[Cerita Rakyat] Putri Ikan Duyung

putri ikan duyung.

cerita legenda rakyat sulawesi tengah
Cerita rakyat sulawesi tengah


Asal mula Ikan Duyung
Ini yakni cerita rakyat Sulawesi Tengah

Dahulu kala, hiduplah pasangan suami istri dengan tiga anak yang masih kecil, pagi itu mereka makan nasi dengan ikan. Masing-masing beroleh bagiannya. Ikan yang dihidangkan rupanya tidak habis dimakan, sang suami berpesan kepada istrinya sebelum berangkat ke kebun" istriku, tolong siapkan ikan yang tersisa tadi untuk makan nanti sore".

" baik pak, jawab si istri" dan pada siang harinya, istri dan ketiga anaknya makan siang bersama. Tiba-tiba bungsu menangis, ia inginkan yang disimpan di lemari. Dengan sabar, ia mencoba memberi pengertian kepada anak bungsunya." nak, ikan yang di lemari itu untuk makan Ayah nanti sore".

Tag: putri duyung

Entah apa yang terjadi, si bungsu malah menangis sekeras-kerasnya. Akhirnya, sisa ikan itu diberikan kepada anaknya yang paling bungsu. Seketika itu juga, rani si bungsu tak terdengar lagi.
Setelah seharian si Ayah begitu selesai bekerja tampak ya begitu lapar dan lelahnya. Di benak nya, iya terbayang makan sore dengan ikan. Dengan cekatan, si Ibu menghidangkan makanan.

Namun sang ayah tidak melihat sisa ikan tadi pagi. Raut mukanya pribadi berubah masam.
" istriku, mana sisa ikan tadi pagi?" tanya si Ayah kepada istrinya.
" maaf suamiku, dikala makan siang si bungsu menangis, ingin makan dengan ikan." jawab si istri.

Akan tetapi bukannya mengerti dengan watak anak bungsunya, sang suami malah terlihat begitu marah. Saat itu juga, istrinya dipaksa mencari ikan di laut.
" kau tidak boleh pulang ke rumah hingga mendapat ikan yang banyak, sebagai pengganti ikan yang dimakan si bungsu" marah suami kepada istrinya tanpa belas kasihan. Sang istri pun pergi dengan rasa sedih dan sakit hati kepada suaminya. Itu berat meninggalkan ketiga anaknya, khususnya si bungsu yang masih menyusui.

Sudah lama Si Buta kembali ke rumah. Ketiga anaknya yang masih kecil itu begitu merindukan ibunya. Mereka mencari ibunya ke pinggir laut, terus saja mereka memanggil-manggil ibunya.

Proses pencarian ibunya hampir mustahil, alasannya tidak seorang pun ada di situ. Sungguh ajaib, si Ibu tiba-tiba mu laut. Dihampirinya si bungsu dan segera disusuinya. Sang Ibu berpesan kepada ketiga anaknya biar mereka kembali ke rumah. Kata sang ibu, ia tidak lama lagi akan pulang. Ketiga anaknya pun mematuhi perintah sang Ibu dan segera pulang. Semalaman mereka menunggu sang ibu. Namun, sang ibu yang dirindu rindukan oleh anaknya tak juga kunjung datang.

Kecemasan terhadap nasib sang ibu, akibatnya keesokan harinya Mereka pun kembali ke laut.
" ibu, pulanglah ke rumah..! Si bungsu ingin menyusui ujar si sulung dikala tiba di pinggir laut.
Tak lama, ibu mereka pun muncul dari laut. Lalu, ibu menyusui si bungsu. Barulah kelihatan ada sesuatu yang berubah dengan badan sang ibu. Ada sisik di sekujur tubuhnya. Rasa suka cita sirna, berganti dengan rasa ragu dan takut.
" sini bungsu, gua kan menyusuimu," bujuk si Ibu
" tidak! Kau bukan Ibuku...!" tukas si bungsu
" saya yakni ibu kalian anak-anakku"
" bukan...! Kau bukan ibu kami! Jawab si sulung sambil menarik adik-adiknya meninggalkan tepi laut. Mereka pun terus menyusuri pantai tanpa tujuan yang jelas. Tiap kali mereka memanggil si Ibu, tiap itu pula muncul si ibu dengan tubuhnya yang disesaki sisik ikan. Akhirnya, ibu itu menjadi ikan duyung, separuh tubuhnya berwujud insan dan separuhnya lagi berwujud ikan.

Search Suggest :
putri duyung, kisah ikan duyung, wujud asli putri duyung, kisah rakyat, dongeng putri duyung, kisah putri duyung, kisah legenda, sulawesi tengah, kisah putri duyung, kisah ikan duyung, kisah sulawesi tengah, mitos putri duyung, putri duyung anak-anak, cerpen putri duyung, legenda nyata,

Cerita Legenda Gunung Merapi [Yogyakarta]

legenda Gunung merapi, babad tanah jawa

kisah dongeng rakyat yogyakarta
Cerita Gunung Merapi
Diceritakan dalam Babad Tanah Jawa, ada seorang Panembahan Senopati yang sedang bertapa di Nglipura, bersahabat Bantul. Setelah Panembahan Senopati selesai bertapa, kemudian Ki Juru mertani bertanya kepadanya, " apakah yang Kau Dapatkan di dalam tapamu?"

