PUTRI SALJU

Suatu waktu di pertengahan demam isu dingin, ketika penggalan salju jatuh menyerupai bulu dari langit, seorang ratu yang cantik duduk menjahit di jendela, yang memiliki kerangka kayu hitam hitam. Sambil menjahit, ia menatap salju dan jarinya tertusuk dengan jarum nya. Tiga tetes darah jatuh ke salju. Merah di atas putih tampak begitu cantik, lalu ia berpikir, “Kalau saja gue punya anak putih menyerupai salju, semerah darah dan sehitam bingkai ini” Tak lama kemudian. Ia memiliki seorang putri kecil yang seputih salju, semerah darah, dan hitam menyerupai kayu hitam, dan karena itu mereka memanggilnya Putri Salju.
Sekarang ratu yaitu wanita tercantik di seluruh negeri, dan sangat besar hati dengan kecantikannya. Dia memiliki cermin, yang ia berdiri di depan setiap pagi, dan bertanya:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Dan cermin selalu berkata:
Anda, ratu saya, yang paling cantik.
Dan kemudian ia tahu dengan pasti bahwa tidak ada seorang pun di dunia itu lebih cantik daripada dia.
Sekarang Putri Salju sudah besar, dan ketika ia berusia tujuh tahun, ia sangat cantik, bahkan ia melampaui kecantikan ratu sendiri. Sekarang ketika ratu bertanya pada cermin:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Cermin itu berkata:
Anda, ratu saya, yaitu wajar; itu benar.
Tapi Putri Salju masih
Seribu kali lebih cantik dari Anda.
Ketika ratu mendengar cermin berkata demikian, ia menjadi pucat dengan iri hati, dan semenjak dikala itu, ia membenci Putri Salju. Setiap kali ia memandang Putri Salju, ia berpikir bahwa Putri Salju yang harus disalahkan bahwa ia bukan lagi wanita paling cantik di dunia. Hal itu membuat hatinya bergemuruh. cemburu nya membuatnya gelisah. Akhirnya ia memanggil pemburu dan berkata kepadanya, “Bawa-Putih Salju ke hutan ke kawasan terpencil, dan menikamnya hingga mati. Sebagai bukti bahwa ia sudah mati bawa paru-paru dan hatinya kembali padaku. Saya akan memasaknya dengan garam dan memakannya. ”
Pemburu mengajak Putri Salju ke hutan. Ketika ia mengambil pisau berburu untuk menusuk, ia mulai menangis, dan memohon sungguh-sungguh semoga pemburu itu tidak membunuhnya, dan berjanji untuk melarikan diri ke hutan dan tidak pernah kembali. Pemburu merasa kasihan padanya karena ia sangat cantik, dan ia berpikir, “Binatang-binatang liar akan segera memakannya kalau ia masuk hutan. Aku senang bahwa gue tidak perlu membunuhnya “Tepat pada dikala itu. Seekor babi hutan muda melintas. Pemburu itu membunuh babi hutan itu, memotong paru-paru dan hati, dan membawa nya kepada ke ratu sebagai bukti selesai hayat Putri Salju. Ratu memasak nya dengan garam dan memakannya, menduga bahwa ia telah makan paru-paru dan hati Putri Salju.
Putri Salju sekarang sendirian di hutan besar. Dia sangat takut, dan mulai berlari. Dia berlari atas batu-batu tajam dan melalui duri sepanjang hari. Akhirnya, dikala matahari hampir terbenam, ia datang ke sebuah rumah kecil. Rumah ini milik tujuh kurcaci. Mereka bekerja di tambang, dan tidak di rumah. Putri Salju masuk ke dalam dan menemukan segala sesuatu lebih kecil, tapi rapi dan teratur. Ada meja kecil dengan tujuh piring kecil, tujuh sendok kecil, tujuh pisau kecil dan garpu, tujuh cangkir kecil, dan di dinding ada tujuh kawasan tidur kecil, semua yang gres saja dibuat.
Putri Salju lapar dan haus, jadi ia makan sayuran sedikit dan sedikit roti dari setiap piring kecil, dan dari setiap gelas kecil ia minum setetes anggur. Karena ia begitu lelah, ia ingin berbaring dan tidur. Dia mencoba masing-masing dari tujuh kawasan tidur kecil, satu demi satu, tetapi tidak merasa nyaman hingga ia tiba di kawasan tidur ke tujuh, dan ia berbaring di atasnya dan jatuh tertidur.
Ketika malam datang, tujuh kurcaci pulang dari kerja. Mereka menyalakan tujuh lilin kecil mereka , dan melihat bahwa seseorang telah berada di rumah mereka.
Yang pertama berkata, “Siapa yang telah menduduk di bangku saya?”
Yang kedua, “Siapa yang telah makan dari piring saya?”
Yang ketiga, “Siapa yang telah makan roti saya?”
Yang keempat, “Siapa yang telah makan sayuran saya?”
Yang kelima, “Siapa yang telah menempel dengan garpu saya?”
Yang keenam, “Siapa telah memotong dengan pisau saya?”
Yang ketujuh, “Siapa yang telah minum dari cangkir saya?”
Kemudian yang pertama berkata, “Siapa melangkah di kawasan tidur saya?”
Yang kedua, “Dan seseorang telah berbaring di kawasan tidurku.”
Dan seterusnya hingga yang ketujuh, dan ketika ia melihat kawasan tidurnya, ia menemukan Putri Salju terbaring di sana, sedang tidur. Tujuh kerdil semua berlari, dan mereka berseru dengan takjub. Mereka mengambil tujuh lilin mereka dan menatap Putri Salju. “Demi Tuhan! Demi Tuhan! “Mereka berteriak. “Dia begitu cantik” Mereka sangat menyukai dia!. Mereka tidak membangunkannya, tapi membiarkan ia berbaring di kawasan tidur. Kurcaci ketujuh harus tidur dengan teman-temannya, satu jam dengan masing-masing, dan begitulah yang mereka lakukan malam itu.
Ketika Putri Salju terbangun, mereka menanyakan siapa ia dan bagaimana ia telah menemukan jalan ke rumah mereka. Putri Salju bercerita bagaimana ibunya telah mencoba membunuhnya, bagaimana pemburu membiarkannya hidup, bagaimana ia menjalankan seluruh hari, risikonya datang ke rumah mereka. Para kurcaci merasa kasihan dan berkata, “Jika Anda akan tetap rumah kami, dan memasak, menjahit, membuat kawasan tidur, mencuci, dan merajut, dan terus semuanya bersih dan teratur, maka Anda mampu tinggal di sini, dan Anda akan memiliki segala sesuatu yang Anda inginkan. Kami pulang ke rumah di malam hari, dan makan malam harus siap waktu itu,sebab kami menghabiskan siang hari untuk menggali emas di tambang. Anda akan sendirian dikala itu. Waspadalah terhadap ratu, dan jangan biarkan siapa pun masuk ”
Ratu berpikir bahwa ia lagi wanita paling cantik di negeri itu, dan keesokan harinya ia melangkah di depan cermin dan bertanya:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Cermin jawab sekali lagi:
Anda, ratu saya, memang cantik; itu benar.
Tapi Putri Salju di atas tujuh gunung
Adalah seribu kali lebih cantik dari Anda.
Ini mengejutkan ratu mendengar ini, dan ia tahu bahwa ia telah ditipu, bahwa pemburu itu tidak membunuh Putri Salju. Karena hanya tujuh kurcaci yang tinggal di tujuh gunung, ia eksklusif tahu bahwa mereka telah menyelamatkannya Putri Salju. Dia mulai merencanakan segera bagaimana ia akan membunuh Putri Salju, karena ia tidak akan tenang hingga cermin sekali lagi mengatakan bahwa ia yaitu wanita paling cantik di negeri itu. Akhirnya ia memikirkan sesuatu untuk dilakukan. Dia menyamar sebagai seorang wanita penjual bau tanah dan menghias wajahnya, sehingga tak seorang pun mengenalinya, dan pergi ke rumah kurcaci itu. Mengetuk pintu ia berteriak, “Buka. Bukalah. Aku wanita bau tanah dengan penjual barang-barang bagus untuk dijual. ”
Putri Salju mengintip keluar jendela, “Apa yang Anda miliki?”
“Korset tali, Nak,” kata perempuan tua, dan ditunjukkannya satu. Itu dijalin dari sutra kuning, merah, dan biru. “Apakah Anda suka ini?”
“Oh, ya,” kata Putri Salju, berpikir, “aku dapat membiarkan wanita bau tanah masuk Dia bermaksud baik” Dia membuka kunci pintu dan tawar-menawar untuk tali korset..
