dan serakah telah mendorongnya untuk melakukan hal ceroboh. Tapi semua sudah terlanjur,apa yang telah di mulai tak bisa lagi dia ubah. Dan ahirnya raja zuma pun mati di tangan para raksasa yang dia datangkan sendiri.

Setelah kerajaan theodore musnah para raksasa mulai merambah ke negeri-negeri lain di sekitarnya. Mereka menjarah,memakan,dan menghancurkan apapun yang mereka temui. Berita ini ahirnya sampai pada raja alexander. Para raksasa mulai mendekat ke negeri yang di pimpinya. Dia mengerahkan semua rakyat dan prajurit yang dia miliki untuk membangun sebuah tembok yang tinggi dan besar mengelilingi kota,dan dia menyuruh semua rakyatnya untuk masuk dan berlindung ke dalam kota yang kini berubah fungsi menjadi benteng.

Tetapi Kegelisahan selalu meliputi raja alexander. Jika sampai tembok itu berhasil di tembus,maka tak akan ada lagitempat berlindung. Karena kota itu adalah benteng terahir mereka.ketika raja alexander sedang dalam gundah,datanglah orang yang tuaberjanggut putih yang datang menemuinya. Dia adalah seorang yang bijak dan ahli dalam hal keagamaan. Lalu Orang berjanggut putih itu berkata pada raja alexander.."Wahai sang baginda raja,anda adalah seorang raja yang baik dan adil. Paduka tidak usah gundah,karena hamba kemari ingin menyampaikan apa yang hamba tahu".

"bahwa Sang pencipta telah memberi hamba ilham dalam mimpi hamba,cara untuk mengalahkan para raksasa. Senjata biasa tak kan mampu menembus kulit mereka,karena sihir hitam melindungi tubuh mereka. Tapi..Ada sebuah pedang peninggalan dari masa lalu yang dapat membunuh mereka. Para prajurit bersayap telah menyimpan pedang itu dalam sebuah gua yang kini tepatnya berada di bawah kerajaan paduka. "DAN HANYAlah MEREKA YANG PANTAS YANG MAMPU MENEMUKANYA..".

"ketika paduka telah mendapatkan pedang itu,paduka haruslah bersikap bijak. Paduka tidak boleh membunuh semua raksasa,tapi paduka hanya boleh membunuh pemimpinya saja lalu ambilah cincinya. Dengan cincin itu,paduka bisa memerintah para raksasa untuk kembali ke negeri di balik awan..".Kata lelaki berjanggut putih itu menjelaskan. Dan raja alexander menyanggupinya.Ahirnya sang raja alexander pun mencari gua tempat pedang ituberada,ahirnya dia menemukan gua itu di sebuah ruang rahasia di ruang bawah tanah. Dan raja punmembawa pedang itu dan mengumpulkan para prajurit untuk memberikan peringatan.

"Nanti, jika para raksasa datang,tidak ada satu pun dari kalian yang boleh ikut berperang. Kalian semua harus berlindung di balik benteng kota bersama para rakyat yang lain,karena senjata kalian tak mempan untuk melukai mereka. Cukup aku saja yang akan bertarung..Dan ini perintah.."kata raja alexander.


Para prajurit itu pun saling berbisik satu sama lain membicarakan keputusan raja mereka,keraguan telah meliputi hati mereka. Bagaimana mungkin membiarkan raja mereka berperang seorang diri melawan para raksasa yang ratusan jumlahnya? Mana mungkin seorang manusia dapat menang melawan para raksasa seorang diri? Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepala mereka,tapi karena itu perintah mereka hanya bisa patuh.

Ahirnya, waktu yang di tunggu tunggu pun tiba,dari kejauhan pasukan raksasa berjalan menuju kerajaan eutopia. Raja alexander berdiri di depan pintu benteng menunggu kedatangan mereka,dia mencari-cari pemimpin para raksasa itu berada. Dan ahirnya dia temukan dengan mudah,karena dengan tiga mata yang hanya di miliki pemimpin para raksasau itu Bukan hal sulit menemukanya. Lalu, raja alexander pun menaiki kudanya..siPegasus putih,kuda yang di berkahi dengan kekuatan dan kecepatan.