Panembahan Senopati menjawab, " saya menerima Lintang Johar di Nglipura."
Segera Ki Juru mertani bertanya kembali kepada senopati " apakah lintang Johar itu bisa dapat menghilangkan mara bahaya?"
" tidak paman," ujar Panembahan Senopati.
" jika begitu, bertapa lah lagi kau Senopati," kata ki Juru mertani.

Ki Juru mertani melanjutkan perkataannya " hanyutkan lah sebatang kayu di sungai, naiklah engkau di atas kayu yang hanyut itu. Setelah kau hingga di Laut Kidul, kau akan menjumpai Ratu Kidul."

Panembahan Senopati menjalankan apa yang dikatakan Ki Juru mertani. Di dalam Babad Tanah Jawa disebutkan perihal pertemuan panembahan Senopati dan Ratu Laut Kidul. Ratu Laut Kidul bersedia membantu Panembahan senapati dengan bala tentara makhluk halus.

Panembahan Senopati kemudian menemui Ki Juru mertani.
" nah, sekarang apa yang kau dapatkan dari tapamu?"
" benar Kata paman, saya dapat bertemu dengan Ratu Kidul."
" lantas, apa yang engkau dapatkan?" tanya Ki Juru mertani
" saya diberi minyak jayang katong dan telur degan," jawab Panembahan Senopati.
" telur yang engkau dapatkan itu berikanlah pada juru taman," kata Ki Juru mertani.

Singkat ceritera, setelah Ki Juru taman memakan telur yang diberikan oleh Panembahan senopati. Terjadi kecacatan dalam diri ki Juru taman. Tubuhnya seketika berubah wujud menjadi raksasa yang besar dan sangat mengerikan.

Selanjutnya, raksasa itu ditugaskan menjaga Gunung Merapi. Adapun tempat penjagaannya yaitu plawangan. Maka, apabila terjadi bencana yang diakibatkan oleh gunung merapi, raksasa itulah yang menjaga dan menahan biar bencana tidak menjalar ke arah selatan, khususnya keraton yogyakarta. Sebab itulah, lahar yang keluar disemburkan oleh Gunung Merapi tidak pernah mengalir ke arah selatan. Dengan demikian kawasan sebelah selatan senantiasa terhindar dari bencana.

Sedangkan minyak jayang ketong diperintahkan biar dibuang, namun sebelumnya dibuka dahulu dan diusapkan pada dua anak laki-laki dan perempuan yang ada di sana. Setelah terkena jayang katong, raga keduanya tidak kelihatan. Anak laki-laki tidak tampak itu dijuluki kyai panggung, sedangkan si anak perempuan menjadi nyai koso.

Sampai sekarang, mereka dipercayai masih setia menjaga beringin putih di utara masjid yang ada di sebelah Selatan jalan.

" jangan takut! Memang saya buaya, tapi asalku insan sepertimu juga. Aku dikutuk sebab perbuatanku yang tercela. Oleh orang-orang saya biasa dipanggil Somad, pekerjaan sehari-hari ku merampok di sungai Tulang Bawang. Semua harta dan benda yang telah ku rampok, semua tersimpan dalam gua ini. Selain itu, di gua ini terdapat terowongan belakang layar yang menembus eksklusif ke desa mu. Tak ada yang mengetahui Terowongan itu."

Dalam keadaan terkejut dan ketakutan, Aminah berusaha menyimak seluruh perkataan sibuaya. Dan tanpa disadarinya, Aminah telah mendengar Sebuah Rahasia yang dapat memberinya jalan keluar dari gua itu. Walaupun si buaya selalu bersikap baik kepadanya dan selalu memberinya hadiah-hadiah perhiasan, ia tetap tidak kerasan, Dia ingin kembali ke desanya. Aminah berharap untuk dapat meninggalkan sibuaya yang kesepian itu sendiri didalam gua dan segera kembali ke kampung halamannya.

Pada suatu ketika, si buaya perompak tertidur dan membiarkan pintu buahnya terbuka. Aminah segera menggunakan kesempatan itu untuk keluar melalui terowongan sempit itu. Ketika menyusuri cukup lama, tiba-tiba ia melihat sinar matahari. Betapa gembiranya Aminah dapat keluar dari gua itu. Aminah, sigadis yang cantik itu hasilnya bisa kembali ke desanya dengan selamat. Ya hidup tentram dan bahagia bersama keluarganya.

Harta berlimpah tidak menjamin hidup bahagia, buaya itu kaya raya tapi ia Kesepian dan menderita akhir perbuatannya itu.


