Home » , , , » Kisah harimau, kancil dan buaya

Kisah harimau, kancil dan buaya


Kisah harimau, kancil dan buaya. Suatu pagi di Hutan Surga Satwa. Musim kemarau telah berganti musim penghujan. Hutan Surga Satwa menghijau kembali. Kancil terduduk malas di peraduannya, memandang hamparan rumput hijau nan segar di hadapannya. “Akhirnya berakhir juga kemarau, tak ada lagi rasa risau…” Kancil beranjak dari tempat duduknya. “Krauk, Krauk!!! segar sekali rumput ini”… Namun tak lama berselang hidung Kancil mencium sesuatu.

“Waduh…. Aku mencium bau pemangsa mendekat, harus waspada ini… ” Kancil menghentikan aktivitasnya dan mengangkat kepalanya untuk melihat lokasi pemangsa itu bersembunyi.

“Wah, di sana rupanya dia…. dikiranya aku tak melihatnya… xi,xi… dasar Harimau tua…. Huhh, mengganggu saja, memangnya Dia sanggup mengejarku?” Kancil pura-pura tidak melihat kehadiran Harimau itu dan melanjutkan kembali aktivitas makannya. Dan benar saja, tak lama berselang, Harimau itu melompat dari tempat persembunyiannya untuk memangsa kancil. “GgggggrrrrhhhHHHhh!!! Hai Kancil… Kematianmu akan segera tiba… Ha..ha… Kau akan kumangsa!!!”

“Hua..ha… Kau kira aku takut Harimau tua.. Aku tidak takut kepadamu… Coba saja kalau berani.. Weeeek!!! ” Kancil berkacak pinggang dan menghardik balik Harimau.

“Kurang ajar!!! Matilah kau!!!” Harimau segera mengambil kuda-kuda untuk menerkam Kancil, dan “WuuuuuttTtttHhhh!!!” Harimau itu melompat, namun Karen akurang hati-hati Harimau itu terpeleset kulit pisang yang dibuang oleh monyet sehingga….

“Srrrrrrrreetttttt………. BrrruuuugggGGGhhhhh!!!!!” Harimau itu jatuh ngangkang di depan Kancil berdiri.

“Hua…ha….. Dasar Harimau katrok… Hua…ha… Sukurin.. Sukurin!! Weeekkk!!! Hua..ha… ” Kancil tertawa terbahak bahak. Kancil berkacak pinggang dan berjingkrak-jingkrak mengejek Harimau yang menahan malu dan rasa sakit karena jatuh.

“Kurang ajar kau Kancil… Matilah kau!!!” Harimau segera bangun dan hendak menerkam Kancil, namun Kancil tak kalah sigap, Kancil mengeluarkan jurus lari sejuta bayangan andalannya, sehingga dalam hitungan detik, kancil telah jauh meninggalkan Harimau lapar itu.

“Kurang ajar!!! Jangan lari kau Kancil… Kau akan ku tangkap!” Harimau mengejar si Kancil…

“Kejar aku kalau kau sanggup Harimau Tua jelek!!… Ha..ha..!!” Kancil semakin jauh meninggalkan Harimau yang mengejarnya.

Kancil terus berlari meninggalkan Harimau. Hingga Akhirnya laju larinya terhenti di pinggir sungai yang membelah hutan Surga Satwa. Kedua mata kancil terbelalak, mulutnya monyong seketika.

“Waaahhhh, aku lupa kalau sekarang hujan terus turun, kemarin-kemarin sungai ini kering kerontang, sekarang penuh dengan air, Waduhhh… bagaimana ini??” Kancil mondar-mandir gelisah. Tiba-tiba

“GGGgrrrrggghhh!!!, Wah kebetulan aku sedang lapar ada makanan datang… Hua…ha….” Sebuah benda mirip kayu, tiba-tiba muncul dari dalam sungai, Seekor buaya besar penghuni sungai itu muncul mendekati kancil. Kancil sampai melompat kaget melihat penampakan aneh tersebut.