Dengan cepat sekali raja alexander menerjang para raksasa dan melukaikaki-kaki raksasa dengan pedangnya. Hingga para raksasa yang terkejut membuka jalan dan memudahkan raja alexander menuju pemimpin para raksasa. Para raksasapun, yang melihat pedang yang di bawa raja alexander menjadi terkejut,ketakutan mulai meliputi mereka. Itu adalah pedang cahaya yang sangat terkenal kisahnya,ribuan raksasa banyak yang mati menjadi korbanya.

Kesempatan itu tidaklah di sia-siakan oleh raja alexander,dia pun segeramenerjang ke arah pimpinan para raksasa. Dan dengan cepat dia melompat dan menerjang jantung pimpinan raksasa itu,dan pimpinan raksasa itupun terkapar. Semua berlalu begitu cepat,hingga para raksasa banyak yang tak menyadarinya. Dan tahu-tahu pemimpin mereka telah tewas..

raja alexander itupun mengambil cincin pemimpin raksasa itu danmengangkatnya ke atas,semua raksasa pun berlutut melihat cincin yang di bawa raja alexander. Raja alexander ahirnya memerintah para raksasa untuk kembali ke tempat mereka berasal. Setelah semua raksasa kembali,raja pun memerintah untuk memotong pohon kacang itu.

cincin yang di miliki oleh raja alexander ahirnya di sepuh menjadi sebuah mahkota kerajaan. Dan zaman setelah itupun menjadi damai dan kerajaan eutopia tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan luas. Rakyatnya hidup makmur,damai,dan sejahtera di bawah pimpinan raja alexander yang bijaksana..

Sementara itu para raksasa kembali ke tempatnya,negeri di balik awan. Ketika kau dengar suara guntur dan kilat yang menyambar,jangan kau tanya dari mana mereka berasal.Itu adalah suara para raksasa yang menempa pedang dan kapak-kapak mereka,yang memercikan api hingga menciptakan sambaran kilat.. Mereka masih menunggu..Dan terus menunggu..Untuk datang kembali ke dunia..

TAMAT

oleh:muhammad rifai

Cendrawasih yang sombong

Cendrawasih yang sombong. Di sebuah hutan yang lebat, tinggallah seekor burung cendrawasih. Dia merasa dirinya hewan tercantik di hutan tersebut. " di hutan ini akulah burung tercantik dan mempunyai bulu terindah.". hal itu menyebabkan dirinya menjadi sombong.


Setiap kali bertemu temannya si cendrawasih selalu mencemoohnya. karena sombong dia selalu dijauhi teman-temannya. "burung sombong...." kata temannya. Suatu hari bertemulah burung gagak dengan cendrawasih. " cendrawasih, indah sekali bulumu," sapa gagak. Tidak takutkah kamu pada pemburu ?", bila melihat pemburu segeralah menjauh", kata gagak.


Takut ?', aku tidak pernah merasa takut sedikitpun, kalian iri melihat buluku yang indah," celetuk cendrawasih dengan sombongnya. Gagak jengkel melihat tingkah dan kesombongan cendrawasih. Ditinggalkannya cendrawasih sendirian. " jangan sombong cendrawasih, kamu nanti bisa celaka." kata gagak.

Setelah gagak pergi, cendrawasih menuju hutan yang lebat. dia berputar-putar seakan menunjukkan bulunya yang indah dan lincah. ekornya berkibar dengan indahnya. Cendrawasih tidak menyadari kalau dia sedang diintai oleh pemburu. Sang pemburu tertarik dengan keindahan bulu cendrawasih. maka, dibuatlah jebakan untuk menjebak cendrawasih. berkatalah pemburu itu kepada cendrawasih " kemarilah wahai burung yang indah, aku mengagumi bulumu yang indah sekali."kata pemburu. Cendrawasih sangat bangga dipuji oleh pemburu, sehingga dia mendekati sang pemburu. dan.... akhirnya cendrawasih masuk kedalam perangkap sang pemburu.

hahaha...kena kamu burung bodoh, aku menipumu dengan kata manis."kata sang pemburu. cendrawasih menyesali kesombongannya. namun, tiba-tiba sekelompok gagak menyerang sang pemburu dan berhasil menyelamatkan cendrawasih dari perangkap pemburu itu. Kini sadarlah bahwa kesombongannya tidaklah berguna. cendrawasih menyesal dan meinta maaf kepada burung yang lainnya.

Kisah si Bunglon kecil

kisah si kecil bunglon. Bunglon tubuhnya kecil tetapi ekornya panjang sekali. warna kulitnya selalu berubah-ubah. Si bunglon sebenarnya sedih memikirkan semua itu. " aku malu, kulit dan tubuhku selalu saja berubah."