Terms Tag :
cerita rakyat, cerita legenda, dongeng anak, dongeng dongeng, kumpulan dongeng rakyat, dongeng pendek, dongeng cerita, dongeng pendek, dongeng bergambar,


Cerita Dongeng Asal Usul Guntur Dilangit

Cerita dongeng anak asal mula Guntur atau petir dilangit

Pada jaman dahulu kala, insan dan peri hidup rukun berdampingan, Si peri Mekhala ialah peri yang cantik dan juga pandai, ia belajar pada Shie. Selain simekhala, Shie juga mempunyai murid laki-laki yang berjulukan Ramasaur. Ramasaur kalah pandai dengan Mekhala dan ia pun selelu iri pada kepandaian mekhala. Akan tetapi Guru Shie tetap sayang kepada kedua muridnya dan tidak pernah membeda-bedakan kedua muridnya.

cerita dan dongeng untuk anak, dongeng legenda dan dongeng rakyat
Dongeng anak asal mula petir (guntur)

Dongeng Lainnya :

Pada suatu hari Guru Shie memanggil kedua muridnya dan berkata
"Besok... berikanlah kepadaku secawan penuh air embun, barang siapa yang lebih cepat mendapatkan secawan penuh air embun, beruntunglah ia. Karena dari secawan penuh air embun itu akan ku ubah menjadi permata yang mampu mengabulkan permintaan apapun."

Kedua muridnya tertegun mendengar perintah dari gurunya. Ramasaur membayangkan ia akan meminta harta benda dan kemewahan sehingga dalam bayangannya ia akan menjadi orang terkaya di negrinya. Akan tetapi Si Mekhala malah sebaliknya, Ia berfikir dengan keras, sebab untuk mendapatkan secawan penuh air embun tentu sangat tidak mudah.

Esok hari nya, pagi-pagi sekali mereka pun pergi kehutan untuk mengumpulkan secawan air embun. Ramasaur yang serakah dan ceroboh mencabuti rumput dan tanaman-tanaman kecil lain nya. Akan tetapi hasil yang di dapat si Ramasaur sangat mengecewakan, air embun selalu saja tumpah sebelum dituangkan kecawan.

Sebaliknya, Mekhala dengan sangat hati-hati menyerap embun di antara dedaunan dengan menggunakan sehelai kain. Perlahan-lahan diperasnya lalu di masukan cawan. Dan kesudahannya pun sangat menggembirakan. dan tak lama kemudian cawan si Mekhala telah penuh. Ia pun pulang dan menunjukkan cawan yang sudah di penuhi air embun kepada Gurunya.

Mekhala memang murid yang cerdik, gurunya pun mendapatkan secawan air embun dengan gembira.Dan sesuai akad gurunya, air embun itu pun di ubah menjadi permata sebesar ibu jari. "Mekhala, jikalau kau menginginkan sesuatu, kau angkat permata ini sejajar dengan kening mu. Lalu kau ucapkan cita-cita mu." Kata Guru Shie.

Mekhala pun mengerjakan apa yang di katakan oleh gurunya tersebut, lalu menyebutkan keinginannya dan dalam sekejap mekhala telah berada di langit biru, melayang layang seperti burung rajawali.

Islami :

Sementara Ramashur gres berhasil mendapatkan secawan penuh air embun hingga senja hari. Hasil air embun yang di bawa Ramashur tidak sebening yang didapatkan oleh Mekhala. Ramashur pun menyerahkan cawan itu ke pada gurunya. "Ramasaur, meskipun engkau kalah cepat dari Mekhala, kau akan tetap mendapatkan hadiah dari ku atas jerih payah mu. Ambil Kapak sakti ini, kau gunakan kapak ini untuk membela diri bila kau dalam bahaya, jikalau kau lemparkan kapak ini kesasaran, gunung pun mampu hancur terkena kapak ini." Kata Guru Shie sambil menyerahkan sebuah kapak sakti yang terbuat dari perak.

Ternyata Ramasaur menyalah gunakan kapak yang di beri oleh Guru Shie. Ramasaur iri melihat Mekhala yang mampu terbang melayang layang di langit. Karena iri dan menjadi benci terhadap Mekhala, Ramasaur melemparkan kapak itu ke arah Mekhala yang sedang terbang melayang layang di langit. Mekhala pun menggunakan permatanya untuk menangkis kapak Ramasaur. Akibatnya terjadilah benturan dahsyat dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

Nah adik-adik yang baik itulah dongeng dongeng asal usul guntur atau petir yang suka kita lihat di atas langit.

