Kisah jerapah dan kura-kura tua

Pada suatu padang rumput yang rimbun ada seekor jerapah. karena tinggi badannya membuatnya menjadi anak yang sombong. Seringkali dia mengajak teman-teman jerapahnya untuk lomba makan daun-daun di pohon yang dahannya sangat tinggi. Dan sudah dapat dipastikan, Edo lah si pemenang perlombaan itu. Berkali-kali dia memenangkan perlombaan makan daun dari puncak pohon, membuat Edo semakin besar kepala saja. Dia merasa hewan yang paling hebat di kawasan padang rumput itu. sampai dia tidak menghormati para sesepuh jerapahnya. Dia sering mengejek para jerapah-jerapah tua itu dengan sebutan “leher panjang", karena memang mereka sudah beranjak tua.

suatu hari, Edo saat berjalan- jalan sendiri di padang rumput, dia sedang enak dan asik melenggang bak anak yang sombong. Lehernya tegak lurus ke atas, dengan kepala terangkat. Lalu berhenti di suatu gundukan. Edo tidak sadar kalau yang dia injak gundukan itu adalah seekor kura-kura. Seekor kakek kura-kura yang sudah berumur tua. Lalu, si kakek kura-kura berusaha keras mengangkat tubuhnya dan berjalan maju selangkah, bermaksud agar Edo merasa jika di bawah kakinya berdiri menginjak seekor kura-kura. Lalu Edo tersandung. “Aduhh!!”. Edo malah tidak bereaksi untuk minta maaf bahwa dia telah menginjak tempurung kakek kura-kura itu. Sebaliknya, dia malah marah-marah. “Dasar kura-kura tua, aku jadi mau terjatuh nih.” Tidak puas dengan cukup berkata-kata, Edo pun langsung menendang tempurung kakek kura-kura, yang akhirnya kakek kura-kura terlempar beberapa jengkal.

kemudian kakek kura-kura hanya ringan menasihati Edo, “Anak muda, jangan kamu sombong. Kamu itu masih muda, tubuhmu masih kuat, sayangilah sesama makhluk hidup ciptaanNya. Suatu hari nanti, kamu juga akan menjadi tua, pasti akan banyak yang lebih hebat dan kuat darimu.” Edo cuek tidak menghiraukan begitu saja sambil tidak memperdulikan nasihat kakek kura-kura. Tidak lama kemudian, awan mendung datang. Mendung yang begitu tebal, langit yang sebelumnya biru cerah menjadi abu-abu kelabu. Di padang rumput itu masih tertinggal Edo dan si kakek kura-kura yang berjalan sangat lambat menuju ke tepi di bawah pepohonan. Seakan masih ingin memperlihatkan kesombongan dan kekuatannya, Edo malah tidak bergegas pergi meninggalkan padang rumput yang hendak diguyur hujan. Dia hanya ingin menunjukkan kehebatannya ke kakek kura-kura, bahwa dia tinggi gagah di tengah padang rumput yang luas, dengan melenggang santai dan sombong, sambil dirinya membandingkan si kura-kura yang pendek dan lambat berjalan.

saat turun hujan sangat deras seketika itu datang mengguyur. Dan tiba-tiba petir yang sangat hebat menyambar, “DuooooRRRRR.” Akhirnya, Edo si jerapah leher panjang itu ambruk, terjatuh ke tanah. Saat itu, kepala kakek kura-kura aman di dalam tempurungnya, tidak kehujanan dan juga terhindar dari petir yang dahsyat menyambar padang rumput. Tidak diam begitu saja, si kakek kura-kura dengan langkah pelan tapi pasti, dia mendekati ke Edo, dan memberikan perhatiannya. “Kamu tidak apa-apa, anak muda? Bangunlah, kenapa malah terdiam bengong tetap bersungkur di tanah?”. Lalu Edo menjawab, “kakek kura-kura,…aku takutttt.. huwaaaa…” sambil merengek bak anak kecil yang lemah. “Maafkan aku kakek kura-kura, sudah menginjak tubuhmu dengan angkuhnya. Walaupun kakek kura-kura sudah tua, tapi tetap kuat, tempurungmu mampu menopang berat badanku ini. Maafkan aku kakek kura-kura, karena sudah menendangmu, sampai terlempar beberapa langkah. Aku berjanji tidak akan menjadi anak yang sombong lagi, menolong sesama makhluk ciptaanNya.”

maka sejak saat itu, Edo tidak lagi menjadi jerapah yang sombong, namun berubah menjadi si jerapah yang baik hati dan suka menolong teman-temannya.