Ketika bunglon sembunyi di balik dedaunan hijau, seketika itu juga kulitnya berwarna hijau. begitu juga ketika tubuhnya merayap ke batang pohon, " sekarang kulitku menjadi coklat." seekor cicak mendekatinya dan bunglon mengamati dengan seksama. "warna kulitmu bagus sekali ", puji bunglon. " aku ingin punya kulit sepertimu wahai cicak ."

ketika ada katak mendekati, bunglon merayap turun dari atas pohon. "warna kulitmu juga bagus," kata bunglon , "tidak seperti kulitku ini, jelek !" .Bagaimana agar kulitku seperti kulitmu ?". Tanyakan saja pada kadal ", saran katak. Bunglon kemudian melompat dari atas pohon. " aku akan mencari kadal," katanya.
Bertemulah bunglon dengan kadal. " kalau ingin kulitmu bagus, pergilah ke tengah hutan, bersemedi disana selama tujuh malam". kata kadal. bunglon ditemani kadal menuju hutan. bunglon disuruh kadal agar bertapa di lubang pohon. Ketika bunglon mendekati lubang di pohon itu tampak sepasang mata berwarna hijau memandangnya. bunglon ketakutan dan gemetar. 

Ternyata ada kucing hitam yang siap menerkam bunglon. dengan mulut menyeringai, kucing itu maju perlahan. bunglon bergeser mundur dan bunglon langsung melompat ke atas pohon. seketika itu juga tubuh bunglon berwarna coklat. kucing hitam itu mencari kesana kesini tidak melihat tubuh bunglon walaupun ada di dekatnya. ketika kucing mengetahuinya secepat itu pula bunglon melompat ke daun dan tubuhnya menjafi hijau. kucing kehilangan bunglon untuk kesekian kali. 

akhirnya kucing pergi dengan marah-marah karena tidak menemukan bunglon yang bisa berubah warna. dengan kejadian iti bunglon merasa bersyukur dengan ciptaan Tuhan yang terbaik untuk dirinya.

Kisah jerapah dan kura-kura tua

Pada suatu padang rumput yang rimbun ada seekor jerapah. karena tinggi badannya membuatnya menjadi anak yang sombong. Seringkali dia mengajak teman-teman jerapahnya untuk lomba makan daun-daun di pohon yang dahannya sangat tinggi. Dan sudah dapat dipastikan, Edo lah si pemenang perlombaan itu. Berkali-kali dia memenangkan perlombaan makan daun dari puncak pohon, membuat Edo semakin besar kepala saja. Dia merasa hewan yang paling hebat di kawasan padang rumput itu. sampai dia tidak menghormati para sesepuh jerapahnya. Dia sering mengejek para jerapah-jerapah tua itu dengan sebutan “leher panjang", karena memang mereka sudah beranjak tua.

suatu hari, Edo saat berjalan- jalan sendiri di padang rumput, dia sedang enak dan asik melenggang bak anak yang sombong. Lehernya tegak lurus ke atas, dengan kepala terangkat. Lalu berhenti di suatu gundukan. Edo tidak sadar kalau yang dia injak gundukan itu adalah seekor kura-kura. Seekor kakek kura-kura yang sudah berumur tua. Lalu, si kakek kura-kura berusaha keras mengangkat tubuhnya dan berjalan maju selangkah, bermaksud agar Edo merasa jika di bawah kakinya berdiri menginjak seekor kura-kura. Lalu Edo tersandung. “Aduhh!!”. Edo malah tidak bereaksi untuk minta maaf bahwa dia telah menginjak tempurung kakek kura-kura itu. Sebaliknya, dia malah marah-marah. “Dasar kura-kura tua, aku jadi mau terjatuh nih.” Tidak puas dengan cukup berkata-kata, Edo pun langsung menendang tempurung kakek kura-kura, yang akhirnya kakek kura-kura terlempar beberapa jengkal.