Tag:
cerpen, dongeng anak, dongeng anak, dongeng untuk anak, dongeng asal usul, dongeng rakyat, dongeng legenda, legenda rakyat, si peri mekhala

Dongeng Rakyat Cerita Sangkuriang

Pada jaman dahulu kala, ada seorang putri raja yang sangat bagus jelita berjulukan Dayang Sumbi. Kecantikan dayang Sumbi terkenal sampai banyak raja-raja bahkan pangeran dari kerajaan lain yang saling memperebutkan Dayang Sumbi, sehingga menjadikan kekacauan di negeri itu. Akhirnya Dayang Sumbi diungsikan kedalam hutan untuk menghindari peperangan antar kerajaan, dan dia ditemani oleh seekor Anjing berjulukan Tomang.

Dongeng Rakyat Ceria Sangkuriang

Tomang merupakan perwujudan ilahi yang sangat tampan, sampai pada suatu waktu dikala bulan purnama dia bermetamorfosis seorang cowok tampan, dan Dayang Sumbi jatuh cinta kepada Tomang. Singkat dongeng Dayang Sumbi memiliki anak dari Tomang, anak tersebut berjulukan Sangkuriang.

Sangkuriang ialah anak dari Dayang Sumbi dan Tomang yang merupakan perwujudan dewa, dan pada suatu hari Sangkuriang disuruh untuk berburu hati menjangan oleh ibunya, alasannya ialah tidak menerima apa yang diminta ibunya, Sangkuriang mengorbankan hati milik Tomang dan diberikannya kepada ibunya.

Dayang Sumbi terkejut dikala dia mengetahui bahwa hati yang dibawa Sangkuriang ialah hati Tomang yang merupakan suaminya, alhasil Sangkuriang diusir oleh Dayang Sumbi.

Sejak itu Sangkuriang pergi mengembara tanpa tujuan, dan alhasil dia bertapa dan mencar ilmu disebuah tempat, sampai pada alhasil dia menjadi sangat sakti sekali, semua ilmu dia kuasai sehingga dia mampu melaksanakan apa saja yang dia inginkan.

Perjalananan Sangkuriang alhasil membawa dia kepada ibunya, Dayang Sumbi. Pada suatu dikala dia bertemu dengan seorang wanita bagus yang sedang mandi di sungai. Keduanya saling jatuh cinta, dan betapa terkejutnya dikala Dayang Sumbi mengetahui cowok itu ialah Sangkuriang yang merupakan anaknya, namun Sangkurian tetap menganggap bahwa wanita itu bukan Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi menolak halus cinta Sangkuriang, dia meminta supaya Sangkuriang pergi, namun Sangkurian tidak mau pergi, dan dengan berat hati Dayang Sumbi meminta syarat kepada Sangkuriang untuk dibuatkan sebuah perahu dan bendungan dalam waktu semalam sebelum pagi menjelang,

Karena kesaktian Sangkuriang yang mampu melaksanakan apa saja, undangan itu disanggupi dan hampir selesai, Dayang Sumbi sangat gelisah, alhasil dia membentangkan kainnya dan bermetamorfosis sinar yang sangat menyilaukan mata.

Karena mengetahui sudah pagi, alhasil Sangkuriang berhenti dan putus asa, tapi dikala mengetahui jikalau sinar itu bukan sinar matahari, Sangkuriang marah sekali dan menendang perahu sehingga perahu itu terbalik, konon ceritanya perahu itu menjadi sebuah gunung yang berjulukan Tangkuban Perahu.

Baca juga cerita rakyat lainnya
- Dongeng Telaga Warna
- Kisah Negeri Seribu Angin












Sumber http://www.dongenganakindonesia1.com

DONGENG bawang MERAH bawang PUTIH

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis berakal balig cukup akal yang indah berjulukan bawang putih. Mereka ialah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akibatnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak berjulukan Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, biar Bawang putih tidak kesepian lagi.
Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat bila ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, alasannya ialah Bawang putih tidak pernah menceritakannya.
Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak dikala itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus berdiri sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian ia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melaksanakan pekerjaannya dengan gembira, alasannya ialah ia berharap suatu dikala ibu tirinya akan mencintainya ibarat anak kandungnya sendiri.
Pagi ini ibarat biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil ia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut ialah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa ia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” hardik ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”
Bawang putih terpaksa menuruti harapan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kau mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau mampu mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan bau tanah membuka pintu.
“Siapa kau nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal gua menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah gua akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama gua tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akibatnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan gua senang alasannya ialah kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak besar lengan berkuasa membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.
Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara ia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal asing ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana ia mampu menerima hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.
Mendengar dongeng bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melaksanakan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akibatnya bawang merah hingga di rumah nenek bau tanah di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak ibarat bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus alasannya ialah selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah alasannya ialah menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih ia melenggang pergi.
Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan bangga menyampaikan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak tabah mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa ibarat ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu eksklusif menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah jawaban bagi orang yang serakah.