“Anda tidak memasangnya dengan benar,” kata wanita tua. “Kemarilah, gue akan melakukannya dengan lebih baik” katanya sambil berdiri di depan Putri Salju, dan ia memegang tali dan menariknya begitu ketat sehingga Putri Salju tidak mampu bernapas, dan Putri Salju terjatuh seperti ia sudah mati. Kemudian perempuan bau tanah itu puas, dan ia pergi.
Malam segera datang, dan tujuh kurcaci pulang ke rumah. Mereka ngeri ketika menemukan Putri Salju yang mereka sayang tergeletak di tanah seperti ia sudah mati. Mereka mengangkatnya dan melihat bahwa Putri Salju mengikat tali terlalu erat. Mereka memotong tali korset menjadi dua, dan kemudian Putri Salju mampu bernapas, dan ia hidup kembali. “Pasti ratu yang mencoba membunuh Anda,” kata mereka. “Hati-hati dan jangan biarkan orang lain lagi.”
Ratu bertanya cermin:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Cermin jawab sekali lagi:
Anda, ratu saya, memang cantik; itu benar.
Tapi Putri Salju dengan tujuh kurcaci
Adalah seribu kali lebih cantik dari Anda.
Dia begitu terkejut hingga sluruh darahnya semua lari ke hatinya, karena ia tahu bahwa Putih Salju hidup lagi. Kemudian selama satu hari dan malam ia merencanakan bagaimana ia mampu menangkapnya. Dia membuat sisir beracun, menyamar dirinya secara berbeda, dan keluar lagi. Dia mengetuk pintu, tapi Putri Salju berseru, “Aku tidak diperbolehkan untuk membiarkan siapa pun masuk”
Lalu ia mengeluarkan sisir, dan ketika Putri Salju melihat melalui jendela, dan melihat bahwa wanita itu orang asing, ia membuka pintu, dan membeli sisir dari tangannya. “Ayo, biarkan gue menyisir rambut Anda,” kata wanita penjual. Dia gres saja menempel ke sisir rambut Putri Salju, sehingga membuat gadis itu jatuh dan mati. “Itu akan membuat Anda terbaring di sana,” kata ratu. Dan ia pulang dengan hati ringan.
Para kurcaci pulang sempurna pada waktunya. Mereka melihat apa yang telah terjadi dan menarik sisir beracun dari rambutnya. Putri Salju membuka matanya dan hidup kembali. Dia berjanji pada kurcacil untuk tidak membiarkan siapa pun di lagi.
Ratu melangkah menuju cermin:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Cermin menjawab:
Anda, ratu saya, memang cantik; itu benar.
Tapi Putri Salju dengan tujuh kurcaci
Adalah seribu kali lebih cantik dari Anda.
Ketika ratu mendengar ini, ia bergoncang dan gemetar karena marah, “Putri Salju akan mati, walaupun imbalannya yaitu nyawa saya!” Lalu ia masuk ke kamarnya paling belakang layar – tidak ada orang lain yang diizinkan di dalam – dan ia membuat racun, appel beracun. Dari luar merah dan indah, dan siapa pun yang melihat hal itu akan menginginkannya. Lalu ia menyamar sebagai seorang perempuan petani, pergi ke ke rumah kurcaci dan mengetuk pintu.
Putri Salju mengintip dan berkata, “Aku tidak diizinkan untuk membiarkan siapa pun masuk kurcaci telah melarang dengan keras.”
“Jika Anda tidak ingin, gue tak mampu memaksa Anda,” kata wanita petani. “Saya menjual apel ini, dan gue akan memberimu satu contoh.”
“Tidak, gue tidak dapat mendapatkan apa-apa. Para kurcaci tidak mengizinkan. ”
“Jika Anda takut, maka gue akan memotong apel menjadi dua dan makan setengahnya. Ini, Anda makan setengah yang kemerahan. Apel itu dibuat begitu berseni dan hanya setengah yang beracun. Ketika Putri Salju melihat bahwa wanita petani itu makan separuh episode dari apel itu, impian untuk merasakan semakin kuat, sehingga ia risikonya membiarkan tangan perempuan itu menunjukkan apel yang setengah lainnya melalui jendela. Dia menggigit, tapi tidak sampi habis ia sudah jatuh ke tanah dan mati.
Ratu senang, pulang, dan bertanya cermin:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Dan itu menjawab:
Anda, ratu saya, yang paling cantik.
“Sekarang saya akan memiliki kedamaian,” katanya, “karena sekali lagi gue wanita paling cantik di negeri itu. Putri Salju akan tetap mati kali ini. ”
Malam itu para kurcaci pulang dari tambang. Putri Salju tergeletak di lantai, dan ia sudah mati. Mereka mengendurkan tali dan melihat di rambutnya untuk sesuatu yang beracun, tapi tidak ada yang membantu. Mereka tidak mampu menghidupakn kembali. Mereka membaringkannya di atas usungan jenazah, dan semua bertujuh duduk di sampingnya dan menangis dan menangis selama tiga hari. Mereka akan menguburkan dia, tapi mereka melihat bahwa ia tetap segar. Dia tidak terlihat menyerupai orang mati, dan ia masih memiliki pipi merah cantik. Mereka mmembuat peti beling yang untuk Putri Salju, dan meletakkan di dalamnya, sehingga ia mampu dilihat dengan mudah. Mereka menulis nama dan keturunan di atas itu dalam huruf-huruf emas, dan salah satu dari mereka selalu tinggal di rumah dan terus mengawasinya.
Putri Salju berbaring di peti mati waktu yang sangat lama, dan ia tidak membusuk. Dia masih putih menyerupai salju dan merah menyerupai darah, dan kalau ia telah mampu membuka matanya, mereka masih akan hitam menyerupai kayu hitam. Dia berbaring di sana seperti ia sedang tidur.
Suatu hari seorang pangeran muda datang ke rumah kurcaci dan ingin kawasan bermalam. Ketika ia masuk ke ruang tamu mereka dan melihat-Putri Salju terbaring di peti mati kaca, begitu cantik diterangi oleh tujuh lilin kecil, ia tidak mampu mendapatkan cukup kecantikannya. Dia membaca goresan pena emas dan melihat bahwa ia yaitu putri raja. Dia meminta kerdil untuk menjual peti mati ddengna Putri Mati didalamnya itu, tetapi para kurcaci tidak akan melaksanakan itu untuk sejumlah emas. Kemudian ia meminta mereka untuk menunjukkan kepadanya, karena ia tidak mampu hidup tanpa mampu melihatnya, dan menghormatinya sebagai hal yang paling dihargai di bumi. Kemudian kurcaci kasihan kepada Pangerna itu dan menunjukkan peti mati berisi Putri Salju itu.
Pangeran itu itu membawa peti mati ke istanya, dan ditempatkan di sebuah ruangan di mana ia duduk dengan itu sepanjang hari, tidak pernah melepaskan matanya dari Putri Salju. Setiap kali ia harus pergi keluar dan tidak mampu melihat Putri Salju, ia menjadi sedih. Dan ia tidak mampu makan menggigit, kecuali peti mati itu berdiri di sampingnya. Pegawai istana yang selalu harus membawa peti mati ke sana kemari menjadi marah perihal hal ini. Suatu kali salah satu dari mereka membuka peti mati, mengangkat tegak Putri Salju, dan berkata, “Kami terganggu sepanjang hari, hanya karena seorang gadis yang mati,” dan ia memukul punggung dengan tangan. Kemudian potongan apel yang mengerikan yang digigitnya lepas keluar dari tenggorokannya, dan Putri Salju hidup kembali.
Dia berjalan menemui pangeran, yang berada di samping dirinya dengan sukacita untuk melihat Putri Salju tercinta hidup. Mereka duduk bersama di meja dan makan dengan sukacita.
Pernikahan mereka ditetapkan untuk hari berikutnya, dan ibu Putri Salju yang jahat diundang juga. Pagi itu ia melangkah di depan cermin dan berkata:
Cermin, cermin, di dinding,
Siapa di negeri ini paling cantik?
Cermin menjawab:
Anda, ratu saya, memang cantik; itu benar.
Tapi ratu muda
Adalah seribu kali lebih cantik dari Anda.
Dia merasa ngeri mendengar ini, dan disusul dengan rasa takut bahwa ia tidak mampu berkata apa-apa. Namun, rasa cemburunya mengantarnya pergi ke pesta janji nikah itu dan melihat ratu muda. Ketika ia tiba ia melihat ratu muda yaitu Putri Salju. Kemudian prajurit meletakkan sepasang sepatu besi ke dalam api hingga membara, dan menyuruh Ratu jahat memakainya untuk menari. Kakinya sangat terbakar, dan ia tidak mampu berhenti hingga ia menari sendiri hingga mati.