kemudian kakek kura-kura hanya ringan menasihati Edo, “Anak muda, jangan kamu sombong. Kamu itu masih muda, tubuhmu masih kuat, sayangilah sesama makhluk hidup ciptaanNya. Suatu hari nanti, kamu juga akan menjadi tua, pasti akan banyak yang lebih hebat dan kuat darimu.” Edo cuek tidak menghiraukan begitu saja sambil tidak memperdulikan nasihat kakek kura-kura. Tidak lama kemudian, awan mendung datang. Mendung yang begitu tebal, langit yang sebelumnya biru cerah menjadi abu-abu kelabu. Di padang rumput itu masih tertinggal Edo dan si kakek kura-kura yang berjalan sangat lambat menuju ke tepi di bawah pepohonan. Seakan masih ingin memperlihatkan kesombongan dan kekuatannya, Edo malah tidak bergegas pergi meninggalkan padang rumput yang hendak diguyur hujan. Dia hanya ingin menunjukkan kehebatannya ke kakek kura-kura, bahwa dia tinggi gagah di tengah padang rumput yang luas, dengan melenggang santai dan sombong, sambil dirinya membandingkan si kura-kura yang pendek dan lambat berjalan.

saat turun hujan sangat deras seketika itu datang mengguyur. Dan tiba-tiba petir yang sangat hebat menyambar, “DuooooRRRRR.” Akhirnya, Edo si jerapah leher panjang itu ambruk, terjatuh ke tanah. Saat itu, kepala kakek kura-kura aman di dalam tempurungnya, tidak kehujanan dan juga terhindar dari petir yang dahsyat menyambar padang rumput. Tidak diam begitu saja, si kakek kura-kura dengan langkah pelan tapi pasti, dia mendekati ke Edo, dan memberikan perhatiannya. “Kamu tidak apa-apa, anak muda? Bangunlah, kenapa malah terdiam bengong tetap bersungkur di tanah?”. Lalu Edo menjawab, “kakek kura-kura,…aku takutttt.. huwaaaa…” sambil merengek bak anak kecil yang lemah. “Maafkan aku kakek kura-kura, sudah menginjak tubuhmu dengan angkuhnya. Walaupun kakek kura-kura sudah tua, tapi tetap kuat, tempurungmu mampu menopang berat badanku ini. Maafkan aku kakek kura-kura, karena sudah menendangmu, sampai terlempar beberapa langkah. Aku berjanji tidak akan menjadi anak yang sombong lagi, menolong sesama makhluk ciptaanNya.”

maka sejak saat itu, Edo tidak lagi menjadi jerapah yang sombong, namun berubah menjadi si jerapah yang baik hati dan suka menolong teman-temannya.

cerita ular dan Penebang kayu

Cerita ular dan penebang kayu. Hujan salju begitu lebat. Begit juga di desa Pak Penebang Kayu. Salju turun dengan berlapis-lapis dan lebatnya. Semua atap rumah, lumbung pangan, kandang-kandang berselimut salju. Pagar, ladang, tanaman, dan pepohonan.Cucuran air dari atap membeku dan keliat dingin. Air di dalam tong juga membeku. Selokan membeku. Bahkan sungai membeku keras seperti es batu. Udara teramat dingin menggigit tubuh.


Bapak Penebang Kayu seorang yang sangat rajin. Walau dinginnya menggigit ia tetap pergi ke hutan memotong pohon untuk kayu bakar. Dia mengenakan mantel yang tebal. Topi bulu menutupi kedua daun telinganya. Sepatu bulu yang tebal membungkus kedua kakinya. Ia memanggul kapak dan melangkah keluar pintu. Kaki-kakinya berat melangkah menembus salju setinggi lutut. Uap mengepul-ngepul menghembus keluar dari cuping hidungnya.

Setelah sekian lama bekerja di hutan, bapak Penebang Kayu melangkah pulang. Di tepi hutan ia melihat di kejauhan sesuatu yang panjang berwarna hitam melintang membujur di tengah jalan setapak. Ia merasa penasaran dengan benda itu, lalu mendekatinya dengan penuh rasa ingin tahu. Ternyata si benda hitam dan panjang itu adalah seekor ular yang kaku membeku kelihatan tak bergerak. Pak Penebang Kayu seorang yang baik hati, ia lalu memungut ular itu dan memasukkannya dalam kantung yang ia bawa.


Setibanya di rumah, dia duduk di kursi dekat perapian. Dia mengeluarkan kantungnya dan meletakkan ular beku itu di dekat api yang hangat. Anak-anaknya berkerubung mengelilinginya. Perlahan ular itu menggoyangkan sisi ekornya, lalu menggerakkan badannya menggeliat perlahan. Anak-anak pun bergembira melihat ular itu bisa bergerak kembali. Anak laki-laki kecil yang paling berani mengulurkan tangannya dan membelai tubuh ular itu.

