Home » » Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka | Cerita Rakyat

Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka | Cerita Rakyat



Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka | Cerita Rakyat


malin kundang , anak durhaka
ilustrasi malin kundang. sumber gambar tilulas.com
Kisah zaman dahulu kala , hiduplah sebuah keluarga miskin di tempat pesisir pantai. Si ayah bekerja ikut kapal-kapal para pedagang untuk mencukupi kehidupan mereka. Keluarga itu memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil , berjulukan Malin Kundang. Malin Kundang termasuk anak yang rajin , beliau membantu setiap pekerjaan ibunya untuk meringankan beban orang tua. Sehingga ibunya sangat sayang pada Malin Kundang.

Hingga pada suatu waktu , sang ayah pergi berlayar. Namun setelah hari itu , sudah tak terdengar lagi kabar beritanya. Sudah bertahun-tahun berlalu , ibu malin kundang kini bekerja keras seorang diri untuk menghidupi dirinya dan membesarkan si Malin. Melihat hal itu , malin kundang yang masih belia merasa sangat kasihan. Dia bertekad untuk bekerja , merantau dan kelak pulang membawa harta yang banyak untuk ibunya. Hingga pada suatu hari , ada sebuah kapal yang cukup mewah berlabuh. Seperti biasa , malin segera berlari ke kapal bersama para pekerja angkut , alasannya si malin memang bekerja sebagai kuli panggul bagi para pedagang yang datang untuk membantu ibunya.

Melihat malin yang begitu rajin , sang nahkoda kapal menjadi sangat tertarik. Dia berniat mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun merasa sangat senang , alasannya mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang akan mampu terwujud. Dia eksklusif berlari pulang untuk meminta izin pada emaknya.

Legenda Malin Kundang

Dengan berat hati , ibunya melepas anak semata wayangnya itu. Ingin rasanya menahan malin untuk pergi , namun alasannya melihat tekad malin yang begitu berpengaruh , sang ibu tak kuasa melarangnya. ''Hati-hatilah di tanah rantau ya nak. Bersikaplah baik pada semua orang , selalu rendah hati , dan jangan lupa pada Allah yang maha kuasa''. Pesan ibu malin. ''Iya mak.. malin akan selalu ingat nasehat emak. Kelak malin akan pulang membawa harta yang banyak. Malin akan menjadi orang kaya , sehingga emak tak usah lagi bekerja. Malin pamit mak''. Kata malin berpamitan di iringi air mata ibunya.

Setelah hari itu , setiap hari ibu malin selalu bangun di pantai memandang cakrawala , berharap malin segera pulang. Setiap ada kapal yang singgah , ibu malin selalu berlari menghampiri , berharap anaknya ada di kapal itu. Namun selalu saja kekecewaan yang beliau dapat , anaknya tidak ada di kapal itu.

Bertahun-tahun sudah berlalu , ibu malin masih menunggu kepulangan anaknya dengan setia. Dia selalu bangun di tepi pantai , memandang cakrawala di pagi dan sore hari , berharap anaknya segera pulang. Hingga pada suatu hari , para penduduk tampak ramai berlari-lari ke pelabuhan. Ibu malin kundang yang ketika itu sudah bau tanah renta dan sakit-sakitan bertanya pada salah seorang penduduk. Ternyata , di pelabuhan tengah berlabuh sebuah kapal yang sangat mewah dan besar. Pemiliknya ialah seorang cowok yang ganteng dan kaya raya , mereka membawa barang dagangan yang sangat banyak. Mendengar hal itu , ibu malin eksklusif ikut berlari menuju pelabuhan. Langkahnya terlihat lemah dan tertatih-tatih alasannya tubuhnya yang renta dan sakit-sakitan.

Setalah hingga di pelabuhan , terlihat berbagai orang-orang berkumpul. Di atas kapal terlihat sepasang muda-mudi dengan pakaian mewah sedang membagi-bagikan uang pada mereka. Betapa gembiranya hati ibu malin , alasannya begitu beliau melihat , beliau sangat yakin bahwa cowok gagah itu ialah anaknya. Dia dapat eksklusif mengenalinya berkat tanda lahir yang dimiliki malin.

Segera ibu malin naik ke atas kapal dan memeluk si malin. Namun perlakuan malin sungguh di luar dugaan , beliau melemparkan perempuan bau tanah itu hingga terjengkang. ''Siapa kau? Berani-berani mengotori baju ku yang mahal ini?''. Bentak malin. ''Malin.. ini gua nak , ibu mu. Kini kau benar-benar sudah jadi orang kaya nak. Kini ibu sangat senang kau sudah pulang''. Kata ibu malin. Malin terkejut mendengarnya , tak disangka wanita dengan pakaian lusuh itu ialah ibunya yang sudah lama beliau tinggalkan.

''Benarkah pengemis ini ibu mu bang? Kata mu kau yatim piatu , ternyata beliau masih hidup sebagai pengemis..''. Kata isteri malin kundang dengan nada ketus. Karena aib dengan isterinya , malin kundang kesudahannya membantah. Dan berkata bahwa itu ialah pengemis yang hanya mengaku-ngaku sebagai ibunya untuk mendapat uang lebih. Lalu malin kundang meminta awak kapal untuk mengusirnya dengan agresif , dan segera mengangkat sauh dan berlayar meninggalkan tempat itu.

Menerima perlakuan yang sudah keterlaluan dari anaknya , ibu malin kundang merasa sangat kecewa. Rasa sakit di hatinya sungguh tiada terkira. Akirnya , beliau berdo'a pada yang maha kuasa. .''Ya Tuhan.. engkau ialah dzat yang maha adil , dan mendengar setiap do'a hamba mu. Jika benar beliau bukan Malin anak ku , maka berilah beliau keselamatan dan kebahagiaan. Tapi jikalau beliau benar-benar Malin kundang anak ku yang telah lama pergi , maka gua kutuk beliau menjadi batu''.

Seketika , langit yang tadinya cerah menjadi gelap. Angin berhembus kencang , dan datanglah hujan angin puting-beliung yang menerjang kapal itu. Petir bersautan , ombak mengamuk. Melihat hal itu , malin menjadi sangat menyesali semua perbuatanya. Namun minta ma'af kini sudah terlambat. Tiba-tiba kapal mewah itu dihantam petir yang sangat besar hingga pecah berkeping dan karam. Dan konon , malin kundang menjelma sebuah watu alasannya berani durhaka pada ibunya. baca kisah-kisah menarik lainnya hanya di dongengterbaru.blogspot.com


Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka | Cerita Rakyat


0 komentar:

Post a Comment

Berkomentar yang baik ya sahabatku semua :)