Cerita Jerapah yang baik Budi

Cerita Jerapah yang baik Budi. di Pagi itu, si Zebri / si anak Zebra sedang bermain bersama teman-temannya.disitu Ada Ikan Salmon, Si Landak, Teripang, Bintang laut, si Penyu dan Kepiting. Setiap hari, mereka selalu bermain bersama. Terkadang mereka bermain-main petak umpet, main tebak-tebakan atau berlomba lari. ya, Tentu saja kalau diadu berlomba fisik seperti lomba lari maka si Zebrilah yang selalu menjadi juaranya. Walaupun Zebri masih anak-anak namun dibandingkan dengan tubuh teman-temannya dia yang memiliki tubuh yang lebih besar.

"itukan, aku menang lagi," kata si Zebri ketika memenangkan lomba lari pagi itu.
"Aduuhhh duhhh....aku hampir saja mengalahkan si Zebri lho kali ini...tapi langkahku kalah banyak sihhh!" teriak si Landak.
"Huuuu.huuu....ya jelas kalah dong, Ndak!...Saat berada di tikungan pertama saja kamu dapat aku susul!" seru Si Salmon.
"Wah ckckck..wah..wah...aku lelah teman-teman, untuk lomba lari kali ini aku nyerah aja dehhh !" kata si penyu, bintang laut dan teripang nyaris bersamaan.
"Hehe hehe...sebenarnya aku bisa menang lho," kata kepiting "Kakiku khan ada sepuluh, tapi saat aku masih siap-siap kalian sudah membunyikan start...yaaa...jadi aku kalah dechhhh!"
"Huuuu hmmmm...kamu ini cari-cari alasan saja, Kepiting! Akui saja kalau kamu tidak bisa menandingi kehebatan larinya si Zebri dehhh!" sergah teman-teman si Zebri.

di Dalam hati, si Kepiting berpikir bahwa memang harus diakui bahwa si Zebri selalu menang dalam hal berlomba yang menggunakan fisik, namun untuk lomba yang lain mungkin dia harus mengakui kemenanganku. Dan saat itu si kepiting berusaha mencari ide jenis lomba yang tidak akan dimenangkan si Zebri.
"Teman-teman," kata si kepiting "Setelah kita mengadakan lomba fisik, besok giliran kita berlomba yang lain.""Lomba apa itu, kepiting?" kata si teripang"Iya...lomba apa itu?" seru teman si kepiting yang lain.
"Kali ini kita akan mengadakan lomba bercerita tentang keindahan pemandangan pantai! Siapa yang ceritanya bagus, dia yang akan menjadi juaranya! Bagaimana?""Baiklah kalau begitu...aku setuju....aku setuju....setujuuuu!" teriak yang lain"Baiklah, karena hari ini sudah sore mari kita pulang. Dan besok pagi kita bertemu di tempat ini lagi untuk memulai pertandingan kita. Oke....selamat sore teman-teman...!" kata si kepiting sambil berjalan pergi meninggalkan Zebri dan diikuti teman-teman yang lain.

Kemudian Setelah satu persatu temannya pergi, si Zebri tidak beranjak selangkahpun dari tempatnya. Dia sedih dan menangis dalam hati mendengar jenis lomba yang akan diadakan teman-temannya besok pagi. "Kenapa harus Lomba bercerita keindahan suasana pantai.?" pikir di Zebri. "Uhhh, jangankan bisa bercerita tentang pantai. Sejak aku lahir saja sampai sekarang melihat pantai saja aku tidak pernah. Bagaimana bentuknya, apa saja yang ada di sana sama sekali tidak aku ketahui. Lalu bagaimana aku bisa mengikuti lomba besok pagi? Uhhh...ada-ada saja si kepiting itu!"
Semakin dipikirkan membuat si Zebri semakin sedih. Dia semakin putus asa dan ingin pergi jauh-jauh agar besok tidak malu karena tidak bisa menceritakan suasana pantai kepada sahabat-sahabatnya.
"Huuuu...huuuu...huuuu....huuuuu," si Zebri mulai menangis sesenggukan. Ia berjalan ke sana kemari tanpa tujuan. Ia berpikir bagaimana caranya dia bisa melihat suasana pantai. Sepanjang jalan dia berdoa mudah-mudahan ada yang menolong dirinya.