Tetapi apa yang terjadi? Ular itu menyeringai, membuka mulutnya menunjukkan dua taring tajamnya yang mengerikan. Ia mendesis, meliuk liukkan kepalanya hendak memagut tangan si kecil. Pak Penebang Kayu yang waspada melompat dari duduknya, meraih kapak dan memukul kepala ular itu hingga pingsan.

Bapak Penebang Kayu membawa ular itu ke halaman. Dia melemparkan ular itu jauh ke seberang jalan. Udara masih dingin membeku dan salju masih tetap turun. "Ah!" kata Pak Penebang kayu dengan sedih, "dasar binatang yang tak tahu berterimakasih!"

Kisah si Rusa bertanduk panjang

Kisah si rusa bertanduk panjang. Ada Seekor rusa jenis jantan berdiri tegap di pinggir sungai. Air di sungai itu begitu jernihnya dan mengalir dengan lambat ke hilir sungai.si rusa minum air itu dengan perlahan. Begitu segarnya untuk dirinya yang sangat kehausan.


Air itu sangat bening sekali sehingga dia bisa melihat bayangan dirinya di permukaan sungai itu. Perlahan ditatapnya bayangan dirinya, mulai dari tanduknya hingga ujung kakinya.

"Ohhhh alangkah indahnya tandukku ini. Begitu besar dan kuat sekali. Membuatku terlihat gagah tampan dan berwibawa," seru si rusa jantan dengan bangganya. Ia menelengkan kepalanya, memamerkan tanduknya yang indah pada bayangannya di atas air. 


"Akan Tapi betapa kurusnya kaki-kakiku ini ya," keluhnya. Ia menatap kakinya yang tampak lemah dan kurus. "Tak sebanding dengan kegagahan tandukku ini!"
Tidak disangka, ketika ia sedang sibuk memandangi bayangannya, seekor singa mengintai di balik pepohonan yang rimbun.

Dengan cepat singa itu melompat keluar dari rimbunan semak, berlari cepat ke arah si rusa jantan.

Rusa itu terkejut bukan kepalang gugupnya, tapi dengan segera ia berlari melarikan diri dari kejaran singa yang ganas. Ia berlari sangat kencang jauh meninggalkan sang singa, menerobos pepohonan di tepi sungai. Ketika ia menyangka sudah bisa melepaskan diri dari kejaran, tiba tiba tanduknya yang besar tersangkut pada ranting-ranting pohon. Ia meronta sekuat tenaga, tapi semakin keras ia berusaha semakin kuat ia terjerat. Singa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, lalu dengan mudah ia menerkam rusa jantan itu.

"Ohhh Betapa bodohnya aku ini memandang rendah kakiku ini, padahal kakiku bisa menyelamatku. Sedangkan aku malah bangga pada tandukku yang malah membuatku akan celaka!" kata rusa itu dengan penuh sesal.

kisah cerita semut dan kepompong

Ada Seekor semut yang sedang bergegas kesana kemari mencari makanan kesukaannya di bawah terik sinar makanan. Si dia menemukan sebuah kepompong, benda bulat yang tergantung di dahan sebuah pohon. Si Kepompong itu menggoyang-goyangkan ekornya, sehingga akhirnya si semut itu tahu, kepompong itu seekor makhluk yang hidup.


"Kasihan sekali kamu ya, Binatang yang menyedihkan!" kata semut itu mencela kepompong. "Nasibmu buruk sekali! Aku bisa berlari kesana kemari, bahkan memanjat naik ke puncak pohon tertinggi. Sedangkan kamu terkurung diam di dalam bungkus itu dan hanya bisa menggoyangkan ekormu saja!"


Kepompong itu mendengar semua perkataan si semut , tapi ia diam saja tidak menghiraukan.

Di hari kemudian, semut itu kembali ke tempat kepompong itu berada. Tapi kepompong itu sekarang hanyalah berupa sebuah bungkus yang kosong. Ia penasaran, apa yang terjadi dengan kepompong itu? Tiba-tiba sepasang sayap kupu-kupu yang indah muncul di hadapannya, begitu indahnya sehingga semut itu merasa malu pada penampilannya sendiri.

"Lihatlah diriku sekarang wahai semut," kata si kupu-kupu. "Aku yang dulu patut kau kasihani. Sekarang engkau sombongkanlah dirimu yang punya kemampuan naik ke puncak yang tinggi."