CERITA TIGA PANGERAN

Pada zaman dahulu di pulau madura ada sebuah kerajaan yang besar dan makmur.
Rakyatnya hidup tenteram dan cukup sandang pangan.Kerajaan itu di
pimpin oleh seorang raja yang sudah berusia lanjut,dan sudah waktunya
dia mencari pengganti untuk menduduki tahtanya.
Raja itu mempunyai tiga orang putera,dan hal itulah yang membuat sang
raja bingung.Karena takut ia akan salah dalam memilih dan menimbulkan
permusuhan dan perpecahan di kerajaanya.
Tapi ahirnya ia mendapat sebuah inspirasi untuk membantunya menyelesaikan
permasalahan yang ia hadapi.

Maka pada suatu hari,di panggilah ke tiga puteranya untuk menghadap.
Lalu sang raja berkata..''Hai belum dewasa ku,hari ini kalian bertiga ku
panggil menghadap alasannya suatu hal.Kalian tahu usia ku tak lagi
muda,maka gua berniat mengangkat salah satu dari kalian untuk
menggantikan ku.
Tapi semoga adil,aku akan memberi satu pertanyaan yang masing-masing
dari kalian harus jawab.Dan dari balasan yang kalian utarakan gua akan
menentukan siapa yang berhak menggantikan ku.Dan dikala gua telah
memilih,maka kalian harus rela dan tidak ada dendam yang kalian
pendam''.Kata sang raja.

Ketiga pangeran menyanggupi syarat dari raja.Karena mereka yakin,apa
yang di putuskan oleh ayahandanya ialah pilihan terbaik.


Kemudian sang raja pun berkata lagi''Seperti apa cinta mu pada rakyat mu?''
Anak pertama pun mengangkat tangan dan berkata''Cinta ku pada rakyat
ku sebesar gunung ayahanda''.Jawabnya dengan mantab.
''Hmm..begitu?Mengapa harus sebesar gunung?''.Tanya sang raja lagi.
''Gunung itu besar,tinggi dan besar lengan berkuasa mencengkeram tanah.Jadi begitulah
wujud cinta ku,yang kuat,besar dan tak tergoyahkan''.Jawab anak
pertama dengan mantab.
''Tapi bukankah di pulau madura ini tidak ada gunung?Dari mana kau
bisa tahu wujudnya gunung?''.Tanya baginda raja lagi.
''Tapi di pulau jawa ada banyak gunung ayahanda,dan hamba mendengar
semua hal perihal gunung dari orang-orang yang pernah ke sana''.kata
putra menjelaskan.
''Jadi kau menyimpulkan sesuatu dari kabar orang,padahal kau belum
melihatnya sendiri?
Lalu bagaimana cara mu berlaku adil pada rakyat mu bila kau mengetahui
masalah mereka hanya dari kabar yang kau dengar?''.Tanya sang raja.

Anak pertama bengong mendengar pertanyaan raja,dia menyadari letak
kesalahanya.Lalu sang raja pun ganti bertanya pada putra ke dua.
Dengan mantab dan percaya diri si anak kedua pun menjawab..''Cinta ku
kepada rakyat ku menyerupai bintang di langit ayahanda''.
''Sebutkan alasan mu..!!''.Pinta raja.
''Bintang itu indah,berkilau,bertaburan tak terhitung dan berada di
langit yang tinggi sampai tak ada yang dapat melampauinya.Bahkan
tingginya gunung sekalipun tak dapat mengalahkanya.Keindahan dan
gemerlapnya dapat di nikmati setiap insan yang ada di bumi,begitulah
wujud cinta ku ayahanda...seperti bintang,agar semua rakyat ku dapat
menikmati indahnya cinta ku''.Kata anak ke dua menjelaskan.
''Hmm..bagus,niat mu sangat mulia.Tapi..bagaimana mungkin rakyat mu
bisa mencicipi cinta mu,bisakah kau bersikap adil?''.Tanya sang raja.
''Maksud ayahanda?''.Tanya anak kedua tak mengerti.
''Begini..bintang itu tinggi,terlalu tinggi sampai tak
terjangkau.Lalu..bagaimana kau mampu berlaku adil pada rakyat mu bila
untuk menemui mu saja mereka tak bisa..?''.Tanya raja.

Anak ke dua pun bengong tanpa mampu menjawab.Lalu sang raja pun ganti
melanjutkan bertanya pada si bungsu,anak terahirnya.
Raja pun mengutarakan pertanyaan yang sama menyerupai yang di tanyakan
pada ke dua kakaknya.

''Cinta ku pada rakyat ku menyerupai garam ayahanda..''.Jawab si bungsu.
''Hmm..kenapa garam?Bukankah garam ialah sesuatu hal yang
remeh?Kenapa tak memilih bulan atau matahari yang lebih
besar,indah,dan bersinar?''.Tanya raja.
''Begini ayahanda...setiap hari hamba menghabiskan waktu untuk
berkeliling negri dan membaur dengan rakyat,bahkan hamba di ajari
membuat garam oleh mereka.Mungkin..garam ialah hal yang sepele dan
tak bernilai,tapi garam ialah hal yang di butuhkan oleh semua
orang.Karena garam ialah hal yang tak terlalu berharga,hingga membuat
semua kalangan mampu mendapatkanya dengan mudah,bahkan bila membelipun
,Garam mampu di dapat dengan harga yang cukup murah.Garam ada di
manapun,hingga tak terlalu sulit untuk menemukanya''.Kata si bungsu
menjelaskan.