Tidak jauh dari tempat si Zebri, ada seekor jerapah yang sejak tadi memperhatikan tingkah si Zebri.
"ho...ho..ho...ho....Assalamu'alaikum Zebri?" sapa Pak Jerapah.
"Wa alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh, Pak Jerapah'" jawab si Zebri.
"Ada persoalan apa Kok kamu kurang ceria hari ini? kamu diganggu teman-temanmu ya?"
"eee...tidak, Pak Jerapah! Teman-temanku baik semua kok."
"Lalu...kenapa kok kamu bersedih begitu? coba ceritakan masalahmu, mungkin saya bisa membantumu."
Mendengar Pak Jerapah ingin membantunya, membuat si Zebri kegirangan. Seolah ada harapan. Seolah ada jalan keluar agar ia tahu tentang seluk beluk tentang pantai. "Tentu Pak Jerapah lebih tahu banyak tentang pantai," pikir si Zebri.
"Aku sedih, Pak Jerapah. Sebab besok pagi kita akan berlomba bercerita tentang suasana pantai. Nah, aku sedih karena sampai sebesar ini sama sekali tidak tahu apa pantai itu. Bagaimana bentuk dan apa saja yang ada di sana. Nah, kira-kira bisakah Pak Jerapah menceritakan tentang pantai , Pak?" rengek si Zebri.
"Hemmm....sebenarnya aku tahu banyak tentang pantai. Tetapi sesuatu yang diceritakan dari orang lain itu berbeda hasilnya apabila kamu melihat suasana pantai sendiri," kata Pak Jerapah.
"Maksudnya apa, Pak?"
"Begini saja, kamu harus melihat suasana pantai sendiri...tidak usah aku yang menceriterakannya. Nah, dengan demikian kamu akan lebih leluasa menceriterakan suasananya menurut pengamatanmu sendiri."

"Wah....Pak Jerapah...aku semakin tidak mengerti!"
Pak Jerapah mengerti maksud si Zebri. Ia tidak mengerti sebab tidak tahu bagaimana caranya melihat suasana pantai yang jaraknya cukup jauh. Namun tiba-tiba Pak Jerapah menundukkan kepalanya dan mengangkat tubuh si Zebri. Betapa kagetnya si Zebri. Ia takut jatuh. Lalu dengan keempat kakinya ia berpegangan erat-erat ke leher pak Jerapah.
"Paaaakkkk....aku takuuttt!" teriak si Zebri.
"Tenang, Zebri! Bapak akan menjaga tubuhmu agar tidak jatuh."
"Waaaaahhhhh.....waaaahhhh....waaahhh.....Pak! Aku melihat banyak air berwarna biru di balik hutan ini. Aku melihat sebuah dataran luas berwarna putih di pinggirnya. Dan aku lihat banyak air silih berganti bergerak berkejar-kejaran menuju dataran luas yang berwarna putih itu. Ouwww...airnya kembali ke tengah lagi.... Waouuuuuwww....indah sekali Pak Jerapah."
Pak Jerapah hanya bisa tersenyum melihat si Zebri mulai mengenal suasana pantai saat itu.
"Naaahhhh....itulah yang dinamakan pantai, anakku." kata pak Jerapah.
"Indah sekali Pak suasana di sana!"
"Terima kasih, Pak Jerapah! Entah bagaimana caranya aku harus berterima kasih kepada Bapak?!"
"Sudahlah, anakku. Bapak juga ikut bahagia melihat kamu bahagaia. Bapak bersyukur masih bisa membantumu mengenal akan suasana pantai.Bukankah kita hidup ini untuk saling tolong menolong, anakku! Camkanlah itu. Kita hidup ini untuk saling tolong menolong. Bila kamu suka menolong temanmu maka suatu saat bila kamu ada kesulitan tentu ada saja yang akan menolongmu."
"Baiklah Pak, terima kasih banyak atas nasehatnya."
"Sama-sama, anakku. Dan pesanku lagi, tolong diingat-ingat semua apa yang kamu lihat tentang suasana pantai tadi. Jangan sampai terlupakan apa-apa yang telah kamu lihat tadi. Dan mudah-mudahan kamu akan bisa memenangkan lomba lagi."
Si Zebri merasa gembira. Ia kini bisa tertawa senang karena telah mengenal apa itu pantai dengan segala suasana yang ada di sekitarnya. Besok pagi ia siap berlomba dengan teman-temannya lagi. Pak Jerapah ikut merasakan senang dengan keceriaan si Zebri, kemudian ia melanjutkan perjalanan pulang untuk menemui keluarganya.