Kupu-kupu itu lalu terbang ke arah yang lebih tinggi dari puncak pohon, meluncur di udara musim panas yang hangat. dan menghilang dari pandangan semut itu untuk selamanya.

Kisah lembu dan si anak Katak

Ditengah padang rumput yang ranum hijau ada sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. di antara katak katakitu ada 1 anak katak yang bernama sora, dia adalah anak katak yang paling besar dan kuat. sora  sangat sombong. sora merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.


Sebenarnya kakak sora sering menasehati agar sora tidak sombong pada teman-temannya. tetapi nasehat kakaknya tidak pernah dihiraukan. hal ini menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya hingga kentus tidak punya teman bermain lagi

Pada suatu pagi, sora berlatih melompat di padang rumput. ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain disitu. sesekali anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali memakan rumput yang segar. secara tidak sengaja lidah sapi anak lembu itu terkena tubuh sora.


"huhhhh, beraninya makhluk ini mengusikku", kata sora dengan marah sambil menjauhi anak lembu. sebenarnya anak lembu tidak berniat mengganggunya. kebetulan pergerakannnya sama dengan soras sehingga menyebabkan sora menjadi cemas dan melompat segera untuk menyelamatkan diri.Sambil terengah-engah kentus sampai di tepi kolam. melihat sora yang kecapaian, teman-temannya heran. "Hai sora, mengapa kamu terengah-engah dan mukamu pucat sekali?", tanta temannya. "Tidak apa-apa, aku hanya cemas. Lihatlah padang rumput itu. aku tidak tau makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. makhluk itu hendak menelan aku", kata kentus.

Kakaknya yang baru tiba disitu menjelaskan. "Makhluk itu anak lembu. Sepengetahuan kakak anak lembu tidak jahat. mereka biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap hari", kata kakaknya. "Tidak jahat? kenapa kakak bisa bilang seperti itu? saya hampir ditelannya tadi", kata sora. "Ah tidah mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya makan rumput", jelas kakaknya.

"saya tidak percaya kak, tadi aku dikejarnya dan hampir ditendangnya", kata sora. "wahai teman-teman, aku sebenarnya bisa melawannya dengan menggembungkan diriku", kata sora sombong. "lawan saja sora! kamu pasti menang", teriak teman-temannya. "sudahlah sora, kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatanmu itu berbahaya, hentikan!", kata kakak sora berualng kali. Tetapi kentus tidak perduli nasehat kakaknya.sora terus menggembungkan diri karena dorongan teman-temannya. Padahal sebenarnya teman-temannya ingin memberi pelajaran pada sora yang selalu sombong.

Setelah itu sora tiba-tiba jatuh lemas. Perutnya sakit dan perlahan-lahan dikempiskan kembali. kakak dan teman-temannya menolong sora yang lemas kesakitan. Akhirnya sora malu dengan sikapnya yang sombong yang merugikan dirinya sendiri.

Kisah Pedagang kaya Raya

jaman dulu hidup seorang saudagar yang kaya raya , hidupnya bergelimpangan harta melimpah tanpa pernah merasa susah. Segala yang dia inginkan pasti dapat dimilikinya dengan mudah tanpa perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Namun, saudagar itu tidak pernah merasa bahagia, dia selalu bermuram durja dan merasa hambar dalam menjalani hidupnya.

“apa yang engkau risaukan, hidupku ini sudah cukup sempurna untuk ukuran seorang manusia, tetapi mengapa aku tak pernah merasa bahagia.” Gerutunya dalam hati.

Dia kembali memutar otaknya seraya melihat daftar kekayaan yang sudah dimilikinya. “Aku tahu kenapa, karena aku baru punya satu rumah mewah dan tak punya kendaraan pribadi untuk memudahkanku dalam bekerja?” pikirnya.

Di Keesokan harinya, dia memerintah salah seorang tangan kanannya untuk membelikan rumah mewah di kota lain dan membelikan mobil termahal di negaranya.

Tidak sampai satu minggu, kedua keinginannya pun terpenuhi, saudagar itu kini mempunyai satu rumah mewah di kota lain dan mobil termahal di negaranya. Satu dua minggu, kebahagiaan melanda hatinya yang telah lama risau.