KISAH HERCULES

Dari Yupiter bersama ratu mengagumkan Alcmena, lahirlah di suatu kota di Thebes
seorang bayi laki laki yang kemudian diberi nama Hercules. Yupiter amat
mencintainya dan telah menetapkan untuk menyebabkan ia suatu makhluk yang
sempurna. Demikianlah semestinya akan terjadi, andaikan saja Juno tidak mulai
membencinya dengan bengis. Dewi Juno begitu iri terhadap bayi itu sehingga
ketika bayi itu masih berada di dalam buaian, ia mengutus dua ular raksasa agar
membelitnya hingga mati. Tetapi dikala melihat kedua ular tersebut, Hercules
bangkit dan menghadapi mereka dengan berani, lalu mencekik keduanya.
Herculas begitu berpengaruh dan angkuh, dan sayangnya ia juga begitu mudah marah,
sehingga Juno tak henti hentinya menggunakan kelemahannya ini untuk
membangkit bangkitkan kemarahannya. Pada suatu hari, terjadilah suatu peristiwa
yang menyedihkan, yaitu dikala Hercules melemparkan kecapi kepada gurunya
sampai si guru tewas. Dengan dukacita Alcmena menghukum anaknya dengan cara
membuangnya dari istana dan mempercayakannya kepada penggembala yang hidup di
gunung gunung. Bukannya menyesal Hercules malah merasa bahagia. Ia belajar
berburu, memanah, dan tidak takut baik terhadap kegelapan malam, hirau taacuh yang
mencekam, maupun binatang buas.
Pada suatu hari, dalam petualangannya ia hingga pada suatu persimpangan. Ada
dua gadis di sana, dan rupa rupanyadannbsp; memang sedang menantikan dia. Seorang
di antaranya yang masih muda dan mengagumkan sambil tersenyum berkata
kepadanya, “Hercules, gue yaitu sang Sukacita. Datang dan berjalanlah di
jalanku yang terbuat dari rumput lembut dan bunga bungaan, pada ujungnya ada
kekayaan dan kebahagiaan.”
Gadis yang lain yang tidak muda dan tidak mengagumkan lagi tanpa senyum
berkata kepadanya, “Hercules, gue yaitu sang Keutamaan. Datang dan berjalanlah
di jalanku yang terbuat dari watu dan kerikil tajam,dannbsp; pada ujungnya ada
kemuliaan yang tak akan pernah pudar.”
“Aku ikut kau,” sahut Hercules.
Jalan Hercules ke arah kemuliaan sungguh amat sulit. Ketika ia sedang marah,
Juno membuat matanya berkilat kilat membara. Pada suatu kesempatan yang bodoh
seperti itu Hercules hingga hati membunuh istri dan kedua anaknya. Ia menjadi
sedih dan menangis berkepanjangan dikala kemarahannya sudah reda, tetapi bahkan
para tuhan pun telah dibuat marah oleh kejahatan yang telah diperbuatnya itu.
Oleh alasannya yaitu itu, untuk memohon pengampunan, Hercules pergi ke Delphi. Di sana
ada seorang imam wanita, Pitia namanya (artinya sang Kepercayaan), yang karena
ilham Apollo dapat meramalkan masa yang akan datang. Berkatalah Pitia,
“Pergilah ke kota Tiryn, Hercules, dan abdikanlah dirimu kepada raja
Eurystheus, pamanmu, yang akan meletakkan pada bahumu dua belas derita dan
kesusahan. Kalau kau telah menanggung dan menyelesaikan semuanya, kau akan
mendapatkan pengampunan dari para tuhan ”
Hercules barngkat dan memulai perjalanannya dan dikala ia memasuki istana
Tiryn, Eurystheus yang pemalu dan penakut itu menjadi amat ketakutan. Sambil
menenangkan Eurystheus, Hercules berkata,”Aku datang untuk mengabdikan diri
kepadamu.”
Dengan maksud menjauhkan Hercules dari dirinya, dan sedapat mungkin
mengusahakan semoga jangan hingga ia datang lagi, Eurystheus berkata, “Kalau
begitu, pergilah ke hutan di Nemea. Di sana ada seekor singa yang meghabiskan
domba domba dan mencabik cabik para gembala. Bunuhlah singa itu, dan bawalah
kulitnya kepadaku.”
“Perintahmu akan kutaati,” jawab Hercules. Lalu pergilah ia, dan segera sampai
di tempat Nemea.
Seorang penduduk tempat itu berkata kepadanya, “Tidak tahukah kau bahwa singa
itu tak dapat dilukai, alasannya yaitu kulitnya keras menyerupai baju baja?”
“Aku tak khawatir akan hal itu ” jawab Hercules, lalu masuklah ia ke dalam
hutan. Ketika binatang buas yang dimaksud itu melihat dia, ia melompat
menghadang Hercules. Hercules menghatamnya dengan tangan kosong, dan akhirnya
berhasil menjepit singa itu, kemudian… cekik, cekik, dan terus dicekiknya
singa itu hingga mati…

ISTANA BUNGA

Dahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong rakyatnya yang memerlukan bantuan.

Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana marah pada ayah bundanya,  "Ayah dan Ibu jahat. Mengapa menyusahkan orang miskin?!"
Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu.
"Jangan mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, saya akan menghukummu. Pergilah dari istana ini!" usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, "Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!"

Raja dan Ratu sedang naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.

Keduanya hingga di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
"Silakan masuk, Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka yaitu cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja akal-akalan tak tahu. Kusmantoro mengutarakan maksudnya,  "Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin mencar ilmu pada Panembahan."

Kakek sakti berjulukan Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun sebab kebijakannya, Panembahan Manraba mendapatkan keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.

Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua. "Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup kalian mencar ilmu di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian melakukan satu amalan."
"Amalan apa itu, Panembahan?" tanya Kusmantari.
"Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang bau tanah mereka."

Kusmantoro dan Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran mereka terbuka.
"Dua kuntum melati itu memiliki kegunaan menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya memiliki kegunaan jikalau disertai kejujuran hati," pesan Panembahan Manraba.

Ketika menjelang tidur malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah mereka harus berterus jelas kalau mereka yaitu Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak jujur. Padahal kuntum melati hanya memiliki kegunaan bila disertai dengan kejujuran.

Akhirnya, pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan.
"Kami berdua mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah sebab tidak jujur kepada Panembahan selama ini."
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua yaitu Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana."

Setelah mohon pamit dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua orang bau tanah mereka yang berbaring lemah itu.

Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati absurd itu pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.

PETUALANGAN HANSEL DAN GRETEL

Di sebuah desa pada zaman dahulu hiduplah
sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai
dua orang anak yang manis, namanya Hans
dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal
sebab sakit. Sejak ajal sang Ibu, mereka
selalu bersedih sepanjang hari.

Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah mengambil Ibu gres untuk menghIbur mereka.
Ternyata Ibu gres ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi
hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan
hanya diberi makan satu kali.
Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak
mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu
menyuruh bawah umur untuk dibawa ke hutan
dan meninggalkannya di sana.
Ayah sangat terkejut mendengarnya " Bicara
apa kau, apa kau ingin bawah umur mati ?! "
" Kau ini memang bodoh, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati !"
Sementara itu dari balik kamar , Hans dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka.

Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.
Akhirnya Ayah tidak mampu berbuat apa-apa
sebab istrinya terus mendesaknya.
"Ah… apa kita akan mati di hutan ?! "
" Ssst.., gua punya ilham bagus, " ucap Hans. Lalu
ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu
kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan
bersinar.
Pada esok paginya dengan berteriak keras,
Ibunya membangunkan Hans dan Gretel.
Sebelum berangkat ia memperlihatkan sepotong roti
kepada mereka. Setelah itu semua berangkat
menuju hutan.
Sambil berjalan Hans membuang kerikil kecil putih
satu per satu yang ada dalam kantongnya.
Karena berjalan sambil menoleh ke belakang,
Ayah menjadi curiga.

" Sedang apa, Hans ? " Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah," jawab Hans berbohong. Lalu tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka. Rasa sedihpun berganti bangga setelah di
tengah hutan Hans menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga.

Mereka sangat bangga sebab mampu bermain- main bersama sahabat gres mereka ibarat kelinci,
tupai dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai
karam dan hari mulai gelap. Suara burung-
burung yang mengagumkan kini berganti dengan bunyi
angin yang berdesir.
Gretel menangis tersedu-sedu sebab takut. Hans
berkata menenangkan, "Jangan menangis, bila
cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang
dengan selamat ".
Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon
muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan
terang. Hans segera mengajak Gretel untuk
pulang ke rumah.
Hans memegang tangan Gretel dan menyusuri
jalan di hutan tanpa ragu-ragu.
" Kak, kok mampu berjalan tanpa galau di hutan
yang gelap begini?"
"Oh… kerikil kecil putih yang kujatuhkan ketika
kita datang, bersinar sebab kena sinar bulan
dan itu akan menolong kita pulang ke rumah."
Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran
melihatnya dan mencari tahu bagaimana
mereka mampu hingga di rumah dengan mudah.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat kerikil kecil
putih yang bersinar. Agar mereka tidak mampu
mengumpulkan kerikil putih itu lagi, Ibu mengunci
pintu kamar mereka. Hans dan Gretel menjadi
panik karenanya.

Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan. Keesokan harinya ibarat kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hans tidak kehabisan akal. Dengan
terpaksa ia mencuil-cuil belahan roti dan
menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah
payah dimakan oleh burung-burung kecil.
Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali
Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan
masuk ke hutan yang lebih jauh.
Merekapun bermain-main dengan binatang-
binatang di dalam hutan.
Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan
mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan
susah payah dicarinya potongan-potongan roti
sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.
" Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-
belahan roti itu ?" teriak Gretel cemas.
" Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil "
" Uhh.., kalau begitu kita tidak mampu pulang ke
rumah."
Di dalam hutan bergema bunyi lolongan keras.
Mereka berdua amat ketakutan. "Kak, gua takut,
kita akan mati !" Gretel mulai menangis.
" Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga
pasti menolong kita."
Karena lelah, mereka balasannya tertidur dengan
pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun
mulai bersinar dan mengenai wajah mereka.
Hans dan Gretel terbangun dan disambut bunyi
kicauan burung.
Tiba-tiba mereka mencium amis kuliner yang
lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya
amis lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat
rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya
dari coklat, dan dindingnya dari biskuit.
Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan
memakannya.
Tiba-tiba terdengar bunyi keras yang bergetar.
"Siapa itu, berani memakan rumah kudapan manis
kesayanganku ?", muncullah seorang nenek
sihir bau tanah dengan wajah angker serta
mata merah yang bersinar, lalu menangkap
mereka berdua.
" Hi… Hi…. Hi…. bawah umur yang lezat, sebagai
hukuman dikarenakan telah memakan rumput kudapan manis
kesukaanku, gua akan memakan kalian ."
Dengan garang nenek sihir itu menyeret Hans
masuk ke dalam penjara. Setelah itu ia berkata
kepada Gretel,
"Mula-mula gua akan menggemukkan anak
laki-laki itu, lalu gua akan memakannya. "
"Sekarang kau buat makanan yang enak semoga
makannya banyak ! "
Nenek sihir itu sudah bau tanah sekali dan matanya
mulai rabun. Pada dikala itu Hans dan Gretel
saling berpegangan tangan memberi semangat
supaya mereka tabah.
" Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti
melindungi kita ".
Suatu hari nenek mendekati penjara Hans untuk
melihat apakah badan Hans sudah menjadi
gemuk atau belum.
"Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo
ulurkan tanganmu ! "
Hans yang terpelajar tidak kehilangan akal, ia
mengetahui kalau mata nenek sudah rabun
segera dikeluarkannya tulang sisa makanan
kepada nenek yang rabun lalu nenek
memegangnya.
Betapa kecewanya nenek sebab sedikitpun Hans
tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia
bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian
Gretel disuruh memperabukan roti.
Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek
mencoba mendorongnya ke nyala api.
Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek,
cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.
"Nek, gua tidak mampu membuka tutup tungku ini ."
Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang
diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel
mendorong nenek ke tungku.
"Ahh… tolong…. panas ! " teriak nenek
kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan
nenek malah dengan cepat ia menutup pintu
tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk
menolong Hans.
"Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah
melindungi kita." Karena bahagia mereka
berpelukan.
Ketika akan pergi dari rumah kudapan manis tanpa sengaja
mereka menemukan banyak harta karun. Setelah
itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu
terpotong oleh sungai besar.
Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari
mana datangnya tiba-tiba muncul seekor bebek
cantik.
" Ayo, naiklah ke punggungku, " ucap bebek itu
ramah. Satu per satu bebek itu mengantarkan
mereka menyeberang sungai.
Setelah sampai, bebek itu menunjuk-kan jalan
bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah
mereka di batas hutan.
Tanpa mereka ketahui bahu-membahu bebek itu
ialah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu
kemudian menghilang. Setelah itu muncullah
Ayah mereka yang sangat cemas.
"Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah.
Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi ".
Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa
Ibu tiri yang jahat sudah meninggal sebab
sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia
selamanya.