Raja bengong mendengar penjelasan si bungsu.Setelah lama di
tunggu,raja tetap tak menemukan sangkalan untuk si bungsu.
Dan ahirnya raja memutuskan bahwa si bungsulah yang akan menggantikan tahtanya.
Dan kedua kakaknya pun mendapatkan keputusan raja dengan bijak dan lapang dada...


Nah adek-adek..hikmah yang mampu di ambil adalah..

Jangan suka meremehkan hal yang sepele dan sederhana.
Karena terkadang..suatu hal yang sepele dan sederhana itu mempunyai
manfa'at yang lebih besar dan lebih di butuhkan.. (^_^)

LEGENDA ASAL MULA CANDI PRAMBANAN

Zaman dahulu ada sebuah kerajaan di Pengging. sang raja mempunyai seorang putera berjulukan Joko Bandung. Joko bandung
yaitu seorang cowok perkasa, menyerupai halnya sang ayah, ia juga mempunyai banyak sekali ilmu kesaktian yang tinggi. bahkan konon kesaktiannya lebih tinggi dari ayahnya alasannya Joko bandung suka belajar kepada para pertapa sakti.

Di Prambanan terdapat sebuah kerajaan, Rajanya berjulukan Raja Boko. sang raja mempunyai seorang puteri berwajah mengagumkan
berjulukan Roro Jongrang. Raja Boko bertubuh tingggi besar sehingga sebagian besar orang menganggapnya sebagai keturunan raksasa.

Antara Kerajaan pengging dan Kerajaan prambanan terjadi peperangan. Pada mulanya Raja pengging kalah. tentara Pengging banyakyang mati di medan perang. Mendengar kekalahan pasukan ayahnya
maka Joko Bandung bertekad menyusul pasukan ayahnya. dalam perjalanan, di tengah hutan, Joko Bandung bertemu dan laga dengan seorang raksasa berjulukan Bandawasa.

Menjelang ajal Bandawasa yang juga pandai tinggi ini ternyata menyusup ke dalam roh Joko Bandung dan minta namanya digabung dengan cowok itu sehingga putera Raja Pengging ini berjulukan Joko Bandung Bandawasa.

Joko bandung maju ke medan perang, selama berhari-hari pertarungan berlangsung, namun pada risikonya cowok itu dapat mengalahkan dan membunuh Prabu Boko.

Ketika Joko Bandung memasuki istana kaputren ia melihat Roro Jonggrang yang mengagumkan jelita, Joko Bandung eksklusif jatuh cinta dan ingin memperisterinya, Namun Roro Jonggrang berusaha mengelak keingginannya alasannya Roro Jonggrang tahu bahwa pembunuh ayahnya adalaj Joko Bandung.

Namun untuk menolak begitu saja tentu
Roro jonggrang tidak berani, maka Roro
Jonggrang mengajukan syarat, ia mau
diperisteri oleh Joko Bandung asalkan Pemuda
itu bersedia berbagi seribu candi dan dua
buah sumur yang sangat dalam dalam waktu
satu malam.

Menurut anggapan Roro Jonggrang pasti
Joko Bandung tidak mungkin dapat memenuhi
usul tersebut. Diluar dugaan Joko
Bandung menyanggupinya. Joko Bandung
Bandawasa yang sakti itu minta pinjaman
makhluk halus. Mereka bekerja keras setelah
matahari terbenam, dan satu persatu candi
yang diminta oleh Roro Jonggrang mendekati
penyelesaian.

Melihat kejadian tersebut, Roro Jonggrang
heran alasannya bangunan candi yang begitu
banyak sudah hampir selesai. Pada tengah
malam sewaktu makhluk halus melanjutkan
peran menyelesaikan bangunan candi yang
tinggal sebuah, Roro Jonggrang
membangunkan gadis-gadis desa Prambanan
semoga menumbuk padi sambil memukul-
mukulkan alu pada lesungsehingga
kedengaran bunyi yang riuh. Ayam jantanpun
berkokok bersahut-sahutan. Mendengar suara-
bunyi tersebut, para makhluk halus segera
menghentikan pekerjaannya. Disangkanya hari telah pagi dan matahari hampir terbit. Permintaan Roro Jonggrang tidak dapat terpenuhi alasannya masih kurang satu bangunan candi. marahlah Joko Bandung, alasannya ulah dan tipu kecerdikan kancil dari Roro Jonggrang.

Waktu itulah Bandung mendekati Jonggrang dan berkata," Jonggrang..kau ini
hanya mencari-cari alasan, jikalau tidak mau
jangan mencoba mengelabuhiku, kau ini keras
kepala menyerupai batu!".