Namun minggu selanjutnya, hati saudagar kembali risau. Dia merasa semua itu terkesan biasa dan tak memberinya kebahagian lebih. Hingga akhirnya saudagar itu memutuskan untuk menenangkan diri dengan berlibur ke Negara lain.

Dua bulan berlalu dia kembali pulang dengan wajah penuh kesedihan karena dia tak menemukan kebahagiaan di Negara yang dia kunjungi.
Saudagar itu pun merasa kekayaannyalah yang telah membuatnya bosan dan bahagia. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadi orang biasa dengan meninggalkan keluarganya dan tinggal seorang diri di kota terpencil. Tetapi kesulitan yang dialaminya menambah rasa sedih dan risau di hatinya. Bahkan kondisi ini membuatnya tak mengenal arti kebahagiaan, dia pun kembali menemui keluarganya. Dalam perjalanan pulang, dia bertemu seorang pedagang asongan di pinggir jalan yang bisa tersenyum riang. Dia mendekati pedagang itu dan mengajaknya bertukar pendapat.

“Maaf sebelumnya, apakah laba saudara dari berdagang seperti ini cukup besar?” Tanya saudagar keheranan. Pedagang asongan hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sikap pedagang itu benar-benar membuat saudagar semakin heran.
“kenapa saudara hanya tersenyum mendengar pertanyaan saya?” tanyanya lagi.
Kali ini pedagang asongan mulai angkat bicara. “perlu saudara ketahui, berdagang seperti saya untung yang paling besar bukanlah materi tapi tantangan naik turun kendaraan, berlarian, kepanasan bahkan kehujanan dalam menjajakan dagangan saya” jawabnya santai.

Mendengar jawaban seperti itu, dia kembali mengerutkan dahinya, rasa heran akan kebahagiaan yang selalu terpancar dalam diri pedagang asongan itu semakin mengebu-gebu.
Dia kembali mengajukan pertanyaan. “tapi mengapa saudara bisa tertawa riang seperti hidup penuh dengan kebahagiaan padahal saudara tak berlimpah harta dan hanya seorang pedagang asongan, selama ini saya selalu mencari dimana letak kebahagiaan itu padahal saya sorang saudagar kaya tak pernah kesusahan namun tetap saja saya tak pernah merasa bahagia dengan apa yang saya miliki” ceritanya.


“saudara perlu tahu, letak kebahagiaan sesungguhnya bukan pada materi saja, harta yang berlimpah atau terbatas tak selamanya membuat kita bahagia. Tak hanya itu, semua yang kita miliki tak akan pernah berarti apapun serta membuat kita bahagia karena letak kebahagiaan yang hakiki ada pada diri kita pribadi”
“maksud saudara apa? Saya tak mengerti”
“letak kebahagiaan yang hakiki terletak pada diri kita sendiri melalui satu rasa yakni rasa syukur. Tanpa rasa syukur semua yang kita miliki tak akan pernah membuat kita bahagia karena kita tak akan pernah puas dengan apa yang sudah kita miliki”
“terima kasih banyak. Saudara telah memecahkan kerisauan hati saya selama ini dalam mencari letak kebahagiaan”

Hikmahnya
Kita tak akan pernah merasa bahagia tanpa ada rasa syukur. Karena dengan rasa itu seperti apapun kondisi yang sedang kita jalani tak akan pernah membuat kita bersedih dan merasa risau. Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya kita menanamkan rasa syukur dalam diri kita dalam segala situasi dan kondisi.
cerita disarikan dari :cerpenmu.com

Kisah Buaya sang perompak

Dikisahkan,ada Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan sang buayanya. bahkan nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati karena ada buaya ganasnyya. Begitupun penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut sebuah cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

dan pada Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.

Sementara itu di sebuah tempat gelap di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.

“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?” tanya Aminah dalam hati. Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema. “Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.” Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.

“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut. “Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.

“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu. “Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu. “Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya Aminah.

“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.

Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.

“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu. “Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah. “Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah “Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu. “Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran. “Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.

Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung. “Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak. Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan. “Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.

Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu. “Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju. Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.

Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.

Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. “Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati. Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.

Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.

“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,” Aminah berucap syukur. Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan. “Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.

“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah. Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.

Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang

Kisah dua pengembara

Kisah dua pengembara . ada dua orang pengembara berjalan bersama di suatu jalan, dan salah satu diantara dua  pengembara tersebut menemukan sebuah kantung yang penuh berisikan uang.

