Home » , » Dongeng Seekor keong

Dongeng Seekor keong


Dongeng Seekor keong. ada keong muda tampak memperhatikan kegiatan satwa-satwa di kelilingnya. Ada burung-burung yang mampu terbang tinggi sekali. Sejumlah kelinci yang asyik berlari-larian di rerumputan hijau, melompat kesana dan kemari. Ikan-ikan menari yang begitu menikmati sejuknya alam air danau yang begitu luas.“Aih asyiknya mereka,” ucap sang keong menampakkan kekaguman.

Saat itu juga, sang keong mulai menyadari sesuatu dari dirinya yang dirasa begitu banyak kekurangan. Ia tak bisa terbang seperti burung. Tak bisa berjalan cepat, apalagi berlari dan melompat, seperti kelinci. Dan tak bisa berenang seperti ikan-ikan.“Andai aku seperti mereka itu…,” gumam sang keong memperlihatkan penyesalan diri.Bayangan wajah-wajah ceria para hewan di sekitarnya kian membuat dirinya merasa terpuruk. “Tuhan tidak adil!” ucapnya kemudian.


Di luar kesadaran sang keong muda, seekor keong tua renta menghampirinya. “Jangan berpikir picik tentang keadilan Tuhan, anakku!” ucapnya bijaksana.“Berbaik sangkalah kepada Yang Maha Bijaksana, suatu saat, kau akan tahu di balik rahasia ciptaan-Nya…,” sambung sang keong tua sambil berlalu meninggalkan sang keong muda yang masih kebingungan.

Belum lagi kebingungannya itu hilang, si keong muda dikejutkan dengan suara pekikan tiga ekor burung elang yang meliuk-liuk di udara dengan indahnya. Ketiganya pun menukik ke arahnya, ikan, dan kelinci.Spontan, tubuh sang keong menyusut dan langsung tertutup rumahnya yang begitu keras. Burung elang yang gagal memangsanya pun terbang meninggalkan diri sang keong yang mulai mengintip ke arah ikan dan kelinci.

seekor ikan dan kelinci itu sudah berada dalam genggaman kaki dua ekor elang yang langsung terbang membawa mangsanya ke arah ketinggian.Saat itulah, ia tersadar sesuatu. “Ah benar apa yang dikatakan pak keong tadi. Begitu banyak rahasia di balik keadilan Yang Maha Pencipta,” ucapnya membatin.

Perhatikanlah, dan bukalah tempurung kepicikan diri yang telah mengungkung kita dalam kegelapan cara berpikir dan bertindak. Berusaha dan bersyukurlah, suatu saat, akan kita temukan begitu banyak anugerah Allah dalam diri kita yang tersekat oleh cara kita melihat diri kita sendiri. 
cerita dari: (muhammadnuh@eramuslim.com)

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentar yang baik ya sahabatku semua :)