Seketika Roro Jonggrang bermetamorfosis
arca kerikil besar. Demikian pula para dara yang
tinggal di desa Prambanan mendapat kutukan
dari Bandung Bandawasa, tidak laku kawin
sebelum mencapai usia tua.

Candi yang dibuat makhluk halus meskipun
jumlahnya belum mencapai seribu disebut
candi sewu yang berdekatan dengan candi
Roro Jonggrang. Maka candi Prambanan
disebut juga candi Roro Jonggrang.

Kumpulan Legenda Cerita Rakyat Pendek

Kumpulan Legenda Cerita Rakyat Pendek - Indonesia tanah air kita kaya akan legenda dongeng rakyat. Cerita rakyat ini mengalir dari verbal ke verbal lintas generasi, menjadi warisan para tetua kepada anak cucu. Cerita rakyat tersebut sudah melegenda di kehidupan sosial masyarakat. Walaupun dunia sudah lebih maju dongeng rakyat tersebut tidak lah bakal mudah hilang, baik dongeng rakyat pendek ataupun panjang.

Berikut ini kami akan membawakan 2 buah kumpulan kisah legenda dongeng rakyat. 1 dongeng berasal dari tanah Pasundan. Satu dongeng pendek lagi berasal dari tanah Betawi. Perlu diingat banyak dongeng legenda rakyat tersebut bersifat dongeng yang mana alur dongeng nya tidak mampu diterima nalar sehat. Maka jadi kan lah itu sebuah pelajaran atau mitos saja bukan keyakinan yang harus diyakini.

Legenda Cerita Rakyat Pendek


Cerita Rakyat Sangkuriang


Suatu ketika zaman dahulu, di Propinsi Jawa Barat sekarang, terdapat seorang perempuan berjulukan Dayang Sumbi yang mempunyai anak berjulukan Sangkuriang. Pada suatu hari Sangkuriang pergi berburu ditemani oleh seekor anjing berjulukan Tumang, tetapi Sangkuriang tidak tahu bahwa anjing itu yakni titisan yang kuasa dan juga sekaligus Bapaknya.


Saat berburu Sangkuriang bertemu dangan seekor rusa, Sangkuriang teringat bahwa Ibunya sangat senang hati rusa. Akhirnya Sangkuriang menyuruh anjinya Tumang untuk mengejar rusa tersebut, namun Tumang kehilangan jejak rusa tersebut dan Sangkuriang menjadi marah alasannya yakni Sangkuriang sangat ingin memperlihatkan hati rusa kepada ibunya maka Sangkuriang membunuh Tumang untuk mengambil hatinya dan kemudian ia pulang.


Setibanya Sangkuriang di rumahnya  ia memperlihatkan hati didapatkannya dari berburu kepada Ibunya untuk dimasak. Saat memakannya Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan menanyakannya pada Sangkuriang, Sangkuriang menjawab sudah mati "Tumang mati". Dayang Sumbi marah bukan dan memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi dan mengusirnya dari rumah.

Sesudah kejadian tersebut Dayang Sumbi sangat menyesalinya, ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa sampai suatu hari sang dewata memperlihatkan anugerah kepada Dayang Sumbi yaitu berupa kecantikan abadi dan tidak pernah tua. Lalu Sangkuriang berkelana ke banyak sekali tempat, kesannya Sangkuriang kembali lagi ketempat Dayang Sumbi kemudian keduanya pun bertemu.

Sangku riang kesannya jatuh hati kepada Dayang Sumbi, Ia pun melamar Dayang Sumbi dan Dayang Sumbi pun menerimanya. Pada ketika sedang berdua Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkuriang dan menanyainya kepada Sangkuriang, Sang kuriang menjawab "ini bekas luka akhir dipukul dengan sendok nasi oleh Ibunya dulu".

Dayang Sumbi kaget  mendengar pernyataan tersebut. Ia memberi tahu sangkuriang bahwa ia yakni Ibunya namun sangkuriang tidak percaya dan tetap berniat menikahinya. Dayang Sumbi mengajukan undangan ia minta dibuatkan perahu layar dalam sehari tidak boleh lebih.  Sangkuriang menyanggupinya dan Sangkuriang membendung sungai Citarum untuk tempat perahunya. Dalam pembuatannya Sangkuriang mendapatkan dukungan dari jin hasil taklukannya dalam perantaunanya.

Karena dukungan dari jin perahu itu pun hampir selesai Dayang Sumbi memohon kepada Dewa. Dayang Sumbi membuat ayam jago berkokok lebih awal, dan kesannya berhasil jin yang membantu sangkuriang lari ketakutan dan meninggalkan sangkuriang sendirian. Karena kesal perahu itu ditendangnya dan terjatuh di atas gunung dan menyatu dengan gunung dan berjulukan Gunung Tangkupan Perahu, Sangkuriang kesannya mati alasannya yakni terjatuh kedalam sungai Citarum.