Kancil semakin bingung, di belakang harimau pasti akan segera tiba, dan sekarang ditambah dengan kehadiran buaya yang tidak mudah ditaklukan. Kancil mencoba tenang, berpikir keras.

“Ehem.. ehem… Wahai Buaya Buruk rupa, buruk muka dan tak ada baiknya…. Ketahuilah bahwa kedatanganku kesini memegang amanah Dewa Penguasa Hutan ini…. Apa berani kau menentang titahnya? Hmmmh….”. Buaya tersentak kaget, amarahnya memuncak mendapat hinaan Kancil, namun begitu mendengar Dewa Penguasa Hutan, buaya memilih menahan amarahnya.

“Hai, Buaya Jelek.. kenapa diam? Takut ya?? Ha…ha… Makanya jangan macam-macam denganku, sekali Aku tunjuk nyawamu akan hilang…. Mau aku tunjuk??!!!”

“Ehhh..Eh… Ampun Kancil, Aku tidak berani…. Aku tidak berani, jangan tunjuk aku Kancil ya…? Anak-anakku masih kecil…” Ujar Buaya memelas.

“HHmmmmhhh… Baiklah, kali ini Kau kuampuni. Tapi awas kalau coba-coba lagi, Kau tak akan kuampuni. Sekarang, laksanakan perintahku!!! waktuku tidak banyak, segera kumpulkan kawan-kawanmu dan berbaris rapi di sisi sungai ini, dari ujung sini, sampai pinggir sungai sana… Aku harus menghitung jumlah kalian sebagai bahan laporan kepada Dewa Penguasa Hutan ini, kalian akan mendapat hadiah…. Cepat!!!”

“BBBbbaa..Baik Kancil, segera aku laksanakan titahmu…. ” Buaya segera meninggalkan Kancil dan memanggil seluruh kawan-kawannya untuk berbaris di sungai yang sedang meluap itu. Tak berapa lama kemudian, seluruh buaya penghuni sungai itu telah berbaris rapi memenuhi sungai itu, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang kurus ada juga yang gemuk. Kancil tersenyum geli.

“Kancil, semua buaya telah siap…” Ujar buaya itu tergopoh-gopoh

Kancil berkacak pinggang.

“Dasar buaya bodoh, bisa juga kalian aku kerjain… hi..hi…”

“Bagus, Bagus!! Kau memang bisa aku andalkan, tetap di posisi kalian saat aku menghitung ya!!!, jangan ada yang berani macam-macam atau aku akan mencabut nyawa kalian dengan telunjuk saktiku” Hardik Kancil pada kawanan buaya yang telah berbaris rapi tersebut. Para buaya tersebut hanya terdiam dan takut, karena mengira Kancil memang diutus Dewa Penguasa Hutan Surga Satwa tersebut.

Kancil mulai menyeberangi sungai dengan menginjak-injak tubuh para buaya yang telah berbaris rapi di atas sungai tersebut. Bahkan sesekali Kancil menjitak kepala beberapa buaya itu. “Satu, dua, tiga, empat…!!” Kancil terus menghitung buaya yang berbaris rapi di atas sungai itu hingga sampai ke seberang.

“Wahai, dengarkanlah para buaya bodoh!!!. Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian, sesungguhnya aku telah menipu kalian, lihatlah di seberang sungai itu, ada Harimau yang sedang mengejarku, Aku menipu kalian agar aku bisa menyeberangi sungai ini, Hua,..ha…. Terima kasih ya para buaya Bodoh… Hua..ha…” Kancil tertawa puas dan meninggalkan kawanan buaya yang merasa geram karena ditipu oleh Kancil. Di seberang sungai Harimau menggeram kencang, Harimau merasa kesal melihat buruannya bisa melarikan diri. Untuk kesekian kalinya Kancil telah berhasil selamat dari ancaman bahaya.

sumber dari kompasiana

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentar yang baik ya sahabatku semua :)