KISAH ULAR KATAK DAN SAUDAGAR

Konon, hiduplah seorang saudagar yang kaya
raya. Saudagar tersebut mempunyai tiga anak
gadis yang indah dan belum menikah. Suatu
ketika, saudagar tersebut pergi jalan-jalan
menengok sawahnya. Tiba-tiba, di pematang
sawah, ia melihat seekor ular memangsa seekor
katak. Katak itu menjerit kesakitan. "Kiik.. kiik…"
begitulah bunyi jeritannya. Karena merasa
kasihan, maka sang saudagar berseru kepada
sang ular. "Wahai ular, tolong lepaskan katak
itu. Aku punya tiga orang anak gadis. Kalau kau
melepaskan katak itu gua akan menunjukkan
seorang dari mereka untuk jadi istrimu" kata
sang saudagar. Mendengar perkataan tersebut,
ular pun melepaskan mangsanya dan pergi ke
semak-semak. Lama setelah kejadian itu, sang
saudagar pun lupa terhadap janjinya.
Sampai pada suatu hari, datanglah seorang
samurai muda yang gagah dan ganteng
menemui sang saudagar di rumahnya. Samurai
tersebut lalu memperkenalkan diri.
"Saya yaitu jelmaan dari ular. Saya datang
untuk menagih kesepakatan menikahi salah seorang
anak gadis Anda" kata sang samurai.
Mendengar perkataan itu, sang saudagar
teringat kembali janjinya yang dulu. Akhirnya ia
meminta semoga sang samurai datang kembali
pada waktu yang dijanjikan. Dan sang samurai
pun mendapatkan hal itu. Ia akan datang lagi untuk
menjemput pengantinnya.
Berhari-hari sang saudagar tidak mampu tidur
nyenyak alasannya yaitu terus memikirkan perjanjiannya
dengan sang ular. Akhirnya suatu pagi, anak-
anak gadisnya berkumpul dan bertanya kepada
ayahnya.
"Ayah, akhir-akhir ini engkau kelihatan kurang
sehat. Ada duduk perkara apa?" tanya salah seorang
anak gadisnya.
Sang ayah pun balasannya menceritakan
permasalahan yang dialaminya kepada
anaknya. Mendengar penjelasan ayahnya,
mereka semua terdiam. Anak pertama dan
kedua menolak menjadi pengantin sang ular.
Namun anak terakhir bersikap lain.
"Baiklah, gua tidak akan mengecewakan ayah.
Aku bersedia menjadi pengantin ular itu!"
katanya dengan tenang. Sang ayah pun lega
dibuatnya.
Akhirnya, hari ijab kabul pun tiba. Sang anak
bungsu minta semoga ia dibekali beberapa labu
panjang dan jarum tenun. Setelah itu, sang
pengantin pria membawa pengantin wanita
pulang ke rumahnya. Rumah pengantin pria
berada di balik bukit. Beberapa lama kemudian,
mereka hingga di sebuah bak yang besar.
"Ini yaitu rumahku. Silakan kau dulu yang
masuk ke dalam air!" kata pengantin pria. Tetapi
sang pengantin wanita menolak dengan halus.
"Barang bawaanku banyak. Tolong kau dulu
yang masuk dengan membawakan barang-
barangku tersebut" kata sang pengantin wanita.
Demikianlah, balasannya pengantin pria dengan
membawa barang-barang milik pengantin
wanita, masuk ke dalam kolam. Ketika masuk ke
kolam, labu panjang yang ia bawa menyembul
ke permukaan bak beberapa kali. Saat ia
memasukkan beberapa labu itu, labu lainnya
menyembul lagi ke permukaan. Sang pria pun
merasa jengkel, labu-labu itu balasannya
mengapung semua ke permukaan kolam. Karena
terlalu lelah, perlahan-lahan badan pria itu
berubah menjadi wujud aslinya, yaitu ular. Ular
itu naik ke tanggul bak dan tertidur disana.
Melihat bahwa ular sedang tertidur pulas,
pengantin wanita itu segera mengeluarkan
jarum tenunnya. Ia lalu menancapkan jarum
tenunnya ke atas kepala hingga ekor sang ular.
Ular itu pun mati.
Setelah berhasil membunuh sang ular, anak
gadis itu segera pergi dari kolam. Namun alasannya yaitu
hari sudah gelap, ia tersesat di dalam hutan.
Setelah berjalan menyusuri hutan, ia
menemukan sebuah pondok kecil. Pondok
tersebut dihuni oleh seorang nenek tua. Selama
beberapa lama sang gadis menginap di pondok
itu. Sampai pada suatu hari, sang nenek
bercerita bahwa ia bekerjsama yaitu
penjelmaan dari katak yang pernah ditolong
oleh ayah sang gadis. Karena ingin membalas
budi ayahnya, ia pun ingin menolong anak
gadisnya. Sang nenek menyarankan semoga
sebelum kembali ke rumahnya, ia bekerja dulu di
rumah seorang saudagar kaya di erat desa.
Namun alasannya yaitu jarak ke desa terdekat itu agak
jauh, sang nenek pun khawatir kalau anak gadis
secantik itu akan diganggu oleh orang jahat
selama dalam perjalanannya nanti. Sang nenek
memberikan sebuah pakaian dari kulit untuknya.
"Pakailah pakaian dari kulit ini, semoga mampu
menyamarkan kecantikanmu" kata sang nenek
sambil menyerahkan sebuah pakaian yang
terbuat dari kulit katak yang kasar.
"Dengan memakai pakaian kulit itu,
kecantikanmu akan tersembunyi. Hal itu lebih
baik semoga kau tidak diganggu oleh orang-
orang jahat nantinya" kata sang nenek.
"Rumah saudagar itu sedang membutuhkan
pembantu untuk mengurus dapur dan pekerjaan
rumah tangga lainnya. Bekerjalah disana untuk
beberapa waktu!" saran sang nenek.
Setelah mengenakan pakaian dari kulit itu, sang
gadis menjelma seorang nenek yang
kulitnya sudah berkeriput. Ketika hingga di
rumah sang saudagar, ia menemui sang pemilik
rumah dan memohon semoga ia diterima sebagai
pembantu rumah tangganya. Demikianlah, semenjak
saat itu sang gadis bekerja di rumah itu. Setiap
hari ia harus bangkit pagi, menanak nasi dan
membersihkan rumah besar tersebut.
Pada suatu hari, ketika para anggota keluarga
sedang pergi menonton rombongan pemain
sandiwara di balai desa, sang gadis tinggal
sendirian di rumah. Karena tidak ada seorang
pun di rumah, maka ia melepaskan pakaian
kulitnya. Sudah lama ia ingin melihat dirinya
yang sebenarnya. Ia melihat wajahnya di kaca.
Ternyata tidak ada yang berubah. Ia tetap indah
seperti sebelum memakai pakaian kulit
pemberian sang nenek. Pada dikala itu, seorang
anak pria putra darah biru datang ke rumah
untuk mengambil sesuatu. Karena di rumah
tidak ada seorang pun ia menjadi penasaran. Ia
sangat terkejut ketika melihat sesosok gadis yang
cantik jelita berada di dalam kamar. Putra
bangsawan itu pun jatuh hati kepada sang gadis.
Beberapa hari kemudian, sang cowok jatuh
sakit. Berhari-hari ia tidak mau makan.
Tubuhnya sangat lemah. Tidak ada obat yang
dapat menyembuhkannya. Ketika seorang tabib
datang memeriksa, tertangkap berair bahwa sakit yang
diderita sang putra darah biru tersebut
dikarenakan cinta. Pemuda tersebut telah jatuh
cinta pada seorang gadis yang pernah
dilihatnya. Namun alasannya yaitu gadis tersebut tidak ia
temukan lagi, maka ia pun jatuh sakit.
Keluarganya pun sangat kebingungan, nenek
pembantu rumah tangga pun menyadari bahwa
gadis yang dilihat oleh putra darah biru tersebut
pasti yaitu dirinya ketika ia melepas pakaian
kulitnya beberapa waktu yang lalu. Karena
merasa kasihan, ia pun melepaskan pakaian
kulitnya lagi dan menemui putra darah biru
yang sedang sakit tersebut. Melihat wajah indah
jelita itu, sang cowok tersenyum dan sakitnya
pun berangsur-angsur sembuh kembali.
Demikianlah, balasannya sang gadis dinikahkan
dengan putra darah biru tersebut. Mereka hidup
dengan bahagia.
Setelah beberapa lama menikah timbul
kerinduannya terhadap ayah dan kedua
saudarinya. Ia pun meminta semoga suaminya
mengantarkan pulang ke rumah orang tuanya.
Orang renta sang gadis yang semula menduga
bahwa putri bungsunya tidak akan pernah
kembali lagi, merasa sangat bahagia ketika
bertemu kembali. Mereka terharu mendengar
cerita pengorbanan putri bungsunya. Sejak dikala
itu mereka mampu berkumpul kembali dan hidup
dengan bahagia.