Si Pitung dari Betawi

Di bawah ini yakni Cerita Rakyat Tentang seorang pahlawan pembela orang yang lemah dari Betawi.

Zaman penjajahan Belanda dahulu, hiduplah seorang cowok yang gagah dan berpengaruh yang berjulukan Pitung. Pitung sangat terkenal di seluruh tempat Betawi alasannya yakni kesaktiannya yang konon tidak mampu dilukai oleh senjata jenis apapun. Di samping itu, ia juga terkenal dengan moral yang sangat baik. Si Pitung suka beribadah kepada Allah dan suka menolong orang-orang yang lemah.

Suatu hari, ia melihat menir Belanda menyiksa para warga desa. Menir itu memeras warga desa dengan meminta bayaran upeti yang mahal. Melihat kejadian ini, Si Pitung merasa bahwa ia harus melaksanakan sesuatu untuk menolong para warga desa. Lalu ia bertemu dengan orang yang memiliki impian yang sama dengan Si Pitung. Mereka yakni Rais dan Ji’i.

Lalu berangkatlah mereka ber-3 melaksanakan tujuannya tersebut. Mereka melawan para menir dan pribumi yang berpihak kepada Belanda. Mereka juga merampok harta – harta mereka dan membagikannya kepada seluruh warga.

Kemudian semakin lama, Si Pitung dan kawan – kawannya semakin terkenal. Mereka terus melaksanakan aksinya untuk menolong orang – orang yang lemah. Para menir belanda merasa terusik dengan agresi Si Pitung dan kawan - kawannya, kesannya mereka menyewa para hebat silat untuk mencari dan membunuh Si Pitung. Namun, semua itu sia – sia. Sipitung dan kawannya berhasil mengalahkan para pendekar silat itu dan merampas harta tuannya. Karena tidak berpengaruh lagi melawan Si Pitung dan temannya, mereka melapor dan meminta dukungan kepada pemerintah Belanda.

Pergilah serdadu Belanda itu untuk menghabisi Si Pitung. Namun, lagi – lagi Si Pitung berhasil membunuh mereka semua alasannya yakni kesaktiannya yang konon tidak mempan terhadap peluru. Mengetahui Si Pitung sangatlah berbahaya, Pemerintah Belanda mencari nalar untuk membunuh Si Pitung dan teman-temannya.

Belanda kehabisan akal, kesannya Belanda melaksanakan perbuatan yang sangat licik. Pasukan Belanda menangkap orang renta dan guru Si Pitung dan memenjarakan mereka di sebuah tempat. Di penjara itu, mereka terus disiksa untuk memberi tahu eksistensi Si Pitung dan kelemahannya. Namun, kedua orang renta dan guru Si Pitung tidak mau memberi tahu apa – apa kepada mereka.

Mengetahui orang renta bersama gurunya ditangkap dan disiksa oleh Belanda, kesannya Si Pitung memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Belanda dengan syarat orang renta dan gurunya dapat di bebaskan. Lalu, Si Pitung pun ditangkap dan dipenjarakan dengan penjagaan yang amat sangat ketat. Meskipun begitu, mereka yang berniat untuk menghukum mati Si Pitung belum mampu melaksanakannya alasannya yakni Si Pitung masih memiliki ilmu kebal. Namun, belum sempat melaksanakan rencana itu, Si Pitung berhasil meloloskan diri dan bersembunyi.

Penjajah Belanda sangat kesal dan dibuat kewalahan oleh agresi Si Pitung ini. Mereka pun mengembangkan mata – matanya ke seluruh Betawi untuk mencari tahu eksistensi Si Pitung dan sobat – temannya.  Akhirnya berkat mata – matanya itu Belanda mengetahui eksistensi dan kelemahan Si Pitung, yaitu badan Si Pitung akan kehilangan kekuatannya apa kalau ia terkena telur busuk. Belanda menyiapkan ratusan prajurit dan telur wangi yang banyak. Kemudian, mereka pun menyergap tempat persembunyian Si Pitung.

Maka terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan tidak berimbang. Si Pitung dan sobat – temannya dihujani peluru oleh Belanda, sehingga banyak pengikutnya yang mati. Namun, hal itu tidak terjadi pada Si Pitung. Pitung terus melawan dengan goloknya membunuh para tentara belanda.

Kalah jumlah Si Pitung terkepung, lalu para prajurit itu melemparkan telur wangi ke arah badan Si Pitung dan menghujaninya dengan tembakan. Akhirnya Si Pitung mati. Kabar ihwal kematian Si Pitung ini menyebar dengan sangat cepat. Para menir dan antek – anteknya merasa senang dengan kejadian ini. Sementara itu, warga Betawi merasa duka alasannya yakni kehilangan pahlawan yang mereka cintai.

Demikian kisah dari 2 cerita rakyat pendek yang paling banyak diketahui oleh masyarakat. Silakan ambil sisi baiknya dari cerpen rakyat tersebut dan tinggalkan yang buruknya.