"wah Betapa beruntungnya saya!" katanya, "Saya hari ini telah menemukan sebuah kantung berisi uang. Menimbang dari beratnya, saya rasa kantung ini pasti penuh dengan uang emas."

"Janganlah engkau bilang 'SAYA telah menemukan sekantung uang'," kata temannya. tapi "Lebih baik kamu mengatakan 'KITA telah menemukan sekantung uang'. Pengembara  akan selalu berbagi rasa dan kebahagiaan dengan pengembara lainnya, baik itu dalam susah maupun senang."

"oh Tidak, tidak," kata pengembara yang menemukan uang, dengan marah. "SAYA telah menemukannya dan SAYA akan menyimpannya untuk diri sendiri."

pada saat bersamaan mereka mendengarkan teriakan teriakan di belakang mereka "Berhenti, pencuri!" dan ketika mereka melihat ke belakang, mereka melihat sekumpulan orang yang terlihat marah dan membawa pentungan kayu dan tongkat, berlari ke arah mereka.

Pengembara yang menemukan uang tadi langsung menjadi ketakutan. "Celakalah kita jika mereka melihat kantung uang ini ada pada kita," katanya dengan ketakutan. "Tidak, tidak," jawab pengembara yang satu, "kamu tidak mengatakan 'KITA' sewaktu menemukan sekantung uang, sekarang tetaplah menggunakan kata 'SAYA', kamu seharusnya berkata 'celakalah SAYA'".

Kisah Huraisy binatang di neraka

Kisah Huraisy binatang di neraka.  Dikisahkan dalam sebuah kitab bahwa apabila tiba hari kiamat nanti maka akan keluar seekor binatang dari neraka Jahannam yang digelar Huraisy, yang mana panjangnya ialah jarak antara langit dan bumi dan lebarnya pula dari timur hingga ke barat.
Apabila ia telah keluar maka malaikat Jibril a.s berkata, “Wahai Huraisy, kamu hendak ke mana dan kamu hendak mencari siapa?”

Lalu berkata Huraisy : “Aku mencari lima jenis orang yaitu: .”

1. Orang yang tidak mengerjakan solat.
2. Orang yang tidak mahu mengeluarkan zakat.
3. Orang yang mendurhakai kedua orang tuanya.
4. Orang yang suka minum arak.
5. Orang yang sangat suka bercakap-cakap dalam masjid hal dunia.

Kisah nyamuk dan singa

Kisah nyamuk dan singa. ada seekor singa sedang tidur-tiduran di sebuah padang rumput di hutan. Karena perutnya sudah kenyang, ia pun tertidur. Di tengah-tengah tidurnya yang pulas seekor nyamuk terbang mengelilingi sang raja hutan tersebut. Si nyamuk hendak mengisap darah singa itu. Suara nyamuk yang mendengung membuat singa terbangun.. Ia merasa terusik dengan si nyamuk.

”Mmhhhhhhh… Awas kau nyamuk! Kau sudah mengganggu tidurku. Singa berusaha menangkap si nyamuk tapi dengan gesitnya si nyamuk bisa menghindar. ”Kau menyombongkan dirimu sebagai raja binatang. Tetapi aku tak takut padamu,” ejek Nyamuk.

Singa sangat marah sekali. Sementara itu nyamuk mencari kesempatan untuk menggigitnya. Mengakulah kalah, Taring dan cakarmu yang tajam itu pun tak mampu menyakiti diriku. Nah sekarang giliranku,” kata nyamuk lagi. Kemudian ia mengembangkan sayapnya sambil mengepak-ngepakkannya dengan dahsyat. Tak lama, nyamuk-nyamuk lain berdatangan.

”Pasukan serbuuuuu….” teriaknya. Kawanan nyamuk pun segera menyerbu. ”Tolongggg…” teriak Singa sembari menggaruk wajahnya. Karena tak tahan, Singa melompat ke sungai untuk mengompres wajahnya yang bengkak. ”Sekarang akuilah kekalahanmu,” seru Nyamuk. Lalu ia terbang dengan congkaknya. Tiba-tiba ia terjerat ke dalam sarang laba-laba. Ia berusaha keras untuk meloloskan diri. Tetapi laba-laba itu dengan cepat menyerang dan membunuhnya. ”Ohhhh, tak pernah kubayangkan aku akan mati oleh makhluk sekecil ini setelah berhasil mengalahkan Singa si Raja hutan,” tangisnya..