Cerita Humor Kang Bahlul dan Sayur Berbusa | Dongeng anak Terbaru

cerita humor santri
Cerita Humor Kang Bahlul dan Sayur Berbusa - Ini yaitu kisah kang Bahlul wktu masih jadi santri dulu. Sedikit kocak dan lucu , tapi itu memang fakta yang ada. Kaprikornus , ceritanya begini..
Jum'at pagi yang cerah di lingkungan pesantren ,para santri sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
 
Hari jum'at yaitu hari yang paling di tunggu-tunggu selama seminggu. Hari spesial di mana tak ada aktivitas mengaji dan waktu untuk mengibur diri. Ada yang main sepak bola di lapangan pesantren ,ada yang sibuk menghafal kitab ,ada nyuci baju ,dan ada juga yang mengisi waktu dengan nongkrong di depan komplek pesantren sambil bercanda. 


Di depan komplek C kamar nomer 6 ,kang bahlul dkk terlihat sedang sibuk mengiris sayuran. Mereka sedang masak lauk buat sarapan. Kelompok di bagi dua grup. Grup pertama  yang terdiri dari kamso ,ikhsan ,dan wahab bab memasak nasi. Mereka sudah terlebih dahulu meluncur ke dapur. Sedang grup ke dua yang terdiri dari kang bahlul ,badrun ,udin ,dan soleh bab memasak sayur dan lauk. Anggota grup 2 lebih banyak alasannya pekerjaanya memang lebih ribet.

Buat kalangan santri pemuda memasak memang termasuk kategori pekerjaan paling ruwet , pekerjaan yang mestinya mampu di lakukan SATU orang cewek harus di lakukan dengan sistem gotong royong.. Maklum lah...namanya juga pemuda ,memasak itu bukan bidang aslinya..betul? Hehehe....


Setelah sibuk dari tadi iris sana ,iris sini ,ulek kanan ,ulek kiri..ahirnya bumbu dan sayur yang akan di masak sudah siap. Kang bahlul dkk pun segera meluncur ke dapur menyusul kloter pertama. Wajan ,tungku ,dan nampan pun segera di siapkan. Dan program memasak pun di mulai ,dengan di iringi sedikit canda tawa
untuk mengisi waktu menunggu sayur matang. Tak berapa lama ,tiba-tiba terdengar pengumuman dari masjid. Kang balul dkk pun mendengarkan pengumuman itu dengan seksama.

"Assalamu'alaikum wr.wb... Di beritahukan pada semua santri ,nanti
tepat pukul 8 di harapkan semua berkumpul. Akan ada ziarah makam bersama. Bagi yang tidak ikut atau datang telat ,akan mendapat "ta'jir". Demikian pengumuman saya sampaikan.
Wassalamu'alaikum wr.wb..". Kang bahlul dkk yang mendengar pengumuman itupun segera melihat jam.

" wah..sudah jam 7:45 ,tinggal 15 menit lagi brow...ayo cepet-cepet masaknya. Nanti kita gak sempat sarapan lho..". Kata kang bahlul.
" wah...sip kang ,sebentar lagi juga mateng..tapi coba sampean icipi dulu ,apa sudah enak belum". Kata soleh.

Kang bahlul pun mengambil sedikit untuk di icip ,ternyata rasanya dingin alasannya tadi lupa ngasih garam.

" wah...kurang asin ini. Gak ada rasanya ,pasti tadi lupa di kasih garam. Mana waktu sudah mepet banget lagi... Eh din udin ,kamu lari ke kamar sebentar ,ambil garam yang ada di plastik di atas daerah sabun. Cepet ya ,soalnya waktu sudah mepet..". Pinta kang bahlul.

" Baik kang...". Kata si udin yang masih tergolong santri anabawang sambil berlari ke kamar. Sampai di kamar ,si udin segera menuju daerah garam sesuai petunjuk. Ada dua kantong plastik berwarna putih di situ ,karena buru-buru pribadi saja ia ambil salah satu tanpa sempat memeriksanya.
Kemudian si udin segera berlari lagi menuju dapur. Melihat udin berlari dari kejauhan , kang bahlul pun berteriak..

"Din...cepet din...!! Ini sayurnya sudah hampir matang..". Teriak kang bahlul.


Si udin pun mempercepat larinya ,setelah sampai...dengan nafas senin kamis ia pribadi menumpahkan isi bungkusan yang ia ambil tadi ke dalam wajan. Langsung saja kang bahlul mengaduknya biar meresap tepat ke dalam masakan.

Tapi keajaiban terjadi... Kang bahlul dkk terkejut alasannya sayur yang di aduk kang bahlul jadi berbusa. Bahkan busanya hingga keluar memenuhi wajan.

"Lho..ini tadi yang kau ambil apa din?".Tanya kang bahlul bingung.

"Sesuai reques kang ,plastik putih di atas daerah sabun...". Jawab udin tanpa ada rasa salah.

"Tapi kok mampu berbusa gini...kamu yakin gak salah ambil?".Tanya kang bahlul memastikan.

"100% yakin kang..plastik putih di atas daerah sabun". Jawab udin mantab.

Melihat kehebohan yang terjadi di grup 2 ,anggota grup 1 pun datang untuk mencari tahu apa yang terjadi. Nah...ahirnya masalahnya clear setelah si kamso dongeng ,kalau tadi pagi sehabis subuh ia nyuci. Dan sisa deterjen ia bungkus plastik dan di taruh di atas daerah sabun. Tepat di sebelah bungkusan garam. Kaprikornus ceritanya si udin salah ngambil. Tapi mau nyalahin siapa juga? Baik kang bahlul ataupun udin gak tau jikalau si kamso juga naruh bungkusan sabun di situ. Kaprikornus terpaksa....pagi itu kang bahlul dkk harus makan nasi putih saja. Sedangkan sayurnya gak lagi mampu di makan ,karena telah menjadi sayur aneh yang berbusa...hehehe

Hikmah yang mampu kita petik yaitu dari dongeng ini adalah...

Jangan suka terburu-buru dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
Karena kesannya pasti akan kurang maksimal dan rawan dengan berbagaikesalahan..oke? Hehehe...   :D



Semoga dongeng perihal kang bahlul ini mampu kita jadikan tauladan dan juga hiburan yang mengandung banyak didikan moral. Karena , tabah itu , memang perlu. :)

Dongeng Tukang Masak yang Licik | Dongeng Anak Terbaru

koki yang cerdas
Dongeng tukang masak yang Licik
Dongeng Tukang masak yang licik - Dahulu kala ada seorang tukang masak. Dia cukup cerdas tapi kurang memiliki tanggung jawab. Ketika ia keluar rumah menghirup udara bebas , ia merasa sangat senang dan merasa fikiranya sangat tenang. Dan saat ia kembali ke rumahnya , ia akan menyempatkan waktunya untuk meneguk segelas anggur terbaik tanpa sepengetahuan majikanya untuk membangkitkan semangatnya. Ketika nafsu makanya meninggi , maka ia akan memakan kuliner terbaik yang dapat di masaknya. "Seorang tukang masak harus tahu merasakan apapun". Katanya.

pada suatu hari , tuanya berpesan kepadanya "Aku sedang menunggu kedatangan tamu pada malam ini , kau harus menyiapkan sepasang kuliner ayam yang lezat".
"Baik tuan" jawab Tukang masak itu. Kemudian  diapun memotong ayam , membersihkannya lalu mencabuti bulunya. Dan saat menjelang malam , ia memanggang ayam tersebut di api hingga matang. Tapi hingga ayam tersebut mulai berwarna coklat dan hampir jawaban dipanggang , ternyata tamu yang di tunggu-tunggu tersebut belum juga datang.

"Jika tamu yang kita tunggu tak datang juga , maka saya harus mengeluarkan ayam ini dari api tuan , dan memakanya selagi masih hangat. Karena sayang kalau hingga gosong atau di biarkan cuek , maka kuliner saya akan sia-sia alasannya ialah rasanya telah beruubah”. Kata tukang masak itu kepada tunaya.

“Baikl;ah kalu begitu , kau tunggu di sini sebentar. Aku akan coba menjemput tamu ku”. Kata tuanya.

karena terlalu lama berdiri di bersahabat tungku api , membuat tukang masak itu menjadi panas dan merasa kehausan. Lalu diapun pergi turun ke daerah penyimpanan untuk mengambil anggur. Dia mengambil seteguk anggur dengan gelas besar untuk memuaskan dahaganya. Tapi sebagaimana kebiasaanya , setiap habis minum anggur nafsu makanya akan meningkat. Dan itu ialah kesalahan yang cukup fatal kali ini..


Dia kembali ke atas dan melihat ayam yang ia panggang. Di olesinya dengan mentega dan di bolak-baliknya di atasa tungku api. Aroma yang menyengat semakin membangkitkan seleranya. Sehingga hatinya tergelitik untuk mencoba.

“Aku harus tahu , apakah rasanya juga se enak baunya”. Gumamnya.


Lalu ia pun mencolekan jarinya , dan menjilatnya. Rasanya memang enak sekali. Kemudian ia melihat sayap ayam sebelah kiri telah mulai hangus , maka ia pun berniat untuk mengambilnya.

“Wah.. sayang apa bila hingga hangus dan tak mampu di makan. Ebih baik gua makan saja”. Katanya. Tukang masak itupun memakan sayap ayam itu dengan lahap. Tapi ternyata tak hingga di situ saja. Nafsu makanya semakin meninggi.
 “Wah.. masak yang satunya di biarkan saja? Hmm.. lebih baik ku makan juga semoga adil”. Katanya.


Dia lalu memakan sayap ayam yang satunya lagi. Setelah ke dua sayap ayam itu habis , ia menengok ke jendela. Tuanya belum ada tanda-tanda datang. Tukang masak itu melongo sebentar.

“Mungkinkah tuan ku tak pulang juga? Atau mungkin mereka datang besok dan tuan ku menunggunya di penginapan? Sayang semua makanan yang sudah ku masak ini. Dari pada sia-sia , lebih baik ku makan saja ayam yang tadi..”. katanya sambil mengambil ayam yang sudah tak ada sayapnya. 
 Di makanya dengan lahap , rasanya sungguh nikmat di temani segelas anggur ke sukaanya. Setelah semua habis , diakembali menengok ke jendela.


“Belum datang juga? Hmm.. mungkin memang benar mereka tak akan pulang malam ini. Sayang masih ada sisa satu ayam kalau di sia-sia kan. Lebih baik gua makan sekalian dari pada terbuang percuma”. Kata tukang masak itu sambil kembali memakan ayam yang satunya dengan lahap. Tapi saat ia sudah hampir jawaban makan , tiba-tiba ia mendengar sura tuanya berteriak dari luar.

“hai..! tamunya sudah datang. Siapkan kuliner mu. Aku akan mengasah pisau untuk mengiris ayam panggang itu. Nanti kalau tamu iotu mengetuk pintu , bukakan pintu untuknya”. Kata tuanya.

“Baik tuan”. Jawab tukang masak itu.



Ketika sang majikan sedang asik mengasah pisau makan di meja , tamu yang di tunggu-tunggu datang mengetuk pintu. Si tukang masak datang untuk membukakan pintu tersebut.

“Sssssttttt...!! Sebaiknya kau cepat pergi dari sini , kalu tidak kau nanti mampu celaka. Kamu tahu kenapa tuan ku menyuruh mu ke sini? Dia menginginkan indera pendengaran mu. Dengarlah , ia di belakang sudah berkemas-kemas mengasah pisaunya”. Kata tukang masak itu sambil berbisik. Tamu itu pun mendengarkan , dan benar.. ia mendengar bunyi sii majikan yang sednag mengasah pisau. Dan tamu itu pun lari terbirit-birit alasannya ialah menduga apa yang di katakan tukang masak itu benar.




Lalu tukang masak itu pergi menghadap tuanya dan berkata” Tuan , tamu tuan telah pergi membawa sesuatu dari rumh ini”. Katanya.

“Apa maksud mu? Apa yang ia bawa?”. Tanya tuanya.

“Dia membawa dua buah ayam panggang yang telah saya masak tuan..”. Jawab tukang masak itu.

“Sungguh perbuatan yang tidak sopan.. apakah ia tidak menyisakan satu untuk ku? Aku akan coba mengejarnya dan meminta satu ayam , alasannya ialah gua juga sangat lapar..”. kata tuanya sambil pribadi berlari keluar. 


Tapi secra tak sadar , pisau yang di asahnya masih terbawa fdi tanganya. Majikan itu berlari sambil berteriak-teriak.. “Hai.. gua hanya minta satu.. gua hanya ingin satu saja.. berhenti.. !”. teriaknya.

Tapi si tamu malah berlari semakin kencang , alasannya ialah ia mengira.. si majikan menginginkan satu telinganya. Padahal yang si majikan maksud ialah satu ayam yang di kira tamu itu bawa. Dan si tukang masak hanya mampu tertawa puas melihat tipu muslihatnya berhasil.


Hikmah yang dapat kita petik ialah , jangan mudah percaya pada sesuatu hal sebelum kau tahu sendiri kebenaranya. Karena belum tentu apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar itu kenyataan yang sebenarnya. dan kecerdasan yang di miliki , seharusnya di gunakan untuk hal-hal baik yang memiliki kegunaan bagi norang lain. Dan bukan untuk ke untungan diri sendiri..


Story by: Muhammad Rifai

Kisah Enam Manusia Ajaib | Dongeng anak Terbaru

dongeng pahlawan
Prajurit pemberani
Kisah Enam Manusia Ajaib - Memiliki kelebihan di atas orang rata-rata seharusnya memang di manfa'atkan untuk hal-hal yang positif mengarah ke hal yang baik. Seperti kisah dongeng terbaru kali ini , menceritakan kisah enam insan Ajaib yang memiliki kemampuan Luar biasa. Mereka mencoba menggunakan kelebihan yang mereka miliiki untuk mengingatkan raja dan penguasa yang lalim. Semoga kita dapat mengambil nilai positif dari kisah berikut ini. Selamat membaca..

Pada suatu masa ada seorang pria yang jago , beliau telah membaktikan diri pada negara dalam perang , dan mempunyai keberanian yang luar biasa , tetapi pada alhasil beliau dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya.

"Saya tidak akan membisu saja melihat hal ini ," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang sempurna untuk membantu saya , dan raja harus menawarkan semua harta dari negaranya sebelum duduk perkara saya dengan beliau selesai."

Kemudian , dengan penuh kemarahan , beliau masuk ke dalam hutan , dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seperti pohon itu yaitu tangkai-tangkai jagung. Dan beliau berkata kepada orang itu ,

"Maukah kau menjadi orangku , dan ikut dengan saya?"

"Baiklah ," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut , dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di bahu , beliau lalu berangkat pergi; segera setelah beliau datang kembali , beliau lalu ikut bersama dengan pimpinannya , yang berkata ,
"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."

Dan tidak lama mereka berjalan , mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
"Pemburu ," kata si pemimpin , "apa yang kau bidik?"
"Dua mil dari sini ," jawabnya , "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak , Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut."
"Oh , ikutlah dengan saya ," kata si Pemimpin , "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"

Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya , jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin , yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang , walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun , dan tak ada daun-daun yang bergerak.

"Wah ," kata si Pemimpin , "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin , berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan , mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon , sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
"Sekarang ," kata si Pemimpin , "Apa yang kau lakukan diatas sana?"
"Dua mil dari sini ," jawab orang itu , "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar."
"Oh , ikutlah dengan saya ," bujuk si Pemimpin , "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."

Makara si Peniup turun dan berangkat bersama mereka , dan setelah beberapa ketika , mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki , dan kaki yang satunya yang dilepas , tergeletak tidak jauh darinya.
"Kamu terlihat mempunyai cara yang unik ketika beristirahat ," kata si Pemimpin kepada orang itu.
"Saya yaitu seorang pelari ," jawabnya , "dan untuk menjaga biar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya , Jika saya menggunakan kedua kaki saya , Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang."
"Oh , ikutlah dengan saya ," kata si Pemimpin , "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."

Makara mereka alhasil berangkat bersama , dan tidak lama setelahnya , mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil , dan beliau memakainya hanya sempurna diatas satu telinganya saja.
"Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi menyerupai itu , kau kelihatan menyerupai orang bodoh."
"Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus ," jawabnya lagi , "Jika saya memakainya dengan lurus , akan terjadi angin kencang salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."
Oh , ikutlah dengan saya ," kata si Pemimpin; "Berenam kita bisa menghadapi seluruh dunia."

Makara orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menjadikan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya , tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
"Kalau begitu ," kata raja , "hidupnya harus dipertaruhkan , dan kalau beliau gagal , beliau dan kau harus dihukum mati."

Ketika si Pemimpin telah oke , beliau memanggil si Pelari , dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
"Sekarang , lihat baik-baik ," katanya , "dan berjuanglah biar kita menang."

Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air , dan mereka mulai berlari pada ketika yang sama; tetapi dalam sekejap , ketika putri raja tersebut berlari agak jauh , si Pelari sudah hilang dari pandangan sebab beliau berlari secepat angin. Dalam sekejap beliau telah mencapai anak sungai , mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang , beliau mulai merasa kelelahan , dan berhenti , menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas , beliau mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu , putri raja , yang bergotong-royong juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa , telah mencapai anak sungai juga , mengisi kendinya dengan air , dan mempercepat larinya pulang kembali , ketika itu beliau melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.

"Hari ini yaitu milik saya ," beliau berkata dengan bangga , dan beliau mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil , dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.

"Kita tidak boleh kalah dari putri raja ," katanya , dan beliau mengisi senapannya , mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri , dan melihat banya kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke kawasan pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya , beliau berlari kembali ke anak sungai , mengisi kendinya kembali dengan air , dan untuk itu , beliau berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.

"Lihat ," katanya; "ini yaitu pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari"

Raja menjadi jengkel , dan putrinya lebih jengkel lagi , sebab beliau telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat; adn mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.

"Saya punya rencana ," jawab sang Raja; "jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya , mengundang mereka untuk makan dan minum; dan sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan , yang lantainya terbuat dari besi , pintunya juga terbuat dari besi , dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi; dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"Sekarang , masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin ," kata sang Raja.

Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk , beliau mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak , dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Raja , dan keenam orang didalamnya mulai mencicipi ruangan menjadi panas , tapi berpikir bahwa itu sebab makanan yang mereka makan , seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas , mreka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat , mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.

"Bagaimanapun juga , beliau tidak akan pernah berhasil ," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa angin kencang salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."

Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala , dan secepat itu angin kencang salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu , Raya menyangka bahwa mereka telah terbunuh sebab panas , dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut , dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar , mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri sebab ruangan tersebut terlalu masbodoh dan menjadikan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan , raja mendatangi tukang masak , mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.

"Ruangan tersebut cukup panas; kau mungkin bisa melihatnya sendiri ," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya , dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana gres , jadi beliau memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya ,

"Jika kau tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas , kau boleh mengambilnya sebanyak yang kau mau."

"Baiklah , tuanku Raja ," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku , dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja oke bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua ahad untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap , orang berpengaruh (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.

"Siapa orang yang membawa buntalan sdbesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja , ketakutan sebab memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang berpengaruh , hanya di panggulnya di bahu dengan satu tangan.

"Mengapa tidak kau bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Makara raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya , dan walaupun begitu , kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
"Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian alhasil 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
"Kelihatannya belum terlalu penuh ," katanya , "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
"Saya harus mengakhirinya sekarang ," katanya; "Jika tidak penuh , sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang berpengaruh itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.

Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang , beliau merasa sangat marah , dan beliau memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.

Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka , memerintahkan keenam orang itu untuk mengalah dan menjadi tawanan , dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.

"Menjadi tawanan , katamu?" kata orang yang bisa meniup , "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bantu-membantu ," dan menutup satu lubang hidungnya , dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya , pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani , memohon biar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan biar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka , akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut , berkata ,

"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Makara keenam orang itu membawa pulang harta mereka , membagi-bagikannya dan hidup senang hingga ajal mereka.

 Dan mereka membagi harta yang mereka miliki kepada para rakyat miskin yang membutuhkan. Dan mereka di kenang sebagai seorang pahlawan. 

Sumber: Ebook Kisah 1001 Dongeng

Dongeng Anak Lelaki dan Seruling Ajaib| Dongeng Anak Terbaru

Dongeng Anak Lelaki dan Seruling Ajaib - Hay sahabat dongeng terbaru , kali ini blog dongeng terbaru akan mengembangkan sebuah kisah klasik dari mancanegara. Bahkan kisah ini juga sudah di angkat ke filem kartun , tapi dulu waktu saya masih kecil pernah menontonya. Meski sudah agak lupa-lupa ingat , tapi akan coba dongeng terbaru ceritakan kembali pada sahabat dongeng semua. Selamat membaca.. :)

Dahulu kala , ada sebuah negeri kecil yang sangat makmur di kaki sebuah bukit. Hamelyn , itulah nama negerinya. Suasana negeri yang kaya akan kekayaan alam nan subur , membuat rakyat negeri itu hidup dalam kemakmuran dan bergelimang harta. Hingga negeri tersebut di kenal sebagai negeri terkaya di banding negeri-negeri lain yang menjadi tetangganya.

Walau negeri Hamelyn sangat kaya dan makmur , tapi ada salah satu kebiasaan buruk para penduduk negeri itu. Mereka suka sekali membuang sampah sembarangan , sehingga banyak sampah yang awut-awutan dan menumpuk di sembarang tempat. Akibatnya , hal tersebut mengakibatkan tikus-tikus berkembang biak. Semakin lama , populasi tikus semakin tak terkendali. Sehingga tikus-tikus banyak berkeliaran di rumah-rumah penduduk dengan bebas. Bahkan kabar wacana wabah tikus yang menimpa negeri Hamelyn ini hingga ke negeri-negeri tetangga.

Tentu saja hal tersebut mengakibatkan para penduduk negeri hamelyn yang terkenal kaya itu menjadi malu , termasuk sang raja. Berbagai cara telah di tempuh untuk mengendalikan wabah tikus itu. Mulai dari memelihara kucing , hingga memasang perangkap tikus. Tapi jumlah populasi tikus yang terlanjur meluas , membuat perjuangan tersebut sia-sia. Nihil tanpa hasil.

Hal tersebut membuat raja dan penduduk negeri Hamelyn hampir putus asa. Hingga pada ahirnya sang raja dan para penduduk bermusyawarah. Mereka sepakat untuk mengadakan sebuah sayembara. Siapa yang bisa mengusir tikus dari negeri mereka , maka tiap penduduk akan memperlihatkan dua keping uang emas. Dan sang raja sendiri akan memberi satu kantong uang emas. Dan sayembara itupun mulai di sebar luaskan. Bahkan hingga ke wilayah negeri-negeri tetangga.

Banyak sekali orang-orang yang mengikuti sayembara tersebut sebab tergiur dengan hadiah yang di janjikan. Mereka menggunakan banyak sekali cara dan bermacam-macam alat jebakan demi mengusir para tikus dari negeri Hamelyn. Tapi hasil yang di dapat tak sesuai harapan. Semua cara dan metode yang mereka gunakan gagal. Hingga hal tersebut membuat raja dan rakyat Hamelyn hampir kehilangan harapan.

Hingga pada suatu hari , datanglah seorang cowok dengan pakaian lusuh menghadap raja. Dia berkata , bahwa ia sanggup mengusir tikus-tikus itu dari negeri Hamelyn. Sang raja dan rakyat Hamelyn memandang ragu pada cowok miskin itu. Mana mungkin cowok yang miskin dan lusuh itu bisa menghalau para tikus? Sedangkan para andal pemburu saja gagal. Begitulah fikir mereka.

Tapi sebab tak ada pilihan lain , ahirnya sang raja dan rakyat Hamelyn memberi kesempatan pada cowok itu. Lalu cowok itupun pamit untuk mulai melaksanakan tugasnya.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah seruling lalu meniupnya. Alunan seruling yang terdengar begitu mengagumkan hingga membuat siapapun yang mendengarnya pasti terlena. Ajaibnya , para tikus datang dari banyak sekali kawasan dan berkumpul mengelilingi anak lelaki itu sebab mendengar alunan seruling yang di tiupnya.

Ternyata seruling yang di bawa anak lelaki itu sungguh ajaib. Lalu cowok yang masih sangat belia itu berjalan perlahan. Di ikuti para tikus yang berjalan berbaris di belakangnya. Tikus-tikus itu seakan terhipnotis oleh irama seruling yang di mainkan oleh anak lelaki itu.

Hingga sampailah anak itu di sebuah sungai yang mengalir agak deras. Sambil terus memainkan serulingnya , anak itu menceburkan dirinya ke dalam sungai. Dan anehnya para tikus itu tetap mengikutinya. Karena tak bisa berenang , ahirnya semua tikus-tikus itu hanyut terbawa arus sungai.

Setelah semua tikus hanyut , peran anak lelaki itu tamat dan kembali menemui raja Hamelyn. Dia berniat menagih kesepakatan wacana upah yang akan di dapatnya dalam sayembara. Tapi ternyata , raja dan rakyat Hamelyn sepakat untuk mengingkari janji. Mereka tak mau membayar anak lelaki itu dengan alasan anak itu tak melaksanakan apa-apa. Dia hanya meniup seruling saja yang banyak orang juga yang dapat melakukanya.

Mengetahui sang raja dan rakyat Hamelyn telah mengingkari janjinya , si anak lelaki itu menjadi sangat marah. Dia sakit hati sebab merasa di tipu dan semua jerih payahnya tak di anggap.

Dan ahirnya , anak lelaki itu kembali meniup seruling ajaibnya. Dan keajaiban kembali terjadi. Para belum dewasa di seluruh negeri Hamelyn datang dan berkumpul mengelilingi anak itu. Lagu yang riang seakan mensugesti belum dewasa negeri Hamelyn untuk mengikuti kemana musik nan merdu itu terdengar. Dan anak lelaki itu kemudian berjalan keluar dari negeri Hamelyn di ikuti oleh para belum dewasa Hamelyn di belakangnya. Tentu saja hal tersebut membuat para orang bau tanah mereka panik ketika mengetahui anaknya tak lagi ada di kamar mereka. Tak terkecuali sang raja , sebab sang pangeran juga ikut terhipnotis oleh irama merdu seruling asing itu.

Ahirnya , sang raja dan rakyatnya pergi mengejar anak lelaki berseruling asing itu. Dan mereka berhasil mengejar hingga perbatasan. Sang raja dan rakyat Hamelyn memohon semoga anak lelaki itu mau mengembalikan belum dewasa mereka. Mereka akan menyerahkan hadiah yang di minta anak lelaki itu , bahkan akan di tambah 3x lipat.

Tapi anak lelaki itu tak menghiraukan. Dia tetap berjalan dan di ikuti oleh belum dewasa Hamelyn di belakangnya. Rasa sakit hatinya sebab penghianatan raja dan rakyat Hamelyn sungguh dalam. Konon , anak itu terus berjalan hingga masuk pada sebuah goa. Dan ketika semua belum dewasa telah masuk ke dalam goa , tiba-tiba goa itu hilang begitu saja tanpa bekas.

Tentu saja hal tersebut membuat seluruh rakyat Hamelyn sangat bersedih. Duka cita menyelimuti negeri yang kaya itu. Para rakyat Hamelyn sangat menyesal atas perbuatan mereka. Karena perbuatan mereka yang mengingkari kesepakatan , membuat belum dewasa mereka harus menanggung akhir dari kesalahan mereka. Tapi , sesal kemudian tiada berguna. Hingga mulai hari itu seluruh rakyat Hamelyn bertekad , mereka tak akan pernah lagi mengingkari janji. Dan hal tersebut masih di pegang teguh hingga ketika ini..

Nah sahabat dongeng semua , dari kisah di atas ada pesan tersirat yang dapat kita petik. Bahwa mengingkari kesepakatan bukanlah hal yang terpuji. Pasti akan ada akhir buruk di kemudian hari. Dan ketika itu telah terjadi , maka menyesal pun tiada guna.

Jangan lupa untuk berkunjung lagi ya. Nantikan dongeng-dongeng menarik lainya. Sampai jumpa pada dongeng berikutnya , bey.. ^_^

TAMAT

Story by: Muhammad Rifa'i

KISAH si SERAKAH dan BATU AJAIB| Dongeng Anak Terbaru

dongeng harta karun
Koin Emas
Kisahsi Serakah dan Batu Ajaib – Pada zaman dahulu kala , ada sepasang suami isteri yang hidup miskin. Mereka tinggal di sebuah desa dan bekerja serabutan. Kadang mencari kayu bakar untuk di jual , kadang menjadi buruh tani , atau di sewa oleh tetangga mereka untuk suatu pekerkjaan. Sebenarnya keluarga itu tak sendiri , alasannya ialah si lelaki memiliki seorang kakak yang sangat kaya. Paling kaya di kampung itu.

Tapi kakak itu ialah orang yang sangat pelit , serakah , dan sombong. Meski saudaranya hidup susah dan kelaparan , beliau tak pernah perduli. Baginya yang terpenting ialah memiliki harta melimpah dan bergelimang kemewahan. Tapi si adik sadar betul akan sifat kakaknya itu. Oleh alasannya ialah itu , sesulit apapun kehidupanya.. beliau tak pernah mengeluh dan meminta derma pada kakaknya. Karena beliau tahu , pasti kakaknya akan menolak menunjukkan bantuan.

Pada suatu hari si suami dari keluarga miskin itu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar sebagaimana hari-hari biasanya. Tak lupa beliau membawa mantel hujan kesayanganya untuk jaga-jaga kalau turun hujan. Meski hari sangat terik , mantel hujan itu tetap di bawanya. Sebuah mantel sederhana yang di rangkai dari daun ilalang kering yang di rajut dengan tali.

Sebagaimana kebiasaanya pula , beliau selalu menaruh mantel hujanya di atas sebuah watu besar di erat tempatnya mencari kayu bakar , dan beliau sendiri memunguti ranting dan kayu di sekitar tempat itu. Setelah di rasa kayu yang di dapatnya cukup , beliau kemudian mengikat kayu itu dengan tali kemudian memanggulnya di bahu. Hari sudah beranjak sore , alasannya ialah lelah.. si suami tersebut duduk istirahat di erat watu yang beliau gunakan untuk menaruh mantelnya.

Tapi dikala beliau sedang asik bertistirahat menikmati angin sepoi-sepoi , tiba-tiba beliau mendengar  suara..
“Hai anak muda.. tolong angkat mantel mu dari atas badan ku , gue merasa sangat kepanasan. Tipa hari kau menaruh mantel di atas ku. Kau tak tahu bagaimana rasanya panas dan lembab yang ku rasa. Ambil segera mantel mu , maka gue akan member mu hadiah..”. kata bunyi itu.
Tentu saja si miskin itu menjadi kaget dan ketakutan. Karena beliau mendengar bunyi , tapi tak satupun orang beliau temui di tempat itu.
“Si.. siapakah yang bicara pada ku? Apakah hantu?”. Kata si miskin tergagap.

“Hahaha.. kau ini memang cowok yang lucu. Aku di sini , tertutup mantel hujan mu. Aku bukan hantu , gue adalah  batu yang ada di bawahnya”. Jawab watu asing itu.
“Dengan badan gemetar alasannya ialah takut , si miskin mengambil mantelnya dari watu asing itu.
“Ma.. ma’af.. gue tak bermaksud mengusik ketenangan mu. Aku ke sini hanya untuk bekerja mencari kayu bakar..”. kata si miskin masih ketakutan.
“Sudahlah.. kau tak usah takut pada ku. Aku tak akan menyakiti mu. Aku ialah watu ajaib. Sudah ratusan tahun lamanya gue tinggal di sini. Karena kemampuan ku yang asing , banyak orang mencari eksistensi ku. Aku tahu kau ialah cowok yang rajin dan baik hati. Kamu sangat tekun , gue selalu memperhatikan mu setiap hari. Oleh alasannya ialah itu , gue akan member mu hadiah menyerupai yang ku janjikan..”. kata watu asing itu.

“Hadiah? Hadiah apa?”. Tanya si miskin mulai terbiasa dan tak takut lagi.
“Besok kau datanglah lagi ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Maka besok kau akan tahu sendiri hadiah apa yang gue berikan”. Kata watu asing itu.
Si miskin itu hanya bisa menuruti kemauan watu ajaib. Dia ingin menolak proposal itu , tapi takut kalau penolakanya akan membuat watu itu marah. Ahirnya , si miskin itupun pulang ke rumahnya. Lalu pada keesokan harinya beliau kembali ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta.

“Bukalah verbal karung mu lebar-lebar , lalu dekatkan kea rah ku”. Kata watu asing itu.
Si miskin pun menurutinya. Tak di sangka , watu itu kemudian membuka menyerupai sebuah mulut. Dan dari verbal watu itu keluar banyak sekali uang emas yang hamper memenuhi isi karung itu.
“Apakah ini sudah cukup bagi mu?”. Tanya watu ajaib.
“Wah.. sepertinya ini lebih dari cukup. Apa pemberian mu ini tak terlalu banyak?”. Kata si miskin dengan polosnya.
“Hahaha.. kau ini memang cowok yang baik. Kebanyakan orang akan bilang kalau apa yang ku berikan sekarang masih kurang”. Kata watu asing itu.
“Sudah.. sudah.. terimakasih watu asing , ini sudah lebih dari cukup untuk ku’. Kata si miskin kemudian berpamitan untuk pulang.

Setelah kejadian itu , si adik yang miskin itu kini berkembang menjadi kaya raya. Memiliki rumah yang cukup megah dan harta yang melimpah. Tapi semua itu ternyata tak membuatnya berubah. Dia tetap rendah hati dan baik hati pada sesama. Melihat adiknya yang tiba-tiba kaya mendadak , si kakak yang pelit dan serakah pun menjadi penasaran. Dia lalu mengunjungi adiknya itu dan bertanya bagaimana beliau menerima harta sebanyak itu. Dengan lugunya si adik pun menjelaskan dari mana beliau mendapat harta itu pada kakaknya.

Setelah mendapat isu dari adiknya , paginya si kakak pergi ke hutan. Dia akal-akalan mencari kayu bakar , dan tak lupa beliau juga membawa mantel hujan menyerupai yang di lakukan adiknya. Dia pun melaksanakan hal yang sama menyerupai adiknya , tapi bedanya beliau memiliki niat licik yang terselubung. Sebentar-sebentar beliau mendekati watu itu sambil berkata.. “Wah.. udaranya begitu panas.. gue jadi merasa kepanasan”. Katanya. Berulang kali beliau mengulangi hal serupa , tapi watu itu tetap membisu tak ada respon sama sekali.

Lama-lama si kakak yang serakah itu menjadi jengkel.. “Aku akan memaksa mu untuk bicara”. Kata si kakak serakah dalam hati.
Dia lalu mengumpulkan beberapa watu kecil dan menumpuknya di atas watu asing itu. “Wah.. apa masih kurang panasdan kurang berat. Ayo bicara..!! kalau tidak , akan ku carikan watu yang lebih besar”. Katanya mengancam.
Ahirnya alasannya ialah tak tahan , watu asing itupun bicara..
“Baiklah.. baiklah.. singkirkan semua watu dan mantel hujan mu dari atas badan ku , maka gue akan member mu hadiah. Besok , datanglah kau ke sini dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta’’. Kata  batu ajaib.

Mendengar balasan dari watu asing itu , si kakak yang serakah itupun menjadi sangat senang. Dia lalu menyingkirkan semua watu dan mentel hujanya lalu pulang ke rumahnya. Pada keesokan harinya , beliau kembali lagi ke tempat itu dengan membawa karung yang panjangnya tiga hasta. Sebagaimana adiknya dulu , karungnya pun di isi dengan banyak koin emas oleh watu asing itu , bahkan hamper penuh.
“Apakah sudah cukup?” Tanya watu ajaib.
“Belum.. masih kurang , ayo tambahkan lagi..”. kata si kakak yang serakah itu.

Lalu watu asing itupun kembali mengeluarkan koin emas. Bahkan hingga karunng itu penuh..
“Apakah sudah cukup sekarang?”. Tanya watu ajaib.
“Masih belum.. ayo tambah lagi”. Jawab si kakak serakah.
Batu ajib pun kemudian kembali mengeluarkan koin emas dari mulutnya , kali ini hingga karung itu sudah sangat penuh dan hamper robek..
“Apakah sekarang sudah cukup?”. Tanya watu asing lagi.
“Masih belum.. ayo tambahkan lagi..”. kata si serakah itu.

“aku sudah tak memiliki koin emas lagi. Semua sudah habis.. “. Jawab watu ajaib.
“Ah.. tidak mungkin..!! kau pasti bohong. Aku akan mengambilnya sendiri..”. kata si kakak serakah sambil memasukan tanganya ke verbal watu ajaib.
Tapi dikala tanganya masuk ke dalam verbal watu asing , verbal watu itu tertutup dengan rapat. Sehingga tanganya terjebak tak bisa di keluarkan. Sudah banyak sekali daya upaya beliau lakukan untuk melepaskan diri , tapi beliau tetap tak bisa melepaskanya.

Ahirnya.. kakak yang serakah itupun terjebak di tempat itu. Kehujanan , kepanasan , dan tiap hari isterinya dating untuk mengantar makanan untuknya. Hal tersebut berjalan hingga tiga tahun. Semua hartanya habis , alasannya ialah tiap hari di gunakan untuk menghidupi dirinya dan keluarganya tanpa ada kepala keluarga yang bekerja.  
“Pak.. kita sudah tak memiliki apa-apa lagi untuk di jual. Aku tak tahu hingga kapan persediaan makanan kita cukup”. Kata isterinya pada suatu hari.
Mendengar perkataan isterinya.. si suami menjadi sangat sedih. Dia merasa kasihan pad keluarga yang selama ini merawatnya , lebih-lebih isterinya yang sangat setia.
“Aku minta ma’af bu.. ini semua alasannya ialah salah ku. Jika saja dulu gue tak terlalu serakah , pasti keadaan kita tak akan begini. Kalau begitu , lebih baik gue memotong tangan ku ini dari pada membuat mu susah terus..”. kata si suami.

Tiba-tiba dikala si suami yang serakah itu menyatakan penyesalanya , verbal watu asing itupun terbuka. Dan dengan segera si suami serakah yang telah sadar itu menarik tanganya. Kemudioan beliau dan isterinya lari meninggalkan tempat itu tanpa berani kembali lagi. Hikmah dari kisah ini tentu sudah dapat kita fahami. Bahwa keserakahan ialah sifat yang dapat merugikan diri sendiri di kemudian hari. Dan penyesalan selalu datang terlambat..

THE END

Story By: Muhammad Rifai